Rangkuman Buku The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett

The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett adalah artikel yang disadur dan dirangkum dari buku yang berjudul sama, The Snowball: Warren Buffett And The Business of Life. Sebuah biografi Warren Buffett yang ditulis oleh Alice Schroeder.

Buku ini terbilang unik. Karena kebanyakan buku tentang Warren Buffett adalah buku yang ditulis oleh para jurnalis yang mengikuti sepak terjang beliau. Sering kali tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari Warren Buffett. Sedangkan buku ini adalah satu-satunya buku yang ditulis dari penuturan langsung Warren Buffett sendiri kepada penulisnya.

Kalau Anda tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 800 halaman (versi Bahasa Inggris), semoga artikel berseri ini dapat membantu Anda mendapatkan poin-poin utama dan intisari dari buku tersebut.

Latar Belakang Keluarga Warren Buffett

Warren Edward Buffett dilahirkan pada tanggal 30 Agustus 1930. Kurang lebih sekitar 10 bulan setelah kejadian yang dikenal sebagai “Black Tuesday” (Selasa Kelam) tahun 1929.

Sekedar informasi saja. Tragedi Black Tuesday terjadi pada tanggal 29 Oktober 1929, dimana bursa saham Amerika Serikat mengalami market crash. Dan Down Jones Industrial Average turun lebih dari 23% dalam waktu hanya 2 hari saja.

“Black Tuesday” ini adalah sebuah kejadian yang menjadi awal dimulainya masa depresi berkepanjangan “Great Depresion”. Dimana perekonomian Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang sangat parah.

Pemecatan dan pengangguran terjadi dimana-dimana. Angka pengangguran naik hingga 25%. Pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Lokasi tambang, lahan pertanian dan peternakan juga ditutup. Semuanya karena harga jual tidak menutupi ongkos produksi.

Dan tepat di situasi dan kondisi seperti itulah, seorang Warren Buffett lahir dan dibesarkan!

Ayahnya, Howard Buffett, adalah seorang pialang saham (stockbroker) yang bekerja di Union State Bank. Dan ketika Bank tersebut gulung tikar pada bulan Agustus 1931, beliau dan dua orang rekannya memutuskan untuk membuka perusahaan sekuritas mereka sendiri.

Sebuah keputusan yang luar biasa berani. Mengingat pada tahun 1931, krisis ekonomi Amerika Serikat sebenarnya belum berakhir. Dan keadaan sepertinya semakin susah dari hari ke hari.

Tapi anehnya, meski kondisinya sesulit itu, Howard Buffett tetap dapat menjalankan perusahaannya dengan baik.

Karena beliau fokus pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan. Misalnya saham-saham perusahaan Utilites (perusahaan air leding, perusahaan listrik, dan sejenisnya).

Berbeda dengan di Indonesia, dimana perusahaan listrik dan air dikuasai oleh Negara (via PLN dan PDAM). Di Amerika Serikat, persoalan listrik dan air dikuasai oleh perusahaan swasta, yang sahamnya boleh dibeli oleh umum (perusahaan publik).

Dan saham-saham itulah yang difokuskan oleh Howard Buffett!

Kehidupan Masa Kecil Warren Buffett

Dalam buku The Snowball, Warren Buffett menceritakan masa kecilnya…

“When I was a kid, I got all kinds of good things. I had the advantage of a home where people talked about interesting things, and I had intelligent parents and I went to decent schools. I don’t think I could have been raised with a better pair of parents. That was enormously important. I didn’t get money from my parents, and I really didn’t want it. But I was born at the right time and place. I won the ‘Ovarian Lottery’.”

– Warren Buffett

“Ketika saya kecil, saya mendapatkan banyak hal-hal yang baik. Saya tinggal di rumah dimana orang-orangnya membicarakan tentang banyak sekali hal yang menarik. Dan saya memiliki orang tua yang cerdas, serta saya masuk ke sekolah yang baik. Saya tidak berpikir saya dapat dibesarkan oleh orang tua yang lebih baik daripada kedua orang tua saya sendiri. Saya memang tidak mendapatkan warisan harta dari mereka, dan saya juga tidak menginginkannya. Tapi saya dilahirkan pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat pula. Saya telah memenangkan ‘Undian Indung Telur’ (Ovarian Lottery).”

Ketika Warren Buffett masuk TK, pada umur 6 tahun, minat dan kegemarannya selalu berhubungan dengan angka.

Hadiah favoritnya adalah sebuah Stopwatch, yang selalu beliau pakai dan gunakan kemana-mana.

Dan ketika beliau masih SD kelas 1 (first grade), pada tahun 1936, beliau dan temannya menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat mobil yang lalu lalang di jalanan. Di pinggir jalan itu, Warren Buffett akan mencatat plat nomor mobil-mobil yang lewat. Semuanya dicatat dengan rapi, kolom demi kolom.

