5 Indikator Analisis Teknikal yang Paling Akurat untuk Trading dan Investasi Saham

"Riz, indikator apa yang paling ampuh?"

"Analisis teknikal apa yang paling Akurat?"

"Metode trading apa yang paling manjur?"

Sebagai orang yang sudah belasan tahun bergelut di Bursa Efek Indonesia, dan yang sudah beberapa tahun belakangan melakukan edukasi dan sharing seputar trading/investasi saham, pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin sudah ribuan kali ditanyakan ke saya.

Dan biasanya jawabannya saya berbeda-beda. Tergantung topik apa yang sedang dibahas, dan siapa yang bertanya.

Karena sebenarnya indikator apa yang paling ampuh, yang paling manjur dan yang paling akurat, itu sebenarnya tergantung gaya trading/investasi, tingkat pengetahuan dan eksekusi dari trader-nya sendiri.

Tapi oke lah. Kalau memang mau tahu (dan supaya nggak ada yang penasaran lagi), berikut adalah 5 indikator analisis teknikal, yang menurut saya paling ampuh, manjur dan akurat untuk trading dan investasi saham di Bursa Efek Indonesia. 

Btw, Sebelum Itu...

Harap diingat, bahwa di luar indikator yang kita bahas disini, sebenarnya banyak indikator lain yang juga sama-sama ampuh. Tapi saya sengaja memilih indikator-indikator yang lebih umum, dan yang tersedia luas.

Indikator-indikator berikut ini umumnya tersedia di semua aplikasi OLT (On-Line Trading), yang banyak ditawarkan oleh sekuritas-sekuritas di Indonesia. Juga banyak tersedia di aplikasi-aplikasi charting tools di Android dan iOS.

Apa saja indikator-indikator tersebut?

Ini dia...

1) Stochastic Oscillator

Analisis Teknikal Saham IHSG - Indikator Akurat Stochastic

Indikator Stochastic ini diciptakan oleh George Lane, di sekitar tahun 1950an. Seorang trader kenamaan yang berbasis di CME (Chicago Mercantile Exchange). Bursa komoditas utama di Amerika Serikat.

Stochastic Oscillator adalah indikator analisis teknikal saham, yang sifatnya adalah mengukur momentum. Sekali lagi, Stochastic adalah indikator momentum, bukan indikator trend.

Itulah sebabnya, indikator Stochastic sangat ampuh untuk digunakan sebagai indikator Swing Trading. Yang strategi utamanya adalah Buy Low, Sell High.

Satu kesalahan yang paling umum dilakukan oleh para trader dan investor di Indonesia adalah, mereka menggunakan Stochastic dengan berpatokan pada Overbought atau Oversold.

Padahal Overbought dan Oversold itu BUKAN SINYAL STOCHATIC!

Mereka yang berpatokan pada Overbought dan Oversold, pasti akan sering salah posisi. Karena cara membaca Stochastic memang bukan begitu.

Padahal kalau kita tahu rahasia cara membaca Stochastic dengan benar, berdasarkan pengalaman saya pribadi, indikator ini adalah salah satu indikator yang paling akurat yang pernah diciptakan!

2) MACD

Analisis Teknikal Saham IHSG - Indikator Akurat MACD

MACD adalah sebuah singkatan dari Moving Average Convergence-Divergence. Sebuah indikator analisis teknikal yang diciptakan oleh Gerald Appel, pada sekitar tahun 1970an. Seorang trader dan analis yang juga banyak menulis buku.

Indikator MACD sendiri pertama kali dibahas secara mendetail dalam salah satu buku beliau yang berjudul: Technical Analysis, Power Tools for Active Investors.

Berbeda dengan Stochastic yang mengukur momentum. MACD adalah indikator yang digunakan untuk mengukur dan mendeteksi trend.

Itulah sebabnya, sinyal yang dimunculkan antara Stochastic dan MACD sering kali berlawanan. Ketika MACD baru muncul sinyal Buy, di Stochastic malah sudah muncul sinyal Sell. Begitu juga sebaliknya.

MACD tidak cocok digunakan untuk Swing Trading. Karena MACD adalah indikator trend, yang lebih cocok digunakan untuk strategi Position Trading dan Trend Following.

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah, banyak trader dan investor saham terlalu berpatokan pada golden-cross dan dead-cross.

Oke. Golden-cross dan dead-cross memang adalah sinyal Buy dan Sell pada indikator MACD. Sampai disini memang benar. Tapi Gerald Appel sendiri juga menyarankan untuk kita melakukan konfirmasi sinyal.

Karena tidak semua golden-cross adalah Buy. Dan tidak semua dead-cross adalah Sell. Inilah yang banyak menjebak para trader dan investor saham di Indonesia!

