About Timing Myopia - IDXchart

About Timing Myopia

Semua trader dan investor, baik yang masih pemula maupun yang sudah sempat trading lama, pasti pernah mengalami kejadian berikut ini.

Ketika kita melihat market, ada perasaan bingung.

Bingung kenapa?

Karena kita nggak tahu ini market-nya lagi mau kemana.

Kelihatannya sih, harganya naik. Tapi ini naiknya mau lanjut terus, atau malah harganya sudah terlalu tinggi?

Kalau memang naiknya masih mau lanjut, lanjutnya sampai kemana? Mau ke harga berapa?

Atau kalau sudah ketinggian, apakah ini berarti koreksi sudah dekat? Atau malah bukan koreksi lagi, melainkan sudah mau balik arah (reversal)?

Sehingga kalau pun marketnya naik, kita tetap tidak tahu. Ini naik untuk kita beli, untuk kita tambah posisi? Atau malah naik untuk kita jualan, untuk waktunya kita Profit Taking?

Begitu juga kalau market-nya turun. Kita pun bertanya-tanya: Ini turun sekedar koreksi biasa? Atau justru turunnya akan berlanjut terus?

Kalau turunnya memang koreksi, koreksinya sampai ke harga berapa? Mantul dan rebound-nya nanti dimana? Di harga berapa?

Tapi kalau memang turunnya masih akan berlanjut, apakah berarti kita lebih baik Cut Loss dulu? Supaya nanti bisa buyback di harga bawah? Atau harusnya kita tahan dulu sebentar lagi? Atau bagaimana?

Jadi ini market turun untuk kita beli? Untuk kita Average Down? Untuk kita Hold sebentar lagi? Atau justru lebih baik kita jual dulu?

Market naik, kita bingung!

Market turun, kita bingung juga!

Harga sahamnya naik, kita pusing!

Harga sahamnya turun, kita pusing lagi!

Kalau kita belum masuk, belum sempat beli, kita bingung kapan saat yang tepat untuk masuk. Kapan saat yang tepat untuk beli?

Tapi nanti begitu udah masuk, ketika kita udah beli, kita bingung juga. Kapan mau keluar? Kapan saat yang tepat untuk jual?

Kejadian-kejadian seperti ini semua trader/investor pasti pernah mengalami. Atau kalau ada yang belum pernah, pasti suatu saat akan mengalami (tinggal tunggu waktu saja).

So, pertanyaannya…

Kenapa bisa begitu?

Bagaimana supaya itu tidak terjadi lagi?

Dan yang paling penting… Apa yang harus kita lakukan?

Btw, Sebelum Kita Lanjutkan...

Ini termasuk artikel yang sangat panjang. Tidak kurang dari 8700++ kata (sekitar 60 halaman A4). Jika Anda kebetulan sedang sibuk, atau tidak punya banyak waktu, silakan download saja PDF-nya dulu...

 

Download PDF, GRATIS!

 

About Timing Myopia

Kejadian yang barusan kita ceritakan diatas, adalah sebuah fenomena yang saya sebut Timing Myopia.

Yaitu kejadian dimana kita merasa bingung melihat market, kita tidak tahu dan tidak punya gambaran sama sekali tentang kemana arah market. Yang disebabkan oleh jarak pandang kita yang terlalu pendek.

Persis seperti orang rabun jauh!

(Myopia adalah istilah medis untuk menyebut rabun jauh)

Orang yang mengalami rabun jauh, adalah orang yang hanya dapat melihat jelas benda-benda yang jaraknya dekat. Namun tidak mampu melihat jelas benda-benda yang jaraknya jauh.

Trader yang mengalami Timing Myopia, adalah trader rabun jauh. Yang hanya mampu melihat gerakan harga yang naik turun. Tapi tidak mampu melihat, ujung-ujungnya market mau kemana. Dan sebenarnya harga mau ke berapa.

Dan karena trader seperti itu tidak punya gambaran tentang bagaimana harga bergerak, maka wajar jika masih sering bingung. Wajar pula jika trader seperti itu tidak tahu, kapan naik untuk beli, kapan naik untuk jual. Kapan turun untuk beli, atau kapan turun untuk jual.

Untuk itu, jangan jadi trader rabun jauh!

Namun caranya bagaimana?

Apa yang harus dilakukan, untuk memastikan kita tidak menjadi trader rabun jauh?

Apa yang harus dilakukan, supaya kita tidak lagi bingung dalam melihat arah market?

Dan supaya kita tahu: Kapan waktunya beli, dan kapan waktunya jual?

 

Coba Kita Bayangkan…

Coba bayangkan, saat ini kita sedang berada di dalam sebuah mobil. Kita duduk di kursi penumpang. Dan di depan kita, ada sopir yang sedang mengemudi.

Bayangkan mobil ini sedang jalan menuju ke suatu tempat, yang kita tidak tahu.

Dan karena kita tidak tahu, dan tidak punya gambaran sama sekali, tentang kita akan dibawa kemana, maka wajar juga kalau kita bingung sepanjang perjalanan.

Kita memperhatikan, si sopir kadang-kadang belok kanan. Kadang-kadang belok kiri. Tapi kadang-kadang lurus saja.

Kanan… Kiri… Kanan lagi… Kiri lagi… Lurus terus… Kiri lagi…

Kita tidak pernah tahu, kapan mobil ini akan belok ke kanan, dan kapan mobil ini akan belok ke kiri. Bagi kita setiap belokan seolah acak, random dan tidak jelas. Karena kita memang tidak tahu mau dibawa kemana.

 

Sekarang Coba Bayangkan Lagi…

Kita masih berada di mobil yang sama. Masih duduk di kursi penumpang. Di depan kita ada sopir yang sama. Dan kita sedang dibawa menuju ke suatu tempat.

Namun bedanya, sekarang kita tahu kita mau dibawa kemana. Dan kita punya peta atau GPS, yang menunjukkan lokasi kita, dan lokasi tempat tujuan.

Dengan pengetahuan dan petunjuk-petunjuk jalan, sekarang pandangan kita pasti berubah!

Sekarang kita tahu kapan kira-kira si sopir akan belok. Kapan saatnya si sopir akan lurus. Kapan dia akan ke kiri, dan kapan dia akan ke kanan.

Kita tahu semuanya, karena kita tahu mobil ini sedang menuju kemana!

 

Trader dan Investor adalah “Penumpang”…

Nah, sebagai trader dan investor, kondisi kita ebenarnya tidak jauh berbeda dari perumpamaan di atas.

Sebagai trader dan investor, kita tidak dapat mengendalikan market. Kita hanyalah “penumpang” yang hanya dapat mengikuti kemana market menuju.

Kalau kita tidak tahu market akan kemana, maka wajar kalau kita bingung. Sehari naik, sehari turun, sehari naik lagi, lalu besoknya turun lagi.

Wajar juga kalau kita sering salah menebak harga, dan salah mengambil posisi.

Kita jadi sering galau. Tidak tahu kapan saatnya beli, kapan saatnya jual. Karena kita tidak punya gambaran: ini marketnya mau kemana? Naik sampai setinggi apa? Turun sampai sedalam apa?

Seandainya saja kita tahu, atau minimal punya gambaran, kira-kira marketnya mau kemana, tentu semuanya jadi berbeda. Kita dapat bersiap-siap dan melakukan antisipasi.

Kalau marketnya turun, kita tahu harus bagaimana. Kalau maketnya naik, kita juga tahu harus ngapain. Karena kita tahu, meskipun kelihatannya market naik turun dan tidak menentu, namun arahnya tetap terlihat.

Nah, sekarang pertanyaannya: Bagaimana cara melihat arah market?

Bagaimana cara melihat “peta” market? Supaya kita tahu kapan saatnya jual, dan kapan saatnya beli.

Untuk itu, kita harus ingat bahwa…

 

Market Movement is NOT Random!

Again, market movemnet is not random!

Harga tidak bergerak secara acak, meskipun sekilas memang terlihat seperti itu. Pergerakan naik turunnya harga, bukan seperti lemparan koin yang hasilnya acak.

Gerakan harga sebenarnya berpola, dan harga bergerak dalam sebuah trend.

Kalau trend-nya naik, maka harga akan lebih banyak naik daripada turun. Sebaliknya, jika trend-nya turun, maka harga akan lebih banyak turun daripada naik.

Dan sekali lagi, ini TIDAK random!

 

There are 3 Kinds of Trend…

Berdasarkan pola-polanya, ada 3 jenis trend pergerakan harga.

(Kita sedang membahas 3 jenis trend, bukan 3 arah trend. Di tulisan berikutnya, kita akan bahas tentang 3 arah trend ini. Namun seebelum itu, kita bahas dulu 3 jenis trend ini.)

Apa saja ketiga jenis trend tersebut?

Pertama, Trend Jangka Panjang. Atau yang disebut Primary Trend.

Kedua, Trend Jangka Menengah. Atau yang disebut juga Secondary Trend. Dan terkadang ada yang menyebutnya Intermediate Trend.