Sekilas memang kelihatan sangat “kurang kerjaan”. Tapi Warren Buffett kecil memang suka sekali semua kegiatan yang berhubungan dengan angka dan hitung-hitungan.

Saat beliau kelas 5 SD (5th grade), Warren Buffett sibuk menghafal fakta-fakta di ensiklopedia World Alamanac, dan mengahafal statistik para pemain Baseball.

Di sekitar umur yang sama, bibinya, Alice, memperkenalkan Warren Buffett kepada permainan kartu Bridge, yang sangat populer ketika itu. Permainan kartu inilah yang kelak menjadi passion beliau sepanjang hidupnya, hingga sekarang.

Bisnis Pertama Seorang Warren Buffett

Beliau juga sudah memulai usaha kecil-kecilan sejak sekolah. Pertama-tama dengan berjualan permen karet, yang beliau tawarkan ke teman-teman sekolah dan para tetangganya.

Dan hingga Warren Buffett menginjak usia 12 tahun, usaha tersebut telah berkembang. Dari yang semula hanya berjualan permen karet, sekarang Warren Buffett mulai menjual aneka rupa produk. Misalnya Coca Cola, koran (the Saturday Evening Post), majalah (Liberty), kacang-kacangan, popcorn, bahkan bola golf bekas.

Selain berjualan, Warren Buffett juga sering menghabiskan waktu di kantor ayahnya (Perusahaan sekuritas). Dimana beliau membaca berita dan laporan keuangan.

Pengalaman yang Merubah Hidup Warren Buffett

Pada ulang tahun beliau yang ke sepuluh tahun, Warren Buffett meminta hadiah ulang tahun kepada ayahnya, untuk diajak berjalan-jalan langsung ke gedung New York Stock Exchange (Bursa Efek New York).

Sebuah pengalaman yang ternyata merubah hidup beliau. Karena tepat pada saat itulah Warren Buffett memutuskan untuk menjadi kaya dan menjadi seorang milarder di usia 35 tahun.

Sebuah cita-cita yang sepertinya sangat muluk-muluk untuk seorang anak berusia 10 tahun. Mengingat pada saat itu Amerika Serikat (masih!) belum terbebas dari krisis ekonomi.

“Money could make me independent. Then I could do what I wanted to do with my life. And the biggest thing I wanted was to work for myself. I didn’t want other people directing me. The idea of doing what I wanted to do every day was important to me”.

– Warren Buffett

“Uang dapat membuat saya independen. Dan saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan dalam hidup. Dan hal terbesar yang saya inginkan adalah bekerja untuk diri saya sendiri. Saya tidak mau disuruh-suruh dna diperintah oleh orang lain. Ide untuk melakukan apa yang saya ingin lakukan setiap hari, adalah hal yang penting bagi saya.”

Saham Pertama yang Dibeli oleh Warren Buffett

Saat menginjak usia 12 tahun, Warren Buffett telah menabung dan mengumpulkan uang sebanyak $120. Pada musim semi tahun 1942, beliau berpatungan dengan kakaknya, Doris, untuk membeli 3 lembar saham Cities Service.

Dan begitu Warren Buffett membeli saham tersebut di harga $38.25, saham tersebut ternyata turun hampir 30%, ke harga $27.

Yes! Warren Buffett sudah mengalami yang namanya saham nyangkut sejak umur 12 tahun! 🙂

Untungnya, ternyata saham Cities Service mengalami reversal (balik arah). Dan Warren Buffett langsung melakukan take profit di harga $40. Dengan total keuntungan sekitar $5 untuk dua orang kakak beradik tersebut.

Namun kelak, Warren Buffett kecil sangat terkejut. Karena ternyata saham Cities Service terus naik. Bahkan terbang dari harga $40 ke harga $202. Naik 5 kali lipat dalam waktu singkat!

Sebuah pengalaman yang sangat-sangat berharga, bagi seorang bocah berumur 12 tahun! 🙂

Properti Pertama yang Dibeli oleh Warren Buffett

Warren Buffet meneruskan usaha kecil-kecilannya hingga masuk ke sekolah menengah. Berjualan ini itu, dan aktif mencari cara untuk menghasilkan uang. Sehingga begitu mencapai usia 15 tahun, Warren Buffett sudah memiliki tabungan sebesar $2000.

Ketika ayahnya membeli sebuah lahan pertanian di Nebraska, Warren Buffett ikut juga membeli lahan pertanian di sekitaran daerah yang sama. Lahan pertanian tersebut dikelola oleh seorang buruh tani, dengan sistem bagi hasil.

Saat itu, penghasilan bulanan Warren Buffett adalah sekitar $175 per bulan. Ini bukan uang jajan dari orang tuanya! Ini adalah penghasilan bulanan dari berbagai bisnis dan usaha sampingan beliau. Jauh lebih besar daripada gaji bulanan para guru di sekolahnya.

