Kenali 3 Ciri-ciri Dead Cat Bounce di Bursa Saham

“Even a dead cat will bounce if it falls from a great height!”

Di atas adalah frasa yang kalau diterjemahkan secara bebas, kira-kira artinya: “Bahkan kucing mati sekalipun akan memantul, kalau jatuh dari tempat yang tinggi!”

Frasa tersebut menggambarkan sebuah fenomena di Bursa Saham yang disebut Dead Cat Bounce. Atau bahasa Indonesianya: Pantulan Kucing Mati.

Sebuah fenomena yang kerap kali membuat banyak trader dan investor terjebak, untuk membeli saham yang dikira harganya sudah cukup murah. Namun ternyata besoknya malah turun lagi.

Untuk itu, ada baiknya kita mengenali ciri-cirinya. Sehingga ketika kita menyaksikan kejadian Dead Cat Bounce di salah satu saham, kita dapat terhindar dari risiko kerugian yang sia-sia.

Apa Itu Dead Cat Bounce?

Secara analisis teknikal saham, Dead Cat Bounce didefinisikan sebagai kenaikan harga saham yang hanya berlangsung sesaat, setelah mengalami penurunan yang tajam dan signifikan.

Dead Cat Bounce biasanya terjadi pada saham-saham yang harganya mendadak turun dan anjlok secara tiba-tiba. Dan turunnya juga sangat dalam.

Hal ini sebenarnya agak mirip dengan Technical Rebound. Dimana harga “memantul” setelah mengalami penurunan yang cukup signifikan (Bearish Down-trend).

Namun pada Dead Cat Bounce, biasanya penurunan yang terjadi sangat dramatis dan signifikan. Jauh lebih dramatis daripada trend turun saham pada umumnya.

Selain itu, Dead Cat Bounce juga memiliki ciri khasnya yang lain, yang membuatnya berbeda daripada Technical Rebound biasa.

Ciri Dead Cat Bounce #1: Volatilitas Tinggi

Ciri khas pertama dari Dead Cat Bounce adalah tingkat volatilitas yang tinggi.

Artinya, setelah harga saham mengalami penurunan yang sangat tajam, namun tiba-tiba pantulan yang terjadi berikutnya juga tidak kalah “heboh”-nya.

Kalau misalnya biasanya saham tersebut hanya bergerak naik turun 3% dalam sehari. Pada Dead Cat Bounce, kenaikan yang terjadi bisa sampai 5% dalam sehari.

Inilah yang membuat Dead Cat Bounce menjadi sangat “menggoda” untuk di-trading-kan. Karena dalam sehari, harga dapat naik sangat banyak. Dengan potensi keuntungan yang jauh lebih besar daripada biasanya.

Namun hal ini pula yang membuat banyak trader dan investor terjebak. Sehingga mereka membeli saham karena menyangka trend turun sudah berakhir. Padahal ternyata besoknya masih turun lagi.

Ciri Dead Cat Bounce #2: Hanya Berlangsung Sesaat

Hal berikutnya yang membedakan Dead Cat Bounce dengan Technical Rebound adalah jangka waktunya.

Seperti yang sudah kita pelajari di TRANSIT Investing™ Masterclass, pada Module #1: Trend Analysis (terutama pada penjelasan tentang 3 jenis trend).

Trend jangka pendek adalah trend yang berlangsung selama 3 minggu atau kurang. Sedangkan trend jangka menengah adalah trend yang berlangsung antara 3 minggu sampai dengan 30 minggu.

Pada Technical Rebound, pantulan harga terjadi pada trend jangka pendek dan/atau trend jangka menengah.

Sedangkan pada Dead Cat Bounce, pantulan yang terjadi hanya berlangsung dalam hitungan hari. Bahkan sering kali harga cuma naik satu hari, untuk kemudian langsung turun kembali besoknya.

Ciri Dead Cat Bounce #3: Tertahan Resistance Kuat

Kenaikan Dead Cat Bounce sering kali terhadang oleh adanya area Resistance yang cukup kuat. Entah itu Resistance psikologis, maupun Support/Resistance Reversing Role.

Hal ini sejalan dengan yang sudah kita pelajari di TRANSIT Investing™ Masterclass, dalam Module #1: Trend Analysis (penjelasan tentang 3 arah trend).

Pada trend turun (Bearish Down-trend), Resistance cenderung menjadi sangat kuat. Sedangkan Support akan menjadi sangat lemah. Inilah yang membuat harga lebih mudah turun ketimbang naik.

Pada Technical Rebound, umumnya harga saham perlu waktu lebih dari seminggu untuk naik dan mencapai area Resistance. Sedangkan pada Dead Cat Bounce, hanya perlu waktu satu hari dan sudah langsung mencapai Resistance terdekatnya.

Strategi Menghadapi Dead Cat Bounce

Selain dari ketiga ciri khas diatas, masih ada satu lagi pertanda Dead Cat Bounce, yang dapat kita jadikan patokan dalam melakukan analisis. Yaitu: TIDAK MUNCUL sinyal Buy.

Hal ini berlaku terutama kalau kita menggunakan indikator-indikator trend (misalnya: MACD dan Moving Average). Meskipun kadang-kadang di indikator momentum (seperti Stochastic dan RSI), sinyal Buy juga tidak muncul sama sekali.

Jika kita sudah melihat tanda-tanda ini, maka kita patut berhati-hati. Karena Dead Cat Bounce adalah fenomena yang sangat sulit diprediksi (upredictable).

Itulah sebabnya trading di saham-saham yang mengalami Dead Cat Bounce memiliki risiko yang sangat besar. Bahkan risikonya jauh lebih besar daripada melakukan strategi Bottom Fishing.

Menurut pengalaman saya, strategi terbaik dalam menghadapi Dead Cat Bounce adalah dengan melakukan wait and see. Ibarat menangkap pisau yang jatuh dari ketinggian, lebih baik kita melihat dari pinggir dan menjadi penonton saja.

Jangan sampai kita terbawa suasana dan mengalami euforia. Sehingga akhirnya malah menuruti emosi sesaat, dan mengalami risiko kerugian yang sebenarnya tidak perlu.