Ketiga, Trend Jangka Pendek. Atau yang disebut Trend Minor.

Pemahaman tentang ketiga jenis trend di atas sangat penting sekali, kalau kita tidak mau menjadi Trader Rabun Jauh.

Sekedar info saja, 90% trader dan investor di Indonesia, terutama mereka yang masih pemula, hanya dapat melihat sejauh Trend Minor.

Kebanyakan trader tidak mengerti cara membaca trend jangka menengah, apa lagi membaca trend jangka panjang. Mereka benar-benar terlalu fokus pada Trend Minor.

Padahal Trend Minor adalah trend jangka pendek. Trend yang paling kecil, yang paling menyita waktu dan tenaga untuk di-trading-kan, tapi yang profitnya sedikit-sedikit. Seolah-olah kita membanting tulang demi uang recehan.

 

Eh… Sedikit-sedikit Tapi Lama-lama Bisa Jadi Bukit, Loh!

Well, that’s absolutely right! 🙂

Sedikit-sedikit memang bisa jadi bukit. Itu benar!

Bahkan ada satu strategi trading yang disebut Scalp Trading. Sebuah strategi trading yang memang khusus mengincar profit “recehan”. Yang pelakunya sengaja fokus untuk memanfaatkan momentum di Trend Minor.

Dan sekali lagi, ini adalah sebuah strategi yang sangat feasible, dan memang bisa berhasil.

Namun, yang tidak banyak diketahui orang adalah, ada satu rahasia yang hanya diketahui oleh para Scalper profesional (para trader yang melakukan Scalping).

Sebuah kunci rahasia yang membuat mereka bisa profit konsisten. Hari ke hari. Tahun ke tahun.

 

Rahasia Profit Konsisten di Trend Minor…

Semua Scalper profesional mengetahui hal ini. Kunci rahasia untuk mendapatkan profit konsisten di Trend Minor, adalah dengan melihat arah trend yang lebih besar.

Mendapatkan profit dari pergerakan Trend Minor, jauh lebih mudah jika kita mengatahui pergerakan trend jangka menengah dan trend jangka panjang.

Jadi meskipun kelihatannya para scalper trading-nya jangka pendek, dan “main cepat”, namun sebenarnya mereka sangat memahami pentingnya trend jangka menengah dan trend jangka panjang.

Dan inilah yang justru tidak diketahui oleh kebanyakan trader di Indonesia!

So, let’s back to topic…

Pemahaman tentang ketiga jenis tren ini sangat penting. Tidak peduli apakah kita melakukan trading jangka pendek, atau trading jangka panjang.

Karena apa pun strategi trading dan investasi kita, pemahaman tentang arah market adalah hal yang sangat krusial.

 

Trend Bersifat Fractal…

Yes! Trend dan pergerakan harga sejatinya bersifat fractal.

Artinya gerakan harga berpola. Mulai dari time-frame yang paling kecil (1-tick), sampai dengan time-frame yang paling besar (Yearly chart). Ada trend di dalam trend. Trend yang lebih kecil, berada di dalam trend yang lebih besar. Dengan pola yang berulang.

Untuk lebih memahami maksudnya, silakan dicermati ilustrasi berikut ini….

Ilustrasi di atas adalah gambaran, bagaimana trend jangka panjang, trend jangka menengah dan trend jangka pendek terjadi di market. Ketiganya terjadi secara bersamaan, dan membentuk pola-pola pergerakan harga di market.

Garis hijau, yang bertuliskan Primary Trend, adalah trend jangka panjang.

Di dalam trend jangka panjang, ada garis biru, yang bertuliskan Intermediate trend, adalah trend jangka menengah. Atau yang disebut juga Secondary Trend.

Dan di dalam trend jangka menengah, ada garis titik-titik, yang bertuliskan Short-term trend, adalah trend jangka pendek. Atau yang disebut juga Minor Trend.

 

Ada Trend di Dalam Trend!

Setiap trend mengalami naik turun. Namun naik turunnya trend yang lebih kecil, selalu mengikuti arah naik turunnya trend yang lebih besar.

Trend yang paling kecil, Trend Minor, adalah trend yang paling mudah dilihat. Karena memang trend inilah yang naik turunnya kita lihat setiap hari.

Sekilas memang kelihatannya random dan tidak beraturan. Namun rahasianya adalah dengan melihat trend yang lebih besar. Trend jangka menengah dan trend jangka panjang.

Karena “seliar apa pun” gerakan naik turun di Trend Minor, akan selalu mengikuti arah trend yang lebih besar.

Begitu juga dengan trend jangka menengah, akan selalu mengikuti gerakan trend jangka panjang.

 

Beda Trend, Beda Pula Strateginya…

Jika kita kembali mencermati ilustrasi sebelumnya. Akan terlihat, bahwa trading ketika trend jangka panjang sedang naik, akan berbeda dengan saat kita trading di trend jangka panjang yang turun.

Ibarat sedang mengendarai mobil di pegunungan. Tentu cara menyetir kita akan berbeda di saat jalanan menanjak dan pada saat jalanan menurun.

Tidak hanya strategi dan teknik trading-nya saja yang berbeda. Namun cara membaca indikator ketika trend naik, dan ketika trend turun juga berbeda.

Inilah yang membuat banyak trader dan investor merasa bingung. Ketika market-nya berubah, inidkator mereka seolah-olah menjadi “tidak ampuh”. Padahal sebenarnya bukan indikator-nya yang tidak ampuh. Namun memang cara membacanya yang berbeda.

(Cara membaca berbagai indikator, di berbagai macam arah dan jenis trend, akan kita bahas lebih detail di tulisan dan video berikutnya. Stay tune!)

Selain indikator, sifat-sifat Support/Resistance-nya juga berbeda.

Ketika trend-nya sedang naik, Support akan menjadi lebih kuat. Sedangkan Resistance akan cenderung lemah dan sangat mudah tertembus.

Sebaliknya, ketika trend-nya sedang turun, Support akan cenderung lemah dan mudah tertembus. Sedangkan Resistance malah lebih kuat.

(Tenang saja. Nanti kita juga akan membahas lebih dalam tentang Support/Resistance, pada tulisan dan video berikutnya.)

Trend yang sedang naik turun ini, juga berpengaruh jika kita menganlisis market dengan menggunakan Candlestick Pattern.

Doji, Harami, Engulfing dan Star yang muncul pada saat trend naik, akan berbeda dengan yang muncul pada saat trend turun. Bahkan ada beberapa pattern yang tidak valid, jika trend dan context-nya tidak memenuhi syarat.

Inilah yang membuat kebanyakan pemula bingung ketika sedang menganalisiis Candlestick. Beberapa pattern dan pola sepertinya tidak berlaku di market-market tertentu.

Padahal Candlestick sebenarnya terdiri dari 3 unsur analisis, yaitu: Pattern, Trend dan Context. Analisis kita akan tidak akurat, kalau hanya memperhatikan Pattern saja. Seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemula.

(Yes! Cara membaca topik “Candlestick PTC: Pattern, Trend and Context” akan kita bahas dengan sangat mendalam di tulisan dan video berikutnya!)

 

Whoa… That’s a Lot of Teasing!

Dikasih tahu sedikit-sedikit, tapi nggak ada penjelasan yang lebih dalam. Ibarat makan, cuma dikasih icip-icip sedikit, tapi makanan utamanya langsung disimpan lagi. Hehehe

I know… I know… Sorry.. 🙂

Maaf… Namun untuk sekarang, memang lebih baik ktia fokus dulu ke hal-hal yang basic dan mendasar.

Karena kalau kita sudah mengerti analisis trend, maka kita sudah tahu 1 rahasia yang tidak diketahui oleh 90% trader dan investor di Indonesia!

So, back to topic…

Pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana cara ktia mengetahui saat ini kita sedang di trend yang mana dan ke arah mana?

Jika sedang di trend naik, tanda-tandanya apa? Jika sedang trend turun, tanda-tadanya bagaimana? Jika sedang di puncak, atau di bawah, apa lagi tanda-tandanya?

Untuk itu, kita harus memahami sifat-sifat ketiga jenis trend tersebut!

 

Long-term Primary Trend

Pertama-tama, mari kita bahas tentang trend yang paling besar, trend jangka panjang. Long-term trend. Atau yang juga disebut sebagai Primary Trend. Trend utama.

Secara teknikal, definisi trend jangka panjang adalah: Trend yang berlangsung lebih panjang dan lebih lama dari 150 candles/bars.

Berarti kalau kita kebetulan trading dan berinvestasi di saham, dan kita menggunakan Chart Daily. Maka yang disebut Primary Trend adalah trend yang berlangsung lebih lama dari 30 minggu. Atau kurang lebih sekitar 7 sampai 8 bulan ke belakang.