Warren Buffett terus mengembangkan berbagai usaha sampingan. Mulai dari menjual koleksi perangko, membuka usaha salon mobil, membeli wahana permainan mesin pin ball, dan sebagainya.

Dan ketika beliau lulus sekolah menengah pada tahun 1947 (btw, beliau masuk ranking 16 dari total 350 murid), Warren Buffett sudah punya simpanan sebesar $5000.

Pada waktu itu, uang tabungan tersebut cukup untuk membeli sebuah rumah ukuran sedang. Dan saat itu beliau baru berusia 17 tahun!

Kehidupan Universitas Warren Buffett

Meskipun Warren Buffett merasa bahwa pendidikan di universitas hanya akan memperlambat langkahnya menuju sukses, namun pada akhirnya beliau memutuskan untuk berkuliah di Wharton Business School.

Sebuah universitas yang sangat terkenal dan presitius. Beliau satu almamater dengan Donald Trump, Elon Musk, Peter Lynch dan sejumlah nama-nama tenar lainnya di dunia bisnis dan keuangan.

Selama berkuliah di Wharton, Warren Buffett tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti. Selain karena beliau memiliki passion di bidang bisnis dan keuangan, Warren Buffett juga sangat menyukai angka-angka dan hitung-hitungan.

Bahkan selama berkuliah, Warren Buffett masih menyempatkan diri untuk mengurusi sejumlah bisnisnya yang terus berkembang.

Warren Buffett Ditolak oleh Harvard Business School

Warren Buffett lulus dari Wharton pada musim semi 1950. Meskipun ia ingin secepatnya bisa bekerja dan mencari uang, namun pada akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan meraih gelar Master.

Untuk itu, Warren Buffett mendaftarkan diri ke Harvard Business School. Namun sayangnya, pendaftaran tersebut ditolak oleh pihak kampus tanpa alasan yang jelas.

Mungkin karena saat itu Warren Buffett baru berusia 19 tahun, dan dianggap terlalu muda untuk menjadi mahasiswa S2. Sesuatu yang kedengaran aneh di zaman sekarang. Namun di tahun 1950, situasi dan kondisinya mungkin agak berbeda.

Setelah mempertimbangkan penolakan dari Harvard Business School tersebut, Warren Buffett memutuskan untuk move on, melanjutkan hidup dan mencari alternatif kampus yang lain.

Warren Buffett Menemukan Apa yang Beliau Cari

Ketika sedang melihat-lihat katalog dari Columbia University, Warren Buffett menemukan 2 nama yang sangat familiar bari beliau. Yaitu: Benjamin Graham dan David Dodd.

Benjamin Graham dan David Dodd adalah 2 orang penulis buku Security Analysis. Sebuah buku yang kala itu dianggap sebagai “kitab suci”-nya para analis keuangan (Financial Analyst).

Buku yang lebih terkenal di Indonesia, The Intelligent Investor, sebenarnya adalah versi “orang awam” dari buku Security Analysis.

“These were big names to me. I’d just read Graham’s book but I had no idea he was teaching at Columbia.”

– Warren Buffett

“Dua nama tersebut (Benjamin Graham dan David Dodd) adalah nama yang sangat penting bagi saya. Saya baru saja selesai membaca bukunya Benjamin Graham. Tapi saya tidak tahu bahwa ternyata dia mengajar di Columbia.”

Tanpa pikir panjang lagi, Warren Buffett langsung mendaftarkan diri dan diterima di Columbia University.

Kehidupan Kampus Warren Buffett

Di hari pertamanya kuliah di kelasnya David Dodd, Warren Buffett berhasil membuat dosennya itu terkesan. Karena Warren Buffett sudah selesai mempelajari textbook wajib di mata kuliah tersebut: Security Analysis.

“The truth was that I knew the book even better than Dodd. I could quote from any part of it. At that time, literally, almost in those whole seven or eight hundred pages, I knew every example. I had just sopped it up. An you can imagine the effect that would have on the guy, that somebody was that keen on his book.”

– Warren Buffett

“Sebenarnya saya tahu buku itu lebih daripada David Dodd. Saya dapat mengutip dari bagian manapun. Pada saat itu, secara harafiah, hampir seluruhnya dari 700-800 halaman buku tersebut, saya tahu setiap contoh kasusnya. Anda dapat bayangkan dampaknya pada beliau, bahwa ada orang yang benar-benar tahu buku yang dia tulis.”

Saham Value Investing Pertama Warren Buffett

Terinspirasi dari apa yang telah beliau pelajari, dan didorong oleh passion yang luar biasa. Warren Buffett mulai menghadiri RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) perusahaan-perusahaan yang beliau beli sahamnya.

Beliau juga semakin rajin membaca dan mempelajari tulisan-tulisan dari Benjamin Graham. Dari situlah beliau tahu, bahwa Benjamin Graham adalah Komisaris Utama dari perusahaan yang disebut GEICO (Government Employees Insurance Company).