3) Moving Averages

Analisis Teknikal Saham IHSG - Indikator Akurat Moving Averages

Moving Averages dapat disebut sebagai salah satu indikator analisis teknikal saham yang paling tua. Bahkan sangking tuanya, kita sudah tidak tahu lagi, entah siapa yang pertama kali menciptakan indikator ini.

Berdasarkan penelurusan saya, rumus Moving Averages pertama kali dicetuskan di tahun 1901. Itu pun bukan digunakan sebagai indikator analisis teknikal saham. Melainkan sebagai metode statistik yang disebut Time Series Analysis.

Orang yang (mungkin) pertama kali mempopulerkan penggunaan Moving Averages sebagai indikator analisis teknikal adalah Richard Donchian. Beliau juga dikenal sebagai the Father of Trend Following.

Pada tahun 1961, Richard Donchian mempopulerkan sebuah strategi (trading system), yang menggunakan MA5 dan MA20. Sebuah strategi yang masih populer hingga sekarang.

Kalau Anda pernah bertanya-tanya: Kenapa harus MA5 dan MA20? Dan dari mana pula asalnya angka MA50 dan MA200?

Maka jawabannya adalah dari Richard Donchian.

Namun satu hal yang tidak banyak orang tahu, Richard Donchian TIDAK PERNAH mengajarkan MA Golden-cross/Dead-cross. Trading system yang aslinya bukan seperti itu. Garis MA5 yang memotong MA20 itu BUKAN sinyal Buy/Sell!

Hal lainnya yang tidak banyak orang tahu adalah, Richard Donchian sendiri pernah menyatakan, bahwa angka MA5 dan MA20 itu TIDAK MUTLAK. Ada kombinasi angka MA lain yang lebih optimal. Tapi sayangnya, beliau tidak pernah secara jelas memberitahu berapa angka MA yang terbaik.

Nah, lho? Lalu angka MA berapa yang harus kita gunakan? Pantas saja banyak trader dan investor saham di Indonesia yang salah posisi kalau mengikuti sinyal Moving Averages. Hehehe.

4) Support Resistance

Analisis Teknikal Saham IHSG - Indikator Akurat Support Resistance

Yes. Saya tahu. Support/Resistance memang bukan indikator. Tapi saya tetap masukkan ke dalam daftar indikator yang paling akurat untuk analisis teknikal saham.

Kenapa?

Karena menurut saya, analisis Support/Resistance adalah metode yang paling powerful untuk melakukan analisis teknikal, terutama untuk melakukan analisis teknikal saham.

Sebab di bursa saham, sedikit berbeda dengan bursa forex dan komoditas, dinamika Supply dan Demand-nya lebih jelas terbaca. Karena selain lewat chart saham per saham, kita juga dapat mengkonfirmasi Suppport/Resistance dengan melihat perubahan Bid-Offer lewat Order Book.

Itulah sebabnya, banyak orang merasa level Support/Resistance yang ada di chart saham cenderung lebih akurat dan mudah dibaca.

Analisis Support/Resistance dapat digunakan untuk Swing Trading dan Trend Following. Penerapannya sangat luas dan universal. Dan boleh kita gabung dan gunakan bersamaan indikator analisis teknikal yang lain.

Bahkan Richard Donchian, the Father of Trend Following (yang tadi sempat kita bicarakan), juga menggunakan analisis Support/Resistance. Beliau menggunakan analisis ini untuk menciptakan indikator yang disebut Donchian Channel dan startegi trading Four-Week Rule (4WR).

Sedangkan untuk melakukan Swing Trading, analisis Support/Resistance digunakan untuk menentukan trading range. Dan menetapkan kapan saatnya kita Buy Low, dan kapan saatnya kita Sell High.

Sayangnya, banyak trader dan investor saham, terutama yang masih pemula, menganggap analisis Support/Resistance ini sulit dipelajari. Bahkan yang sudah trading bertahun-tahun pun, banyak yang masih enggan mempelajari analisis ini.

Padahal sebenarnya analisis Support/Resistance tidak sesulit itu. Bahkan cenderung sangat simple dan mudah. Tentu saja, asalkan kita tahu trik dan caranya.

5) Candlestick Pattern

Analisis Teknikal Saham IHSG - Indikator Akurat Candlestick

Yes. Sama seperti Support/Resistance, Candlestick Pattern juga bukan indikator. I know. I know.

Lalu kenapa masih disebut-sebut disini juga? Ini kan artikel yang khusus membahas tentang indikator analisis teknikal! Hehehe

Ya, karena kita sedang membahas indikator analisis teknikal saham yang paling ampuh, manjur dan akurat. Meskipun technically speaking, Candlestick Pattern "wujud"-nya bukan indikator, tapi kenyataannya memang analisis ini salah satu yang paling powerful.