Jika misalnya kita trading di forex, gold, olil, commodity atau mungkin Cryptocurrency, dan kita menggunakan Chart H4 (4-hour). Maka yang disebu Primary Trend adalah trend yang berlangsung lebih lama dari 25 sampai 30 hari ke belakang.

Untuk lebih memahami yang mana trend jangka panjang, mari kita masuk ke contoh…

Namun sebelum itu, mari kembali ke ilustrasi yang tadi sebentar. Supaya bisa kita jadikan referensi, dan supaya kita juga tidak perlu bolak-balik terlalu jauh. Trend jangka panjang adalah trend yang digambarkan oleh garis hijau.

 

Primary Trend – Saham TINS

Sekedar mengingatkan sedikit. Trend jangka panjang adalah trend yang jangka waktunya lebih lama dari 7-8 bulan (pada chart daily).

Sekali lagi, trend ini berlangsung lebih lama dari 7-8 bulan. Bahkan pada banyak kasus, trend jangka panjang dapat berlangsung hingga setahun lebih.

Seperti yang ditunjukkan oleh chart saham TINS di atas.

Dari bulan Juli 2013, sampai dengan bulan April 2014, trend jangka panjang saham TINS cenderung naik. Seperti yang telah ditandai oleh garis hijau, yang panjangnya kurang lebih 9 bulan.

Bulan April 2014 adalah puncaknya. Karena dari situ, trend jangka panjang saham TINS berbalik arah. Dari trend yang cenderung naik, berbalik arah menjadi turun.

Dan trend jangka panjang ini terus turun selama 15 bulan (setahun lebih). Yang dimulai sejak April 2014, hingga ke bulan Juli 2015.

Inilah yang disebut trend jangka panjang. Long-term Primary Trend!

 

Primary Trend – Saham AALI

Dari chart saham AALI di atas, kita pun sudah mulai bisa melihat, yang mana trend jangka panjangnya.

Trend jangka panjang AALI cenderung turun. Yang dimulai sejak awal Januari 2008, hingga sekitar bulan Oktober 2008. Sebuah trend turun yang berlangsung selama 10 bulan lebih.

Dan kalau kita perhatikan, trend turunnya ini lumayan dahsyat juga. Hingga 80% lebih. Dari saham AALI di harga Rp.35ribuan, terus turun selama 10 bulan, sampai harga saham AALI tinggal Rp.5ribuan.

Bayangkan portofolio kita turun hingga 80% lebih!

Terlepas dari situasi fundamental perusahaan AALI pada saat itu. Jika trend jangka panjangnya seperti ini, memegang saham AALI jelas bukan keputusan invesasi yang bijak.

Itulah sebabnya penting bagi para investor untuk memahami trend. Sekalipun niatnya adalah investasi jangka panjang. 🙂

Namun sejak bottoming di Oktober 2008, trend jangka panjang saham AALI mulai berbalik arah. Naik terus selama 16 bulan lebih. Dari harga saham AALI hanya Rp.5ribuan, naik hingga 5 kali lipat, ke harga Rp.25ribuan.

Harus diakui, ini adalah contoh yang lumayan ekstrim. Dari saham yang terdiskon hingga 80%, menjadi saham yang naiknya gila-gilaan hingga 5 kali lipat!

Ini supaya kita tahu, betapa bahayanya jika trader/investor berani mengabaikan trend. Dan peluang besar yang kita lewatkan jika kita tidak memahami trend dengan baik!

 

Primary Trend – Saham UNTR

Chart saham UNTR, memang tidak se-ekstrim chart saham AALI yang tadi.

Dari chart di atas, dapat kita lihat. Trend jangka panjang saham UNTR cenderung turun. Mulai dari sebelum bulan Juli 2015, hingga ke sekitar bulan Mei 2016. Trend jangka panjang yang berlangsung selama lebih dari 10 bulan.

Setelah itu, dari bulan Mei 2016, trend jangka panjang saham UNTR mulai berbalik arah. Dari trend turun, berbalik arah menjadi naik. Sebuah trend jangka panjang yang berlangsung hingga 18 bulan!

Dan naiknya pun cukup signifikan. Mulai sejak saham UNTR harga Rp.14ribuan, naik sampai ke harga Rp.35ribuan. Atau naik 2 kali lipat dalam waktu 1,5 tahun saja.

Yes. Tidak se-ekstrim chart saham AALI yang sebelumnya. But nevertheless… That’s still a pretty good return of investment! 🙂

 

History Repeats Itself!

Sebagus apa pun contoh kasus yang kita bahas, namun ini adalah kinerja masa lalu. Sedalam apa pun turunnya. Setinggi apa pun naiknya. Tetap saja sudah lewat.

Namun satu hal yang tidak banyak orang sadari adalah, sejarah itu berulang!

Apa yang sudah terjadi di masa lalu, akan terjadi kembali di masa depan. Mungkin bukan di saham yang sama. Mungkin saja terjadi di saham yang berbeda. Namun tetap saja akan terjadi lagi.

Pertanyaannya: Apakah kita sudah siap jika itu terjadi?

Apakah kita siap, jika nanti ada saham yang turun 80%, lalu balik arah dan naik lagi hingga 5 kali lipat?

Apakah kita siap, jika nanti kita menemukan saham yang harganya naik dua kali lipat dalam setahun?

Makanya, adalah penting bagi kita untuk belajar tentang trend! 🙂

 

Tentang Primary Trend…

Ada satu hal yang harus selalu kita ingat tentang Primary Trend. Yaitu, trend jangka panjang hanya dapat dijadikan penunjuk arah. Namun tidak dapat digunakan untuk melakukan Market Timing!

Sehingga jika kita mau melakukan Buy dan Sell dengan presisi, namun kita hanya melihat trend jangka panjang, kita pasti akan kesulitan.

Dan memang banyak indikator yang menjadi tidak ampuh, jika kita berpatokan pada trend jangka panjang. Sebab kebanyakan indikator memang dirancang untuk mendeteksi trend jangka menengah, dan trend jangka pendek.

Jadi sekali kali lagi, trend jangka panjang hanya sebagai penunjuk arah. Persis seperti kompas yang menunjukkan arah Utara dan Selatan.

Jika ktia mau melakukan Market Timing. Jika kita mau menentukan waktu yang paling pas untuk Buy dan Sell. Maka kita harus melihat trend jangka pendek dan trend jangka menengah.

Nah, trend jangka menengah itu yang mana?

 

Medium-term Secondary Trend

Trend jangka menengah, atau yang disebut juga Secondary Trend. Beberapa sumber ada yang menyebutnya Medium-term Trend atau Intermediate Trend. Adalah trend yang lebih pendek, yang berada di dalam Primary Trend.

Secara teknikal, Secondary Trend didefinisikan sebagai trend yang berlangsung selama 15 sampai dengan 150 candles/bars.

Yang artinya, kalau kita trading di saham, dan kita menggunakan Daily Chart, maka Secondary Trend adalah trend yang berlangsung antara 3 minggu sampai 30 minggu. Tergantung pada fluktuasi dan volatilitas market-nya gimana.

Kalau kita trading di commodity, entah itu forex, oil, gold atau Cryptocurrency apa pun, dan kita menggunakan chart H4, maka Secondary Trend adalah trend yang berlangsung antara 3 hari sampai 30 hari. Sekali lagi tergantung pada tingkat fluktuasi dan volatilitas market-nya.

Supaya lebih mudah, mari kita masuk ke contoh.

Untuk mengingatkan kita kembali, berikut adalah ilustrasi ketiga jenis trend…

Secondary Trend digambarkan oleh garis yang berwarna biru. Yang bertuliskan Intermediate trend. Yang berarti trend jangka menengah.

 

Secondary Trend – Saham TINS

Sebelumnya kita sudah melihat, trend jangka panjang di Saham TINS. Yang kita tandai dengan garis berwarna hijau.

Dan sekarang, chart-nya kita tambahkan dengan garis-garis berwarna biru. Untuk mengilustrasikan trend jangka menengah.

Seperti yang dapat kita lihat. Sejak bulan Juli 2013, trend jangka menengah di saham TINS cenderung naik, sampai sekitar bulan Oktober 2013. Sebuah trend yang berlangsung selama kira-kira 3 bulan.

Dari Oktober 2013, tampak trend-nya mulai berubah. Dan berbalik arah turun hingga Februari 2014. Koreksi di trend jangka menengah, yang berlangsung kurang lebih 4 bulan.

Namun kemudian trend jangka menengah saham TINS kembali naik, sampai sekitar bulan April/Mei 2014. Meski jangka waktunya sama-sama 3-4 bulan, namun kali ini kenaikan trend jangka menengahnya tampak lebih signifikan. Dan seperti yang dapat kita lihat, inilah puncaknya saham TINS.

Karena sejak April/Mei 2014, trend jangka menengah TINS mulai turun, sampai ke akhir bulan Juni 2015. Dan sejak saat itu, meskipun saham TINS mengalami dua kali rebound di trend jangka menengah, namun pergerakannya tetap mengikuti trend jangka panjang yang cenderung turun.