Perusahaan ini menjual asuransi kendaraan bermotor dengan sistem mail order, tanpa agen asuransi. Sebuah model bisnis yang sangat revolusioner pada waktu itu.

Lebih jauh lagi, GEICO hanya menjual asuransi ke para Pegawai Negeri Sipil di Amerika Serikat. Sebuah segment pasar yang isinya adalah orang-orang yang bertanggung jawab dan taat hukum.

Artinya, kendaraan bermotor yang diasuransikan oleh GEICO relatif lebih aman dari kecelakaan akibat kecerobohan dan perilaku ugal-ugalan. Sehingga klaim asuransi akan sangat minimal.

Semakin dalam Warren Buffett mempelajari GEICO, semakin tertarik pula beliau dengan perusahaan ini. Warren Buffett sangat yakin bahwa ini adalah perusahaan yang tidak mungkin rugi.

Sangking yakinnya, Warren Buffett menjual 75% saham-saham yang ada di portfolionya, dan langsung membeli saham GEICO di harga $42 per lembar.

Warren Buffett Mendapatkan Pelajaran dari Sang Mentor

Selain menghadiri kelasnya David Dodd, Warren Buffett juga mengikuti kelasnya Benjamin Graham dengan mata kuliah Valuasi Saham Biasa (Common Stock Valuation). Lagi-lagi Warren Buffett sangat menonjol di mata kuliah ini, karena beliau sudah habis membaca buku dari dosennya, jauh sebelum beliau diterima sebagai mahasiswa di Columbia!

Mata Kuliah dari Benjamin Graham berfokus pada tiga prinsip utama.

Pertama, sebuah saham adalah bagian dari kepemilikan kita terhadap perusahaan tersebut. Dan harga saham mencerminkan harga perusahaan itu. Saham bukan sekedar kertas sertifikat. Dan harga saham bukan sekedar angka yang tidak ada artinya.

Kedua, dalam investasi selalu ada unsur risiko dan ketidakpastian. Itulah sebabnya kita harus selalu mempunyai Margin of Safety. Margin of Safety adalah “ruang gerak” kalau-kalau nanti misalnya kita salah dalam menilai harga wajar perusahaan tersebut.

Ketiga, keadaan market sangat tergantung pada mood dan persepsi. Dan pergerakan market jangan sampai mempengaruhi penilaian kita terhadap suatu perusahaan. Akan ada saat-saat dimana kita dapat membeli saham yang bagus dengan harga yang murah (yang kebetulan harganya turun karena kondisi ekonomi yang kurang kondusif). Manfaatkanlah saat-saat seperti ini!

Warren Buffett Ditolak di Pekerjaan Impiannya

Pada akhirnya, meskipun Warren Buffett berhasil meraih nilai tertinggi dalam kelasnya. Namun Benjamin Graham menolak untuk menerima Warren Buffett bekerja di perusahaannya, Graham-Newman Corporation.

Penolakan yang sangat menohok bagi Warren Buffett. Yang sudah sedari awal bercita-cita untuk bekerja dengan mentor idolanya tersebut. Namun pada akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk move on, melanjutkan hidup dan pulang ke kampung halamannya di Omaha.

Warren Buffett berpikir, seandainya memang pekerjaan impiannya di New York tidak tercapai, maka lebih baik beliau kembali ke Omaha dan bekerja sebagai pialang saham (stockbroker) di kantor ayahnya.

Warren Buffett Mengawali Karir sebagai Pialang Saham

Ketika Warren Buffett kembali ke Omaha, pada akhir tahun 1951, beliau telah mengembangkan investasinya hingga lebih dari dua kali lipat!

Dari yang semula $9.804, ketika beliau baru mulai kuliah di Columbia University. Menjadi $19.738 ketika Warren Buffett lulus dari universitas tersebut, dan mendapatkan gelar Master dalam bidang Ekonomi.

Karena sangat yakin dengan kemampuan analisis dan investasinya, Warren Buffett bekerja di perusahaan sekuritas milik ayahnya sebagai seorang pialang saham (stockbroker).

Lebih jauh lagi, Warren Buffet juga sangat optimis, bahwa bursa saham akan segera naik, dan perekonomian akan segera pulih. Untuk itu, Warren Buffett mengajukan pinjaman sebesar $5.000 dari Omaha National Bank, dan menggunakan hutang tersebut untuk membeli lebih banyak saham GEICO.

Yang tidak banyak diketahui orang-orang adalah, ternyata Warren Buffett tidak menyukai pekerjaannya sebagai pialang saham (stockbroker).

Warren Buffett merasa sangat frustrasi. Karena kebanyakan orang malas melakukan analisis yang mendalam terhadap saham-saham yang akan mereka beli. Apa lagi kalau mereka memaksa membeli saham-saham yang sebenarnya menurut beliau perusahaan jelek, tapi para klien dan investornya sangat ngotot karena telah mendapatkan “info”.

