Tentang January Effect

Bagi yang belum tahu, January Effect adalah sebuah fenomena yang teramati di Bursa Efek (terutama di pasar saham, meski terkadang terjadi juga di pasar obligasi dan fixed income).

Dimana pada bulan Januari, harga saham-saham cenderung mengalami penguatan dan kenaikan yang cukup signifikan.

Fenomen January Effect pertama kali tercetus pada tahun 1942 (Yes, zaman waktu Indonesia masih di bawah penjajahan Jepang!).

Ketika itu, seorang Investment Banker bernama Sidney B. Wachtel menyatakan, bahwa sejak tahun 1925, saham-saham cenderung menguat di bulan Januari. Dengan rata-rata kenaikan yang melebih bulan-bulan lainnya di tahun yang sama.

Jadi ini sebenarnya hipotesa lama yang sudah terjadi selama hampir 100 tahun. Sekali lagi, ini adalah hipotesa. Bukan teori, bukan hukum, dan tidak selalu terjadi setiap tahun.

Namun ada satu hal yang tidak banyak diketahui orang…

January Effect pada umumnya terjadi di saham-saham non Blue Chip!

Koq bisa begitu? Apa penyebabnya?

Karena sebenarnya January Effect ini masih kelanjutan dari fenomena Window Dressing, yang biasanya terjadi di akhir tahun.

Pada fenomena Window Dressing, para Fund Manager besar dan reksandana, berbondong-bondong membeli saham-saham Blue Chip. Dengan maksud supaya laporan portfolio dan kinerja akhir tahun mereka tampak bagus dan berkualitas.

Setelah portfolio mereka tercatat secara sah per 31 Desember, dan setelah memasuki tahun baru, para Fund Manager ini pada umumnya mulai “membuang” saham-saham Blue Chip mereka, untuk membeli saham-saham non Blue Chip yang lebih potensial (growth stock).

Kenapa?

Karena saham-saham Blue Chip pada umumnya adalah saham-saham yang pergerakan harganya cukup stabil (alias kalau harganya naik, naiknya pelan-pelan).

Sifat saham Blue Chip ini cukup berbeda dengan saham-saham non Blue Chip. Terutama non Blue Chip yang terkategori Growth Stock (alias saham yang kalau harganya naik, naiknya cepat dan signifikan!)

Itulah sebabnya, setelah lewat tahun baru, para Fund Manager itu mulai menjual saham-saham yang gerakannya lambat, untuk di-switch ke saham-saham yang lebih cepat dan lebih potensial naik di tahun itu.

Ya karena para Fund Manager itu kan seperti kita-kita juga. Mereka pun mengejar profit sebesar-besarnya.

Inilah satu hal yang sering kali luput dari perhatian banyak orang. Dan sekarang Anda juga sudah tahu! 🙂