Persis seperti yang sudah kita sebutkan di awal. Trend jangka menengah, berada di dalam trend jangka panjang. Sehingga meskipun gerakannya naik turun, namun secara umum arahnya tetap mengikuti arah trend yang lebih besar.

Supaya lebih jelas lagi, mari kita lihat contoh berikutnya…

 

Secondary Trend – Saham AALI

Di atas adalah chart Saham AALI. Seperti yang sudah kita bahas juga. Garis hijau menandakan trend jangka panjang. Sedangkan garis biru menandakan trend jangka menengah. Trend jangka menengah berada di dalam trend jangka panjang, dan keduanya bergerak beriringan.

Sejak awal tahun 2008, meskipun saham AALI cukup fluktuatif, namun trend jangka menengahnya cenderung turun. Dan trend ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, hingga bulan April 2008.

Setelah itu, saham AALI mengalami rebound jangka menengah, selama 3 bulan juga. Yang dimulai pada bulan April 2008 sampai dengan kira-kira bulan Juli 2008.

Untuk selanjutnya kembali turun, sesuai dengan arah trend jangka panjangnya. Trend turun jangka menengah ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan juga, hingga bulan Oktober 2008. Namun dengan penurunan yang cukup dalam dan signifikan.

Sekali lagi, dapat kita lihat. Meskipun trend jangka menengahnya bervariasi, ada naik, ada turun. Namun secara umum gerakan harganya tetap mengikuti trend jangka panjang.

Bulan Oktober 2008 adalah titik balik saham AALI. Karena pada bulan tersebut, saham AALI mengalami reversal. Cenderung naik dan cenderung menguat. Meskipun beberapa kali ada koreksi, dan trend jangka menengah yang naik turun, namun gerakannya masih sesuai dengan arah trend jangka panjang.

Dari kedua contoh kita barusan, tentu sudah ada gambaran. Bahwa kondisi market yang berbeda, menuntut kita untuk adaptif dan menggunakan strategi trading/investasi yang berbeda pula.

Buy/Sell di kala trend-nya cenderung turun, tentu berbeda dnegan Buy/Sell mana kala trend-nya cenderung naik.
Untuk lebih jelasnya, mari kita masuk ke contoh berikutnya...

 

Secondary Trend – Saham UNTR

Sebelumnya dapat kita lihat, pergerakan trend jangka panjang saham UNTR memang cenderung turun, sampai sekitar bulan Mei 2016. Yang kemudian saham UNTR mengalami reversal, balik arah dan naik terus hingga akhir tahun 2017.

Silakan perhatikan garis berwarna hijau, yang adalah penanda trend jangka panjang di saham UNTR.

Sedangkan untuk trend jangka menengah, perhatikan garis-garis berwarn biru.

Dan seperti yang dapat kita lihat, ketika trend jangka panjang UNTR turun (garis hijau), namun turunnya tidak lurus langusng ke bawah. Melainkan ada rebound sesaat (garis biru).

Ketika saham UNTR naik pun begitu. Tidak langsung naik begitu saja, tidak langsung lurus ke atas. Melainkan mengalami serangkaian koreksi di sana-sini. Seperti yang dapat kita lihat di garis-garis berwarna biru.

 

Intermezzo on UNTR…

Saham UNTR adalah saham yang lumayan seru untuk di-trading-kan. Dan termasuk saham yang bagus untuk investasi dan untuk disimpan dalam waktu yang relatif lama.

Sebab lini bisnis utama emiten saham UNTR adalah dalam bidang transportasi dan penyediaan alat-alat berat.

Jika saham-saham pertambangan dan energi mulai bergeliat, kita pun dapat melihat saham UNTR yang ikut bergairah. Sebab perusahaan-perusahaan tambang memang membutuhkan alat berat untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Jika saham-saham konstruksi tampak mulai bergerak, kita pun dapat menyaksikan saham UNTR yang ikut-ikutan bergerak. Karena pembangunan dan proyek infrastruktur yang skalanya masif, tidak mungkin dapat dikerjakan tanpa bantuan alat berat.

Jika saham-saham properti mulai dilirik. Yes, saham UNTR juga pasti ada yang melirik. Sebab pembangunan properti, terutama dalam skala besar, pasti dikerjakan dengan bantuan alat berat.

Pokoknya selama ekonomi Indonesia masih tumbuh, entah itu dipicu oleh sektor tambang, konstruksi atau properti, maka saham UNTR juga dapat dipastikan ikut tumbuh. Mantap pokoknya! Hehehe

Ya, kurang lebih sepertilah rasionalisasi pergerakan saham UNTR dari segi Analisis Fundamental.

 

Pergerakan Harga yang Wajar…

Perlu diingat, koreksi pada saat trend naik, adalah pertanda dari pergerakan harga yang sehat dan wajar. Semua gerakan saham yang naiknya normal, pasti ada koreksi.

Begitu juga dengan rebound pada saat trend turun. Gerakan market yang sehat memang harus begitu!

Yang terpenting adalah, meskipun pergerakan harga saham itu naik dan turun, namun jika kita mengatahui trend jangka menengah dan jangka panjang, maka arah pergerakan harganya juga akan ketahuan.

Dan dari situ kita dapat melakukan penyesuaian. Jika harga sahamnya naik, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Jika harga sahamnya turun, kita juga tahu apa yang harus dilakukan. Entah itu Hold, Buyback, Profit Taking atau Cut Loss.

 

Tentang Trend dan Indikator…

Satu hal lagi yang sangat penting untuk diketahui. Kita tidak akan mampu membaca indikator dengan akurat, jika kita tidak memahami arah dan tidak bisa membaca trend.

(Nanti, di tulisan dan video berikutnya, kita akan sama-sama belajar, bahwa membaca dan mengartikan sinyal indikator pun juga perlu melihat trend.)

Inilah yang membuat 90% trader dan investor di Indonesia, masih sering salah posisi. Sebab mereka fokus pada sinyal indikator, namun tidak pernah paham posisi trend-nya bagaimana.

Biasanya orang-orang seperti ini langsung buru-buru menyalahkan indikator. Padahal bukan indikatornya yang salah. Tapi mereka lah yang tidak mengerti cara membaca indikator dengan benar.

Sekarang, mari kita masuk ke pembahasan Trend Minor. Dimana kita akan lihat kesalahan-kesalahan fatal apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan trader/investor.

 

Short-term Minor Trend

Baiklah. Sekarang kita akan membahas tentang Trend Minor. Atau trend jangka pendek. Trend yang paling gampang kelihatan, karena memang pergerakan trend inilah yang kita lihat setiap hari.

Menurut definisi Analisis Teknikal, Trend Minor adalah trend yang berada di dalam Secondary Trend, yang berlangsung lebih singkat atau kurang dari 15 candles/bars.

Jika kita trading/investasi di saham, dan kita menggunakan chart daily, maka trend jangka pendek ini biasanya berlangsung tidak sampai 3 minggu.

Bahkan sebenarnya di saham, termasuk jarang kita menemukan ada Trend Minor yang sampai 15 candles/bars, atau sampai 3 minggu. Biasanya paling-paling hanya sampai 5-10 candles/bar saja. Atau kurang lebih 2 minggu.

Karena memang jarang ada saham yang naik terus hingga 3 minggu berturut-turut, tanpa koreksi sama sekali. Juga jarang ada saham yang turun terus sampai 3 minggu berturut-turut, tanpa rebound sama sekali. Memang ada, tapi termasuk jarang dan tidak sering terjadi.

Jika kita trading di commodity, entah itu forex, oil, gold atau Cryptocurrency, dan kita menggunakan chart H4, maka Trend Minor ini berlangsung maksimal 3 hari.

Sama juga. Ini pun termasuk hal yang jarang terjadi. Apa lagi di bursa commodity yang likuiditas dan geraknya lebih fluktuatif dibandingkan saham. Dalam waktu tidak sampai 3 hari, biasanya akan ada counter-movement dari market. Entah itu dalam bentuk koreksi ataupun rebound.

Bagi para pemula, terutama para pemula, Trend Minor adalah trend yang paling kelihatan. Dan karenanya paling mereka fokuskan.

Makanya tidak heran masih banyak yang salah posisi. Karena mereka tidak pernah terpikir untuk melihat trend jangka menengah dan trend jangka panjang.

Supaya lebih jelas, berikut adalah ilustrasi tentang Trend Minor…

Trend jangka pendek digambarkan sebagai garis titik-titik. Garis yang gerakannya mengikuti alur gerakan garis biru (trend jangka menengah), dan garis hijau (trend jangka panjang).

Dari ilustrasi di atas, dapat kita lihat. Trend jangka pendek memang yang paling fluktuatif dan yang naik turunnya paling banyak.

Trend ini memang gerakannya lebih liar. Namun seliar apa pun gerakannya, masih tetap seiring dengan gerakan trend jangka menengah, dan masih tetap berada dalam “koridor” trend jangka panjang.