Tapi meskipun Warren Buffett mulai membenci pekerjaannya, ternyata kehidupan pribadi beliau boleh dibilang sukses. Karena beliau menikahi gadis pujaan hatinya, Susan Thompson, pada tanggal 19 April 1952.

Puluhan tahun kemudian, ketika diwawancara oleh majalah Forbes, Warren Buffett menceritakan bahwa memilih pasangan hidup, dan menikahi Susan (istrinya), adalah keputusan paling penting dalam hidup beliau.

Akhirnya Warren Buffett Bekerja Bersama Benjamin Graham

Keadaan mulai berubah, ketika Warren Buffett menerima panggilan dari mentornya, Benjamin Graham. Yang mengajak beliau untuk bergabung di perusahaannya, Graham-Newman Corporation.

Sebuah tawaran yang tidak mungkin ditolak oleh seorang Warren Buffett. Untuk bekerja bersama mentor idolanya. Ajakan tersebut langsung beliau terima saat itu juga.

Bahkan sangking antusianya, Warren Buffett sudah masuk kerja pada tanggal 2 Agustus 1954. Atau kira-kira sebulan sebelum masa kerja resmi yang tertera di surat kontrak kerjanya.

Warren Buffett adalah karyawan Graham-Newman Corporation yang ke delapan.

Gaya Investasi Benjamin Graham

Benjamin Graham ternyata punya gaya investasi yang sedikit unik dan agak berbeda (pada masa itu).

Beliau fokus untuk mencari saham-saham yang disebutnya “saham puntung rokok”. Yaitu saham-saham yang murah, dan yang sudah “habis dihisap dan dibuang” oleh para investor lain. Padahal saham-saham tersebut sebenarnya masih bagus dari segi value investing.

Prinsip dasar dibalik strategi investasinya adalah: Kalau harga sahamnya (dan total kapitalisasi pasarnya), lebih murah daripada total aset perusahaan tersebut, maka beliau dapat memperoleh keuntungan.

Terus terang saja, mencari saham yang kapitalisasi pasarnya lebih murah daripada nilai total asset-nya adalah hal yang nyaris mustahil di Bursa Efek Indonesia.

Kalau pun ada saham seperti itu, biasanya adalah saham-saham yang manajemennya bermasalah, perusahaannya terlilit hutang, dan terancam pailit. Jauh dari kata bagus dari segi value investing!

Jadi, strategi “saham puntung rokok” tidak dapat kita jalankan di zaman sekarang ini. Namun di tahun 1950-an, ketika belum banyak orang yang paham tentang analisis keuangan, strategi Benjamin Graham tersebut bisa berhasil.

Hal lain yang membedakan filosofi investasi antara Benjamin Graham dan Warren Buffett adalah tentang strategi diversifikasi.

Benjamin Graham adalah seseorang yang sangat percaya dengan strategi diversifikasi. Beliau selalu membeli saham dalam jumlah yang sedikit-sedikit, tetapi di banyak perusahaan sekaligus.

Ini adalah pemikiran yang sangat aneh, dan tidak dapat dipahami oleh seorang Warren Buffett. Karena mencari saham-saham yang bagus dan murah sangat sulit. Saham-saham seperti itu sangat langka.

Dan kalau kita sudah yakin, bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan bagus (dan sahamnya murah), lalu kenapa belinya cuma sedikit? seharusnya kita membeli sebanyak-banyaknya!

Namun ketika itu Warren Buffett adalah seorang “anak kemarin sore”. Sehingga beliau tidak berani membantah mentor idolanya tersebut.

Pelajaran Penting Langsung dari Benjamin Graham

Selama bekerja di Graham-Newman, Warren Buffett banyak memetik pelajaran tentang strategi dan pengelolaan investasi.

Salah satunya adalah tentang konsep Opportunity Cost of Money. Yang beliau pelajari dari pengalaman menjual saham GEICO, karena Warren Buffett telah menemukan sebuah perusahaan yang luar biasa murah.

Perusahaan ini mencatatkan laba per saham (Earning per Share) hingga $29. Sementara harga sahamnya hanya $3 pada saat itu.

Dari satu pengalaman tersebut, Warren Buffett juga belajar tentang prinsip alokasi modal (Capital Allocation). Dimana kita harus selalu siap untuk menaruh modal kita di tempat dimana terdapat potensi keuntungan yang paling tinggi.

Tentu saja yang dipelajari oleh Warren Buffett selama bekerja di Graham-Newman tidak melulu soal uang dan investasi. Mentornya, Benjamin Graham, juga memberikan berbagai pelajaran hidup dan diskusi-diskusi yang agak filosofis.