Sekali lagi, tentu saja, kalau kita tahu cara membaca Candlestick dengan benar!

Kalau saya perhatikan selama ini, banyak trader dan investor di Indonesia, yang terlalu terpaku pada pola-pola candlestick. Segala rupa bentuk candlestick dipelajari dan dihafalkan.

Padahal menurut pengalaman saya, hanya ada 7 pasang bentuk Candlestick, yang paling sering muncul dan yang paling akurat di saham-saham Bursa Efek Indonesia.

Jadi sebenarnya kita tidak perlu menghafal semuanya. Satu per satu. Apa lagi menghafal sampai puluhan bentuk dan pola Candlestick.

Kita trading saja sudah susah, ya jangan dibuat semakin susah. Hehehe

Cukup hafalkan yang 7 pasang ini saja. Itu pun tidak perlu dihafal. Cuma 7 pasang koq, nanti lama-lama juga akan ingat sendiri. Hehehe

Kesalahan lainnya adalah, karena terlalu fokus pada bentuk Candlestick, akhirnya lupa melihat Trend dan Context.

Asal tahu saja, tidak semua pola Hammer menghasilkan reversal. Tidak semua Harami dan Engulfing berarti sinyal Buy/Sell.

Padahal menurut Steve Nison, penulis buku Japanese Candlestick Charting Techniques, dan yang pertama kalinya mempopulerkan penggunaan analisis Candlestick, setiap pola Candlestick yang muncul harus dibaca dengan memperhatikan trend dan context.

Apa itu Trend dan Context? Dan bagaimana cara membacanya?

Terus terang, penjelasannya cukup panjang. Dan harus dijelaskan berikut dengan contoh kasusnya. Jadi tidak mungkin kita bahas disini.

(Artikel ini saja sudah cukup panjang. Kalau Anda sudah membaca sampai sejauh ini, saya ucapkan terima kasih! Hehehe)

Percuma Indikatornya Ampuh, Kalau...

Kalau saya boleh jujur, sepanjang sejarah analisis teknikal, terutama analisis teknikal saham, sudah ada ratusan (bahkan ribuan indikator) yang telah diciptakan. Dan banyak diantaranya yang sebenarnya cukup ampuh dan akurat.

Tapi masalahnya sering kali bukan di indikatornya. Masalah sebenarnya justru di trader-nya sendiri.

Terutama trader dan investor saham di Bursa Efek Indonesia. Yang banyak belajar secara otodidak, namun belajar dari sumber-sumber ilmu yang meragukan, tidak lengkap dan cuma setengah-setengah.

Penyebab Utama Salah Beli dan Salah Jual...

Sepanjang artikel ini pun saya sudah berkali-kali mengungkapkan, bahwa banyak trader dan investor di Indonesia, yang ternyata masih salah kaprah dalam membaca indikator.

Kalau dari cara membaca indikator saja sudah salah, lalu bagaimana trading-nya mau profit? Iya kan?!

Menurut pengalaman saya, 80% kasus salah beli, salah jual, salah posisi, dll, semua itu terjadi bukan karena salah indikatornya. Tapi karena salah baca dan salah mengartikan sinyal.

Apa lagi kalau sampai ada kejadian, kita menggunakan beberapa indikator, dan sinyal yang muncul saling berlawanan. Seperti yang tadi sempat kita bahas di awal.

Yang satu muncul sinyal BUY. Yang satunya lagi muncul sinyal SELL. Yang satu bilang mau naik. Tapi yang lain bilang malah mau turun.

Inilah yang membuat banyak trader dan investor saham, terutama yang masih pemula, semakin bingung, bertambah galau dan cenderung tidak PD dalam mengambil posisi.

Kalau begitu solusinya bagaimana?

Solusinya simple.

Belajarlah dari sumber yang dapat dipercaya. Yang memberikan paparan dan penjelasan secara utuh dan komprehensif. Bukan ilmu yang setengah-setengah dan yang tidak lengkap.

Itulah sebabnya, di dalam IDXchart Premium Membership, tersedia video tutorial untuk masing-masing indikator ini. Lengkap dengan puluhan contoh kasus dan chart saham per saham.

Kalau kebetulan Anda sudah bergabung dengan IDXchart Premium Membership, saya ucapkan selamat! Karena Anda sudah tahu "rahasia" membaca indikator, yang tidak diketahui oleh 90% trader dan investor di Indonesia.

Tapi kalau Anda belum bergabung, yah... tunggu apa lagi?! Hehehe

Dapatkan Market Update IHSG Hari Ini... 

Langsung ke inbox Anda, GRATIS!