Nah, penampakan trend jangka pendek ini, kenyataannya bagaimana?

Mari kita simak contoh-contoh berikut ini…

 

Minor Trend – Saham TINS

Seperti yang dapat kita lihat dengan jelas. Gerakan trend jangka pendek saham TINS memang cukup liar dan fluktuatif. Namun tetap masih mengikuti gerakan trend yang lebih besar. Baik itu trend jangka menengah (garis biru), maupun trend jangka panjang (garis hijau).

Contoh berikutnya…

 

Minor Trend – Saham AALI

Fluktuasi dan “keliaran” trend jangka pendek, juga dapat kita lihat pada chart saham AALI.

Namun dengan pemahaman trend yang benar, kita mulai dapat menyusun strategi trading yang optimal. Termasuk kapan naik untuk beli, kapan naik untuk jual. Kapan kita harus Hold dan bertahan. Serta kapan kita harus Profit Taking atau Cut Loss.

Contoh berikutnya…

 

Minor Trend – Saham UNTR

Volatilitas dan fluktuasi trend jangka pendek pada chart saham UNTR.

 

Kita Takut Karena Kita Tidak Tahu…

Inilah pentingnya untuk melihat dan memahami ketiga jenis trend. Supaya kita tidak hanya fokus pada gerakan yang sehari dua hari. Namun dapat melihat kemana arah market sedang menuju.

Kalau kita hanya memperhatikan gerakan yang pendek-pendek, sudah pasti kita akan bingung dan semakin galau. Takut salah jual, takut salah beli.

Kalau kita beli takut sahamnya turun. Tapi kalau kita mau jual, malah takut sahamnya naik lagi.

Dan ketakutan itu akan semakin nyata, jika kita tidak punya gambaran tentang “peta” market. Karena ktia memang tidak tahu arah trend. Sehingga kemungkinan untuk salah beli dan salah jual akan semakin besar (dan semakin sering).

 

What’s Next?

Oke! Kita sudah selesai membahas tentang tiga jenis trend. Apakah cukup sampai disini?

No! We barely scratched the surface!

Jalan kita masih panjang. Masih banyak yang harus kita bahas dan pelajari. Bahkan tulisan ini saja belum selesai sampai disini. Kita malah baru setengah jalan! Hehehe

So, let’s continue! 🙂

Jika kita sudah memahami tentang ketiga jenis trend tersebut, pertanyaan berikutnya adalah: Apa yang harus kita lakukan, untuk memastikan ktia tidak salah dalam membaca trend?

Bagaimana caranya membaca trend dengan benar? Agar bacaan indikator kita juga semakin akurat? Dan supaya kita tidak lagi sering salah posisi?

Untuk itu, cara paling mudah, paling cepat dan paling ampuh untuk meningkatkan akurasi analisis trading kita adalah dengan me-setting ulang beberapa parameter di chart kita.

Karena satu hal yang tidak semua orang tahu, salah satu penyebab utama banyak trader/investor yang salah baca market adalah karena faktor setting-an chart yang salah!

Btw, Sebelum Kita Lanjutkan...

Ini termasuk artikel yang sangat panjang. Tidak kurang dari 8700++ kata (sekitar 60 halaman A4). Jika Anda kebetulan sedang sibuk, atau tidak punya banyak waktu, silakan download saja PDF-nya dulu...

 

Download PDF, GRATIS!

 

How to Adjust Your Chart?

Pada umumnya, setting-an default di kebanyakan aplikasi atau charting tools itu tidak optimal untuk kita menganalisis market. Entah itu untuk trading jangka pendek atau investasi jangka panjang.

Itulah sebabnya, para trader/investor/analisis yang berpengalaman, saat baru menggunakan aplikasi charting tools, hal yang pertama mereka lakukan adalah merubah dan menyesuaikan semua setting chart. Karena memang umumnya belum optimal.

And to be fair, kebanyakan aplikasi memang dibuat oleh para programmer, bukan dibuat oleh trader/investor. Sehingga mungkin wajar juga kalau yang membuat aplikasi tidak mengerti tentang setting-an chart yang optimal.

Contoh setting yang tidak optimal itu macam-macam. Beberapa aplikasi charting tools ada yang zoom-nya terlalu kecil. Ada yang jaraknya terlalu pendek. Ada juga yang skala unit-nya tidak tepat. Dan yang jenis chart-nya kurang pas buat pemula.

Itulah sebabnya, di awal kita bilang, cara yang paling cepat, paling mudah dan paling ampuh untuk meningkatkan akurasi analisis adalah dengan men-setting ulang parameter di aplikasi charting tools kita.

 

3 Setting Chart yang Optimal

Secara umum, ada 3 hal yang harus kita setting ulang di aplikasi charting tools kita.

Setting ini tetap berlaku apa pun market kita. Entah itu kita trading/investasi di saham, forex, oil, gold, cryptocurrency atau commodity apa pun.

Dan apa pun aplikasi yang kita gunakan. Baik itu AmiBroker, ChartNexus, MetaStock, MetaTrader, atau platform online bawaan broker/sekuritas.

Pertama, yang harus kita setting ulang adalah: Level of Zoom (jumlah candle/bar yang kita lihat).

Setting ini penting, karena berhubungan dengan kemampuan kita melihat trend. Baik itu trend jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Seperti yang barusan tadi telah kita pelajari.

Biasanya, secara default di kebanyakan aplikasi, jumlah candle/bar yang ter-setting sekitar 30-50 candle/bar. Namun terkadang ada juga aplkasi yang setting awalnya hingga 100 candle/bar.

Lumayan sih. Tapi itu sebenarnya masih kurang. Zoom-out kurang jauh ke belakang. Karena kalau jumlah candle/bar-nya hanya 100, maka sudah pasti kita tidak akan bisa melihat trend jangka menengah dengan jelas. Apa lagi kalau mau melihat trend jangka panjang, akan lebih sulit lagi.

Kalau mau optimal, pastikan jumlah candle/bar yang kita lihat di satu layar, setidaknya 150 candle/bar. Lebih bagus lagi jika bisa sampai 180 candle/bar.

Kedua, yang harus kita setting ulang adalah: Chart Type (jenis dan tipe chart).
Biasanya, secara default di kebanyakan aplikasi, yang digunakan adalah Candlestick Chart.

Apakah ini salah? Tidak.

Candlestick Chart adalah jenis chart yang sangat bagus. Yang dapat kita gunakan untuk mendeteksi trend, perubahan arah market, reversal harga, serta Top and Bottom dengan sangat akurat.

Namun di sisi lain, Candlestick juga cenderung lebih “ramai”. Dengan warna-warni dan bentuk yang semarak. Sehingga bagi pemula yang matanya belum terbiasa, chart seperti ini akan membuat monitor kita seolah-oleh sumpek, ribet, overloading dan overwhelming.

Tips-nya adalah, kalau mau tampilan monitor yang lebih bersih dan simple, gunakan Bar Chart.

Kedua, yang harus kita setting ulang adalah: Scaling Unit (jenis dan tipe skala).

Biasanya, secara default di kebanyakan aplikasi, yang digunakan adalah Linear Scale.

Linear Scale ini pun sebenarnya sudah lumayan. Nggak jelek juga. Karena dari sisi programming logic, Linear Scale dapat mengakomodasi cakupan integer yang lebih luas. Sedangkan Logarithmic Scale, hanya dapat mengakomodasi nilai positif.

(Baiklah. Jika kita bukan programmer, paragraf diatas boleh diabaikan. Tidak perlu dipahami lebih lanjut. Karena info ini juga nggak penting-penting amat bagi trader/investor. Hehehe)

Tapi jika kita mau menganalisis perubahan trend dengan lebih akurat, presisi dan responsif, maka gunakanlah Logarithmic Scale.

Karena kalau marketnya berubah, kalau trend-nya berganti dan harga berbalik arah, maka chart yang menggunakan Logarithmic Scale akan jauh lebih responsif dan tanggap.

Perubahan-perubahan seperti itu akan lebih jelas (dan cepat) terlihat jika menggunakan Logarithmic.

Sekarang, mari kita bahas lebih detail tentang ketiga setting chart tersebut…

 

1st Setting : Level of Zoom

Sekarang, kita bahas dulu tentang setting yang pertama: Level of Zoom.

Masih ingat pembahasan yang di awal sekali, tentang 3 jenis trend?

Coba kita review sebentar ya…

Trend jangka pendek adalah trend yang berlangsung kurang dari 15 candle.

Trend jangka menengah adalah trend yang berlangsung antara 15 sampai 150 candle.

Trend jangka panjang adalah trend yang berlangsung lebih lama dari 150 candle.

Nah, untuk memastikan kita selalu dapat melihat ketiga jenis trend tersebut, terutama trend jangka menengah dan jangka panjang, maka chart kita juga zoom-nya tidak boleh terlalu dekat.