““One time we were waiting for an elevator. We were going to eat in the cafeteria down at the bottom of the Chanin Building at Fifty-Second and Lex. And Ben said to me, ‘Remember one thing, Warren: Money isn’t making that much difference in how you and I live. We’re both going down to the carfeteria for lunch and working every day and having a good time. So don’t worry too much about money, because it won’t make much difference in how you live’.”

– Warren Buffett

“Suatu ketika, kami sedang menunggu lift. Kami sedang bersiap untuk istirahat makan siang di sebuah kafetaria di lantai dasar Chanin Building (kantor Graham-Newman Corporation). Dan Ben berkata kepada saya: ‘Warren, uang sebenarnya tidak membuat kehidupanmu dan kehidupanku berbeda. Kita masih saja makan di kafetaria yang sama, bekerja di kantor yang sama dan bersenang-senang bersama. Maka jangan terlalu khawatir tentang uang, karena pada akhirnya kehidupan kita juga tidak jauh berbeda’.”

Pondasi Utama Strategi Investasi Warren Buffett

Ada beberapa pelajar penting yang didapat oleh Warren Buffett selama bekerja di Graham-Newman. Prinsip-prinsip kunci yang menjadi pondasi utama strategi bisnis dan investasi beliau.

Pertama, tentang bagaimana cara melakukan transaksi arbitrase. Yaitu ketika kita menjual dan membeli saham yang sama, di waktu yang sama sekaligus.

Di Bursa Efek Indonesia, transaksi arbitrase biasanya dilakukan oleh para market maker. Dimana mereka meng-input Bid dan Offer sekaligus, dan mendapatkan keuntungan dari selisih fraksi.

Strategi ini sebenarnya profit-nya sangat, sangat kecil. Hanya sebesar selisih antara harga Bid dan harga Offer. Tapi karena dilakukan berkali-kali, dan dengan modal yang besar, maka total keuntungannya juga lumayan.

Kedua, Warren Buffett belajar untuk selalu melihat sebuah transaksi saham dari sudut pandang si penjual (seller’s point-of-view). Kenapa dia menjual sahamnya, dan apa alasan sebenarnya di balik itu?

Kemudian lakukan analisis secara mendalam. Apakah lebih untung jika kita menjadi pembeli dan menampung saham tersebut. Atau malah lebih untung kalau kita ikut menjual dan ikut buang barang juga?

Ketiga, Warren Buffett diajarkan untuk selalu melihat selembar saham sebagai bagian dari sebuah perusahaan secara keseluruhan. Selembar saham bukan sekedar selembar kertas abstrak tanpa nilai.

Keempat, kita sebenarnya bisa mendapatkan perusahaan bernilai tinggi, yang sahamnya luar biasa murah. Selama kita rajin “mengerjakan PR” kita, melakukan analisis, dan menemukan aset tersembunyi yang luput dari perhitungan banyak orang.

Kelima, adalah penting untuk mengenali orang-orang yang duduk di jajaran manajemen sebuah perusahaan (yang sahamnya kita miliki). Sehingga kita dapat mengetahui apa kira-kira yang akan mereka lakukan di masa depan.

Ditunjuk Sebagai Pengganti Benjamin Graham

Karir Warren Buffett begitu cemerlang, sehingga beliau dengan cepat menjadi bintang di Graham-Newman. Dan kedua atasannya, Benjamin Graham dan Jerry Newman, mulai memperlakukan Warren Buffett lebih sebagai seorang partner dan rekanan, ketimbang sekedar karyawan biasa.

Itulah sebabnya ketika Benjamin Graham dan Jerry Newman, mengumumkan rencana mereka untuk pensiun dari dunia keuangan, Warren Buffett mendapatkan tawaran untuk menggantikan posisi mereka di perusahaan tersebut.

Meskipun tentu saja Warren Buffett sangat tersanjung, dan merasa mendapatkan kehormatan. Namun Warren Buffett bergabung di perusahaan tersebut untuk belajar dari Benjamin Graham.

Kalau Benjamin Graham memutuskan untuk berhenti dan pensiun, maka Warren Buffett sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap bekerja disana.

Apa lagi Warren Buffett sebenarnya tidak begitu menyukai kehidupan di kota New York. Beliau lebih menyukai kehidupan di kampung halamannya di Omaha. Yang jaraknya sekitar 2000 km, dan makan waktu 12 jam perjalanan dengan kereta.

Selain itu, Warren Buffett juga merasa tidak cocok untuk bekerja bersama orang lain (kecuali Benjamin Graham, yang dianggapnya sebagai mentor, bukan sekedar atasan dan rekan kerja).

Pada akhirnya Warren Buffett menolak tawaran untuk memimpin Graham-Newman Corporation, dan memutuskan untuk kembali ke Omaha.

“I had about $174,000, and I was going to retire. I rented a house at 5202 Underwood in Omaha for $175 a month. We’d live on $12,000 a year. My capital would grow.”