Setiap kali melakukan analisis, pastikan candle yang terlihat di monitor kita adalah minimal 150 candle. Atau lebih bagus lagi, sampai 180 candle. Sekali lagi, ini adalah jumlah candle yang ditampilkan di layar kita, dari ujung ke ujung, tanpa harus kita scroll ke kanan kiri.

Kenapa harus 150 candle?

Karena kebanyakan indikator, entah itu momentum maupun trend-following, sebenarnya paling oke dan ampuh jika kita trading-kan di trend jangka menengah. Sementara kita sudah tahu, bahwa trend jangka menengah berlangsung selama antara 15 sampai 150 candle.

Jika kita zoom-in terlalu dekat, misalnya cuma 50 candle, dikhawatirkan trend jangka menengah jadi kurang jelas. Seperti contoh berikut ini misalnya…

Di atas adalah chart saham ASII, dengan zoom 50 candle.

Artinya, total candle yang ada pada chart di atas, jika kita hitung dari ujung sebelah kiri, sampai ke ujung sebelah kanan, adalah tepat 50 candle. Karena ini adalah chart saham ASII dengan format daily, berarti 50 candle menggambarkan pergerakan harga selama kurang lebih 2 bulan.

Masalahnya apa kalau kita menganalisis chart sedekat ini?

Masalahnya adalah kita cuma bisa melihat trend jangka pendek. Trend jangka menengahnya tidak kelihatan jelas. Apa lagi trend jangka panjang, yang sama sekali tidak tampak.

Inilah problem utama kalau Level of Zoom kita terlalu dekat!

Namun bagaimana kalau Level of Zoom kita terlalu jauh? Misalnya 200 atau 300 candle dalam satu layar?
Coba perhatikan chart di bawah ini…

Chart di atas adalah chart saham ASII, dengan zoom 300 candle.

Artinya, total candle yang ada pada chart di atas, jika kita hitung dari ujung sebelah kiri, sampai ke ujung sebelah kanan, adalah tepat 300 candle. Karena ini adalah chart saham ASII dengan format daily, berarti 300 candle menggambarkan pergerakan harga selama kurang lebih 15 bulan.

Dari chart tersebut, memang kita dapat dengan mudah melihat trend jangka menengah dan jangk panjang. Namun dengan format seperti ini, candle-nya menjadi terlalu rapat dan sulit dibaca. Terutama jika kita menggunakan analisis Candlestick PTC.

Kalau begitu, berapa Level of Zoom yang pas? Yang tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak terlalu jauh.

Ya itu tadi. Pastikan Level of Zoom-nya antara 150-180 candle!

Sekarang, mari kita bandingkan kedua chart yang tadi, dengan chart di bawah ini…

Chart di atas adalah chart saham ASII, dengan zoom 168 candle.

Artinya, total candle yang ada pada chart di atas, jika kita hitung dari ujung sebelah kiri, sampai ke ujung sebelah kanan, adalah tepat 168 candle. Karena ini adalah chart saham ASII dengan format daily, berarti 168 candle menggambarkan pergerakan harga selama kurang lebih 8 bulan.

Kenapa harus 168 candle? Nanti akan kita jelaskan. 🙂

Tapi yang penting sekarang, semoga sudah mulai terasa perbedaan antara Level of Zoom yang pas. Yang candle-nya tidak terlalu rapat, namun yang kira-kira trend jangka menengah dan trend jangka panjangnya masih terlihat.

Pada chart di atas, dapat kita lihat, sejak akhir Desember 2016 sampai kira-kira April 2017, trend jangka menengah di saham ASII cenderung naik.

Kemudian dari minggu terakhir di bulan April 2017, saham ASII mulai balik arah dan trend jangka menengahnya turun. Hingga ke bulan Agustus 2017 yang diujung chart.

Dan trend jangka pendeknya pun masih terlihat dengan jelas.

Inilah gunanya kita men-setting chart kita dengan Level of Zoom yang tepat. Sehingga chart yang kita lihat tidak terlalu berhimpitan, namun juga tidak terlalu renggang.

Candle-nya tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Dengan time-frame yang tidak terlalu jauh, namun tidak terlalu dekat juga.

 

Trading dari HandPhone?

Level of Zoom ini juga penyebab utama, mengapa saya sangat TIDAK MENYARANKAN untuk trading hanya dari HandPhone.

Ya, saya tahu. Trading dari HandPhone memang praktis. Tapi masalahnya, layar HandPhone itu terlalu kecil!

Dan biasanya aplikasi charting tools yang di HandPhone, tidak membolehkan kita untuk zoom-out terlalu jauh. Dan kalau pun kita bisa zoom-out sampai 7-8 bulan, dengan layar yang terlalu kecil, chart-nya tetap saja kurang jelas.

Sebenarnya tidak dilarang untuk Buy/Sell dari HandPhone. Dengan syarat, sudah dilakukan analisis sebelumnya. Dan dengan syarat analisisnya dilakukan dari komputer (entah laptop atau desktop).

Sebab aplikasi trading yang di HandPhone, biasanya hanya digunakan untuk kemudahan kita memantau posisi. Sekali lagi, hanya untuk memantau posisi. Sedangkan analisisnya sudah dilakukan sebelumnya.

Jadi kalau kita sudah melakukan analisis lebih dulu, barulah kita boleh melakukan Buy/Sell dari HandPhone. Jika belum ada analisis sama sekali, apa lagi kalau belum tahu mau Buy/Sell saham apa, lebih baik jangan trading dari HandPhone. Karena itu namanya bunuh diri!

Kenapa disebut “bunuh diri”?

 

Mari Kita Blak-blakan dan Terus Terang…

Para profesional, orang-orang seperti saya dan teman-teman saya yang di Bursa, kami sendiri trading dari komputer yang full size. Lengkap dengan multi-monitor.

Saya pribadi menggunakan 3 monitor di meja kerja saya. Semuanya diperlukan demi dapat melakukan analisis dengan tepat dan akurat.

Dan ini adalah hal yang biasa. Bahkan di beberapa tempat, mereka menggunakan 4-6 layar/screen monitor, karena banyaknya data yang perlu dianalisis sekaligus dengan cepat.

Kalau ada orang yang trading hanya pakai HandPhone, dan merasa bisa menang melawan kami, itu namanya delusional (kalau tidak mau disebut bodoh).

Persis seperti orang yang cuma punya pisau dapur, tapi merasa bisa menang melawan senapan AK-47. 🙂

Sekali lagi, bukan tidak boleh trading melalui HandPhone.

Boleh trading pakai HandPhone… Tapi analisisnya tetap harus dilakukan di komputer!

Got it?

Btw, tadi kan ada pertanyaan yang belum terjawab ya.

Kenapa saya memilih angka 168 candle sebagai Level of Zoom? Kenapa harus 168?

Jawaban gampangnya, karena saya menggunakan fitur yang disebut “Blank Bar”.

Blank Bar itu apa?

 

About Blank Bar…

Supaya lebih mudah dimengerti, langsung kita tunjukkan saja ya…

Di atas adalah chart saham TINS, yang dilengkapi dengan Blank Bars.

Kemudian, coba kita bandingkan dengan chart saham TINS yang sedikit berbeda…

Apakah sudah terlihat perbedaannya?

Di atas, adalah chart saham TINS., tanpa adanya Blank Bars.

Can you see it?

Blank Bars adalah ruangan kosong (blank), yang ada di paling ujung kanan chart kita. Untuk membantu dan mempermudah kita melakukan analisis dan visualisasi.

Chart yang dilengkapi dengan Blank Bars akan tampak lebih lega. Karena adanya ruang kosong di sebelah kanan Chart. Seolah memberikan pandangan yang lebih luas tentang kemana kira-kira market akan menuju.

Sedangkan chart yang tidak dilengkapi dengan Blank Bars,akan terlihat lebih sempit, terlalu berhimpitan dan sulit “ditebak” arah harganya mau kemana.

Perbedaan akan semakin terasa, jika kita sudah menambahkan coret-coretan garis. Enah itu Trendlines, Support/Resistance, Fibonacci Retracement/Extension atau target harga.

Coba perhatikan chart di bawah ini…

Di atas adalah chart saham TINS yang sama. Dengan Blank Bars. Yang juga sudah dicorat-coret dengan beberapa garis (chart studies).

Dapat kita lihat Bearish Trendline yang sudah ktia tetapkan. Berikut dengan dua garis yang menunjukkan area Support. Ini adalah salah satu contoh, pertanda market yang bersiap-siap untuk balik arah.

Sebagai perbandingan, coba perhatikan chart yang ini…

Ini juga chart saham TINS yang sama. Dengan corat-coretan garis yang juga sama. Namun tanpa Blank Bars, alias tidak ada ruang kosong di ujung sebelah kanan.

Kira-kira mana yang lebih enak dilihat? Mana yang lebih mudah dianalisis? Dan mana yang lebih menarik untuk divisualisasikan?

Nah, sampai disini, pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana cara men-setting Level of Zoom dan Blank Bars di aplikasi charting tools kita?

 

Level of Zoom on AmiBroker

Pertama-tama, kita coba tunjukkan di AmiBroker dulu ya. Karena AmiBroker adalah aplikasi charting tools yang memang saya gunakan sehari-hari.

Dan menurut saya, kalau memang kita mau serius mendapatkan profit di bursa saham (atau bursa-bursa yang lain), maka cepat atau lambat kita harus berinvestasi untuk membeli tools yang serius juga.

Aplikasi charting tools yang serius tidak hanya AmiBroker. Ada juga MetaStock. Dan keduanya sama bagusnya. Meski secara value for money, AmiBroker lebih oke. Namun banyak juga trader yang lebih cocok menggunakan MetaStock.

Sekarang untuk langkah step by step, dalam melakukan setting Level of Zoom dan Blank Bars di Amibroker, silakan tonton video berikut ini…

 

Level of Zoom on ChartNexus

Sekarang kita coba untuk melakukan hal yang sama di ChartNexus.

Untuk langkah step by step, dalam men-setting Level of Zoom dan Blank Bars di ChartNexus, silakan tonton video berikut ini…

See? It’s so simple! 🙂

 

Level of Zoom on Other Charting Tools

Bagaimana cara melakukan setting Level of Zoom dan Blank Bars di charting tools lain? Misalnya kalau kita menggunakan MetaStock, MetaTrader, platform aplikasi bawaan broker sekuritas, atau yang lain-lainnya?

Untuk aplikasi charting tools selain AmiBroker dan ChartNexus, sebenarnya pada prinsipnya juga sama. Dengan langkah-langkah yang kurang lebih sama.

Jika caranya tidak mirip seperti AmiBroker, biasanya caranya akan mirip dengan cara setting di ChartNexus. Dan yakinlah, bahwa itu mudah. 🙂

Setelah melakukan setting yang pertama, mari kita masuk ke pembahasan setting yang kedua.

 

2nd Setting : Candle vs. Bar

Sebelum kita masuk ke cara setting, ada baiknya kita kembali ke dasar sejenak. Back to basic.

Karena seperti yang sudah-sudah. Yang namanya basic, justru banyak diremehkan, banyak dilupakan, dan saat workshop/seminar sering kali materinya dilewatkan, karena dianggap sudah tahu.

Namun justru karena terlalu sering dilewatkan dan tidak diajarkan di kelas, akibatnya malah jadi banyak yang tidak tahu. Terutama para pemula yang belum punya cukup pengalaman melihat market.

Sekarang kita mulai dengan perbandingan antara Bar Chart dan Candlestick Chart…

Coba perhatikan ilustrasi di atas…

Yang di sebelah kiri adalah Bar Chart. Sedangkan yang disebelah kanan adalah Candle Chart.

Dua yang di atas, yang berwarna hitam, adalah Bar dan Candle pada saat market naik (Bullish). Sedangkan Dua yang di bawah, yang berwarna merah, adalah Bar dan Candle pada saat market turun (Bearish).

Secara penampakan, Bar Chart tampak lebih kurus. Sedangkan Candle Chart tampak lebih gemuk. Untuk identifikasi Bullish/Bearish, Bar Chart mengandalkan bentuk, sedangkan Candle Chart mengandalkan warna.

Kalau kita perhatikan secara sekilas, ya memang perbedaannya hanya disitu. Namun secara filosofis, ada perbedaan signifikan diantara keduanya. Yang kebanyakan orang nggak tahu.

Perbedaannya bagaimana?

 

Candle vs. Bar: Phylosophy

Secara filosofis, jika kita menggunakan Bar Chart, maka fokus utama kita adalah High dan Low.

Itulah sebabnya pada Bar Chart, penanda Open dan Close hanya berupa segaris kecil. Sebab memang bukan itu yang difokuskan. Melainkan High dan Low.

Di Candle Chart, malah berlaku hal yang sebaliknya. Fokus utamanya adalah Open dan Close. Hal yang dianggap “tidak penting” di Bar Chart, justru menjadi fokus utama di Candle Chart.

Itulah sebabnya, secara Candlestick orang akan lebih banyak bicara tentang bentuk dan pola Candle. Semua Candlestick Pattern yang kita tahu, selalu bicara tentang bentuk-bentuk Candle-nya. Yang terbentuk oleh Open dan Close.

Kecuali di beberapa pattern reversal, sangat jarang ada yang mengganggap penting panjang bayangan (panjang sumbu) Candle-nya. Yang terbentuk oleh High dan Low.

Jadi keduanya memang melihat market dari sudut pandang yang berbeda.

Yang mana yang lebih bagus?

 

Candle vs. Bar: Which One is Better?

Keduanya bagus. Dan keduanya diperlukan. Kita tidak harus memilih antara Bar Chart atau Candle Chart. Karena kita boleh pakai kedua-duanya sekaligus.

Kita bolah pakai Bar Chart yang lebih simple dan lebih “bersih”, untuk mengurangi keruwetan chart.

Dan kita juga boleh pakai Candle Chart, yang lebih semarak, lebih warna-warni dan lebih banyak “mengandung informasi”, untuk kita melakukan analisis yang lebih mendalam.

Contohnya seperti ini…

Gambar di atas adalah perbandingan antara Candle Chart dan Bar Chart, pada saham BBRI.

Chart yang di atas, adalah pergerakan harga saham BBRI menggunakan Candle Chart. Sedangkan yang di bawah, adalah pergerakan harga saham BBRI dengan Bar Chart.

Satu hal yang selalu direkomendasikan, bagi teman-teman yang baru mulai mendalami Support/Resistance, adalah menggunakan Bar Chart, manakala kita merasa bingung atau “tidak tentu arah”.

Sebab penampakan Bar Chart memang lebih simple dan lebih bersih. Karena tampilan layar kita menjadi lebih lega dan “plong”, sehingga level-level Support/Resistance-nya juga terlihat lebih mudah terbaca.

Seperti contoh chart saham BBRI di atas, misalnya.

Jika kita bandingkan, dengan melihat Candle Chart, mungkin ada diantara kita yang sedikit kesulitan dalam melihat level-level Support/Resistance yang ada.

Namun jika kita fokus pada Bar Chart, chart yang di bawah, mungkin malahan langsung terlihat, bahwa BBRI memiliki Support/Resistance di sekitar harga Rp.11.500,-.

Seperti yang kita tunjukkan pada gambar di bawah ini…

Garis Support/Resistance menjadi lebih mudah terlihat, karena chart-nya memang terlihat lebih clear dan simple. Saya yakin, selain satu garis Support/Resistance yang di atas, pasti teman-teman dapat dengan mudah melihat garis Support/Resistance yang lain. 🙂

Makanya, jika suatu saat kita bingung, dan kita tidak yakin market-nya mau kemana, atau kita agak ragu tentang arah market. Hal yang paling mudah dilakukan pertama kali adalah merubah penampakan chart kita. Dari yang tadinya Candle ke Bar.

Bagaimana caranya?

 

Candle and Bar on AmiBroker

Merubah penampakan chart kita dari Candle ke Bar sebenarnya sangat simple. Hanya perlu 3 kali klik saja. Silakan ikuti step by step seperti yang ditunjukkan oleh video di bawah ini…

Lalu bagaimana dengan ChartNexus?

Menggunakna ChartNexus malah lebih gampang lagi. Hanya 2 kali klik!

 

Candle and Bar on ChartNexus

Silakan ikuti step by step yang ada di video di bawah ini…

See? Just that easy! 🙂

 

About Chart Studies

Btw, ini masih tentang coret-coretan garis. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Chart Studies.

Jangan pernah ragu, jangan pernah takut, dan jangan pernah malas untuk mencorat-coret chart kita. Karena kami yang di sini, juga melakukan hal yang sama!

Jangan dikira kami selalu tahu market mau kemana. Kadang-kadang pun kami bisa bingung dan tidak yakin. Meskipun berkat kecanggihan teknologi, akses informasi menjadi lebih mudah didapat. Namun ada kalanya kami juga galau.

Karena sering kali semakin banyak mendapat informasi, bukannya malah semakin jelas. Tapi malah semakin membingungkan. Dan sekali lagi, ini juga terjadi pada kami!

Dan manakala itu terjadi, apa yang kami lakukan?

Yes. Kami lihat chart. Kami mulai corat-coret. Pertama trendline, lalu Support/Resistance, lalu garis-garis bantu (chart studies) yang lain.

Kenapa kami lakukan itu? Karena chart tidak pernah berbohong!

Berita bisa saja salah. Info “orang dalam” juga bisa saja bohong. Dan rumor mungkin benar, mungkin juga tidak. Tapi chart kita adalah sumber informasi yang paling cepat dan akurat.

Jika kita meragukan (atau tidak yakin) tentang suatu berita atau informasi, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah melihat chart! Konfirmasi langsung ke chart. Tidak perlu tanya siapa-siapa. Tidak perlu cari informasi kemana-mana.