– Warren Buffett

“Saya memiliki sekitar $174.000 dan berniat untuk pensiun dini. Saya menyewa sebuah rumah di Omaha, yang biaya sewanya $175 per bulan. Biaya hidup kami hanya $12.000 per tahun. Modal saya akan berkembang.”

Warren Buffett Mendirikan Buffett Associates

Sekembalinya dari New York, di Omaha, Warren Buffett langsung mendirikan sebuah Hedge Fund. Dimana beliau akan mengelola dana milik para klien, dengan imbalan sejumlah fee.

Warren Buffett hanya mengundang saudara, teman dan orang-orang terdekat untuk bergabung dalam Hedge Fund tersebut. Tujuannya supaya mereka tidak terlalu kritis ketika market sedang turun.

Hedge Fund tersebut diberi nama Buffett Associates.

Berkat reputasinya di dunia keuangan, dan rekomendasi dari Benjamin Graham. Pada tanggal 1 Oktober 1956, Warren Buffett mengelola lebih dari setengah juta dollar dengan Hedge Fund yang baru didirikannya.

Cara Warren Buffett mengelola Hedge Fund ini pun terbilang unik (pada saat itu). Beliau mengetik surat-suratnya sendiri, membuat akuntansi laporan keuangan, melakukan riset dan analisisnya sendirian, bahkan beliau sendiri yang menyetor dividen yang diterimanya, ke Omaha National Bank.

Benar-benar one-man-show!

Warren Buffett Bertemu Charlie Munger

Pada tahun 1957, dana kelolaan Warren Buffett menghasilkan keuntungan 10%. Padahal pada saat itu, market secara keseluruhan sedang turun 8%.

Dari kinerja tersebut, Warren Buffett mendapatkan fee sebesar $83.085, yang diinvestasikannya kembali ke dalam dana kelolaan, untuk memperbesar porsi kepemilikannya menjadi 9,5%.

Warren Buffett memiliki beberapa kemitraan dan kontrak pengelolaan dana, yang kesemuanya cukup sukses dan berhasil. Dari hari ke hari, semakin banyak orang yang tertarik untuk berinvestasi dan menitipkan dananya kepada beliau.

Salah satu mitra investasinya, menyarankan agar Warren Buffett bertemu dengan seorang pengacara di Los Angeles, bernama Charlie Munger. Orang yang kelak menjadi tangan kanan beliau.

Warren Buffett dan Charlie Munger pertama kali bertemu untuk makan siang di Omaha Club, pada tahun 1959. Dan keduanya langsung merasa cocok dan mengobrol seperti dua orang sahabat lama. Sesuatu yang sebenarnya cukup aneh, mengingat keduanya berasal dari latar belakang pekerjaan yang berbeda.

Warren Buffett dan “Corporate Raiding”

Pada tahun 1959, Warren Buffett mengelola kurang lebih satu juta dollar, yang tersebar dalam 7 kemitraan investasi dan dana kelolaan.

Dana sebesar itu (pada waktu itu), cukup bagi Warren Buffett untuk mengejar proyek-proyek investasi yang lebih canggih, rumit, dan sophisticated.

Sekarang, Warren Buffett tidak hanya membeli saham dan duduk diam menunggu harganya naik. Karena dengan dana kelolaan sebesar itu, Warren Buffett dapat membeli saham dalam jumlah yang cukup signifikan, sehingga beliau dapat masuk ke jajaran direksi.

Setelah masuk ke jajaran direksi, Warren Buffett akan melobi manajemen, agar perusahaan tersebut untuk menjual aset-asetnya. Kemudian dana hasil penjualan aset tersebut, dibagi-bagikan kepada para pemegang saham.

Dengan begitu, Warren Buffett dapat langsung mendapatkan keuntungan, tanpa harus menjual saham-saham yang dimilikinya di perusahaan tersebut. Cara seperti ini disebut “Corporate Raid”.

Inilah cara Profit Taking yang dilakukan oleh para Hedge Fund manager, sekelas Warren Buffett dan Benjamin Graham. Hal yang tidak dapat dilakukan oleh para investor kecil dan kelas menengah.

Strategi Corporate Raiding jelas sangat jauh dari nilai-nilai value investing. Tapi kenyataannya, tepat itulah yang dilakukan oleh Warren Buffett.

Dengan strategi seperti itu, pada tahun 1960, hanya dalam waktu satu tahun, dana kelolaan Warren Buffett melonjak nyaris dua kali lipat!

Warren Buffett Mendirikan Buffett Partnership Ltd. (BPL)

Pada tanggal 1 januari 1962, Warren Buffett melebur semua dana kelolaan dan kemitraan yang dijalaninya, menjadi satu perusahaan investasi yang diberi nama Buffett Partnership Ltd (BPL).

Total dana kelolaan yang dimiliki oleh BPL ketika itu adalah $7,2 juta. Dan Warren Buffett secara resmi telah menjadi seorang miliarder.