Sebab semua informasi sudah tercermin di perilaku harga. Dan tergambar langsung di chart kita! Selama kita tahu cara membaca chart, kita sudah punya sumber informasi yang paling terpercaya! 

(Ya. Tentu saja ada beberapa pengecualian. Ada beberapa jenis saham yang chart-nya justru tidak bisa dipercaya. Tapi sekali lagi, itu pengecualian. Yang seperti itu sedikit sekali. Dan cara mengetahuinya juga gampang. Kapan-kapan kita bahas lagi soal ini.)

Sekarang, mari kembali lagi ke topik bahasan kita…

 

Candle vs. Bar: Why Not Both?

Sekali lagi, kita tidak harus memilih salah satu. Tidak perlu dipusingkan juga mau pakai yang mana. Entah itu Bar Chart atau Candle Chart. Karena kita boleh memanfaatkan kedua-duanya. Sebab kedua-duanya memang bagus dan bermanfaatnya.

Itulah sebabnya setiap aplikasi charting tools, pasti punya fitur untuk melihat Candle Chart dan Bar Chart. Dua-duanya ada. Jadi, kenapa harus pilih salah satu? Kalau keduanya tersedia, ya kenapa tidak kita manfaatkan saja? Iya kan?

Nah, setelah melakukan setting Level of Zoom dan sudah kita setting jenis chart-nya, sekarang kita masuk ke setting yang ketiga…

 

3rd Setting : Logarithmic vs. Linear

Tentang setting yang ketiga ini, terus terang saja, masih ada keheranan yang sampai saat ini belum tuntas dalam diri saya.

Heran kenapa?

Karena di luar sana, banyak trainer yang sama sekali tidak mengajarkan tentang ini. Bahkan masih banyak juga analis-analis yang tidak memanfaatkan setting-an yang satu ini. Padahal ini adalah salah satu setting yang paling mudah, dengan efek yang paling signifikan.

Dan sebentar lagi kita akan lihat, betapa powerful-nya analisis chart kita, jika kita men-setting dengan tepat. Bahkan profit yang kita dapat juga akan berlipat ganda, hanya karena setting-an yang simple seperti ini (yang cuma 2 kali klik doang!)

Nama setting-nya adalah: Scaling Unit.

Gampangnya, Scaling unit adalah tentang bagaimana chart tergambar dan bagaimana chart ditampilkan di layar monitor kita.

Dan seperti yang sudah kita lihat di setting sebelumnya (Candle vs Bar). Bahwa beda tampilan, bisa beda persepsi, bisa beda analisis, dan akhirnya bisa beda hasil trading-nya.

Scaling Unit ini ada 2 jenis, yaitu: Logarithmic Scaling dan Linear Scaling.

Bedanya dimana? Beda cara perhitungan dan kalkulasi. Tapi itu sebenarnya persoalan teknis yang tidak perlu kita pusingkan. Mari kita langsung saja lihat contohnya di chart…

Di atas adalah gambar chart saham BUMI.

Chart yang sebelah atas, menggunakan Linear Scaling. Sedangkan chart yang sebelah bawah, menggunakan Logarithmic Scaling.

Apakah sudah terlihat perbedaannya?

Jika belum. Mari kita runut secara kronologis.

Anggaplah di pertengahan Oktober, kita membeli saham BUMI, ketika harganya masih Rp.100,-.

Dan anggaplah strategi kita adalah Let the Profit Run.

Yang artinya, kita akan berusaha menahan diri, untuk tidak Profit Taking, sebelum ada tanda-tanda bahwa trend memang sudah berubah. Harapannya, kita dapat terus menumpang trend naik, sampai harganya benar-benar sudah di puncak.

Dengan kata lain, kita berusaha memeras profit hingga “tetes terakhir”.

Nah, disinilah bagian yang paling seru. Sekali lagi, coba perhatikan chart di bawah…

Secara teknikal, trend dapat dikatakan berubah jika harga secara resmi sudah menembus trendline.

Nah, sekarang coba perhatikan kedua chart di atas.

Untuk chart yang Linear (yang sebelah atas), saham BUMI turun menembus trendline, ketika harganya sekitar Rp.350,-. Inilah akhir dari trend naik saham BUMI. Yang juga artiya harga dimana kita melakukan Profit Taking.

Artinya apa?

Artinya saham BUMI sudah turun kurang lebih 30% dari puncak trend-nya, yang di harga Rp.500,-. Dan di harga Rp.350,- itulah kita baru Profit Taking.

Sedangkan untuk chart yang Logarithmic (yang sebelah bawah), saham BUMI sudah turun menembus trendline, saat harganya sekitar Rp.450,-. Inilah yang kita anggap sebagai akhir dari trend naik saham BUMI. Yang adalah titk Profit Taking kita.

Sudah dapat dimengerti perbedaannya?

Dengan menggunakan Linear Scale, kita beli di Rp.100,- dan kita jual di Rp.350,-.

Sedangkan kalau menggunakna Logarithmic Scale, kita beli di Rp.100,- tapi kita jual di Rp.450,-.

Chart saham yang sama. Strategi trading yang sama. Teknik analisis yang persis sama juga. Hanya setting-an chart-nya saja yang berbeda.

Dengan setting Linear, profit “cuma” 3 kali lipat. Not bad sebenarnya. Patut disyukuri juga.

Tapi dengan menggunakan setting Logarithmic, profit kita meningkat sampai 4 kali lipat lebih.

Dengan kata lain, Logarithmic Scale membuat chart kita lebih responsif, lebih akurat, dengan potensi profit yang jauh lebih besar, dibandingkan kalau kita menggunakan Linear Scale. Dan perbedaan diantara keduanya hanya 2 kali klik!

Anda pilih yang mana? 🙂

 

Logarithmic Scale on AmiBroker

Secara default, kebanyakan aplikasi charting tools akan menggunakan setting Linear. Untuk merubah setting tersebut di AmiBroker, silakan ikuti langkah-langkah berikut ini…

 

Logarithmic Scale on ChartNexus

Merubah setting dari Linear ke Logarithmic di ChartNexus juga tidak kalah mudahnya. Yes, hanya perlu dua kali klik juga…

This is too damn easy! Tapi kenapa nggak banyak yang melakukan?

 

Let’s Recap!

Akhirnya, kita sampai juga ke penghujung artikel! Hehehe

Sampai sekarang, kita sudah membahas banyak sekali hal-hal yang basic dan mendasar, tapi sangat penting, dan sayangnya justru banyak dilupakan orang.

Apa saja yang sudah kita bahas?

Pertama, kita membahas tentang Timing Myopia. Yaitu kejadian manakala kita bingung melihat pergerakan harga dan tidak tahu market-nya mau kemana. Yang disebabkan oleh pandangan kita yang masih sempit.

Cara menghindari Timing Myopia adalah dengan melihat, dan mengamati trend dari perspektif yang lebih luas. Untuk itu, kita harus paham tentang 3 jenis trend.

Apa saja ketiga jenis trend tersebut?

Trend jangka panjang, atau Primary Trend. Yang berlangsung lebih dari 150 candle. Atau kurang lebih 7-8 bulan (di chart daily).

Trend jangka menengah, atau Secondary Trend. Yang berlangsung antara 15 candle, sampai dengan 150 candle. Atau kurang lebih antara 3 minggu sampai 30 minggu (di chart daily).

Trend jangka pendek, atau Minor Trend. Yang adalah trend yang paling singkat, dan berlangsung kurang dari 15 candle. Atau kurang dari 3 minggu (di chart daily).

Selanjutnya, kita juga belajar, untuk dapat melihat ketiga jenis trend tersebut. Dan supaya analisis kita semakin jitu dan akurat, kita perlu men-setting ulang aplikasi charting tools kita.

Ada 3 setting yang perlu kita atur ulang.

Pertama, Level of Zoom. Kita harus memastikan, bahwa yang terlihat di chart kita adalah 150-180 candle. Itu adalah jumlah candle yang ideal dalam satu screen, tanpa kita harus men-scroll ke kanan atau kiri. Jangan terlalu banyak. Tapi juga jangan terlalu sedikit.

Kedua, Chart Type. Kita gunakan Bar Chart dan Candlestick Chart. Kita gunakan kedua-duanya, dan kita sesuaikan dengan kondisi marketnya, dan apa yang mau kita lihat.

Ketiga, Scaling Unit. Kita harus memastikan bahwa yang lihat adalah Logarithmic Scale. Agar trading kita menjadi lebih responsif dan tidak sering-sering “ketinggalan kereta”.

That’s it!

Sampai disini dulu tulisan kali ini. Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Keep calm and trade your plan!

Ariz

Btw, Sebelum Anda Pergi...

Ini termasuk artikel yang sangat panjang. Tidak kurang dari 8700++ kata (sekitar 60 halaman A4). Jika Anda kebetulan sedang sibuk, atau tidak punya banyak waktu, silakan download saja PDF-nya dulu...

 

Download PDF, GRATIS!