Yang lebih hebatnya lagi, dengan dana kelolaan sebesar itu, Warren Buffett masih bekerja sendirian, one-man-show dan tidak mempunyai karyawan seorang pun!

Di kemudian hari, Warren Buffett memutuskan untuk memiliki sebuah kantor. Belaiu kemudian menggaji seorang sekertaris untuk menangani pekerjaan tulis menulis, dan merekrut seorang analis untuk membantunya mencari peluang investasi baru.

Kiprah Charlie Munger di Dunia Investasi

Selama mengelola perusahaan investasinya, Warren Buffett tetap menjaga hubungan baik dengan Charlie Munger.

Charlie Munger sendiri pada akhirnya melepaskan praktek hukumnya, dan mulai fokus menjadi trader di Pacific Coast Stock Exchange.

Pacific Coast Stock Exchange adalah bursa saham semacam New York Stock Exchange. Namun saham-saham yang diperdagangkan adalah saham-saham third-liner, yang kapitalisasi pasarnya relatif sangat kecil.

Charlie Munger pernah berhutang sebesar $3 juta kepada Union Bank of California, dan uangnya itu digunakan sebagai modal trading!

Untungnya Charlie Munger adalah seorang trader yang sangat piawai dan handal. Sehingga profit yang didapatkan dari hutang sebesar itu, juga menjadi berlipat-lipat.

Warren Buffett dan Saham American Express

Pada bulan November 1963, American Express ikut tersangkut dalam kasus “Salad Oil Scandal”. Yang membuat bank tersebut mengalami kredit macet dan kerugian puluhan juta dollar. Hal ini membuat harga saham American Express turun dalam, merosot jauh hingga lebih dari 50%.

Tentu saja, Warren Buffett sebagai seorang investor sejati, tidak melewatkan kesempatan ini begitu saja. Beliau secara agresif membeli dan menampung saham-saham American Express, yang harganya terus merosot dari hari ke hari.

Pada tahun 1963, Warren Buffett telah membeli saham Amex sebesar $ 1,8juta. Dan lebih dari setahun kemudian, meskipun harganya tidak kunjung membaik, Warren Buffett tetap membeli saham Amex.

Pada akhir tahun 1694, kepemilikan saham Amex dalam portfolio Warren Buffett telah meningkat 3 kali lipat, senilai $4,3 juta.

“We diversify substantially less than most investment operations. We might invest up to forty percent of our net worth in a single security under conditions coupling an extremely high profitability that our facts and our reasoning are correct with a very low probability that anything could drastically change the underlying value of the investment”.

– Warren Buffett

“Kami memang melakukan diversifikasi jauh lebih sedikit daripada perusahaan investasi yang lain. Kami bahkan dapat berinvestasi hingga 40% dari nilai total dana kelolaan, hanya di satu saham. Tentu saja dengan catatan jika kami benar-benar yakin bahwa analisis kami benar, dan kemungkinan berubahnya nilai investasi tersebut sangat kecil.”

Investasi Warren Buffett di American Express terbukti membuahkan hasil yang sangat memuaskan!

Ketika Warren Buffett mulai membeli saham-saham Amex, harganya masih di bawah $45. Namun selang 2 tahun kemudian, harga saham Amex berangsur-angsur membaik, naik dan mencapai $70 per lembar.

Alhasil, portfolio saham Amex yang dimiliki oleh Warren Buffett melonjak menjadi $13 juta, pada tahun 1965.

Keuntungan dari investasi saham Amex ini membuat dana kelolaan Warren Buffett meningkat menjadi $37 juta. Dan Warren Buffett mengantongi performance fee sebesar $2,5 juta.

Warren Buffett dan Berkshire Hathaway

Keberhasilannya di saham American Express ternyata tidak membuat Warren Buffett berpuas diri. Beliau malah semakin gencar dan agresif memburu perusahaan-perusahaan bagus yang sahamnya dijual murah.

Salah seorang temannya menyarankan Warren Buffett untuk membeli sebuah perusahaan tekstil di Bedford. Perusahaan tersebut dijual dengan harga yang sangat murah, jika dibandingkan dengan total aset yang dimilikinya. Nama perusahaan tersebut: Berkshire Hathaway.

Warren Buffet mulai melakukan analisis dengan seksama. Menurut perhitungan beliau, harga wajar perusahaan ini seharusnya $19,46 per lembar saham. Namun harga sahamnya waktu itu hanya $7,5 saja.

Serasa menemukan harta karun, tentu saja Warren Buffett langsung mengakumulasi saham Berkshire Hathaway secara agresif!

Aksi pembelian saham besar-besaran ini tentu mendapat pertentangan dari pemegang saham mayoritas Berkshire Hathaway, Seabury Stanton. Yang ingin tetap menguasai perusahaan tersebut.

Seabury Stanton bahkan menawarkan untuk membeli porsi kepemilikan Warren Buffett, dengan harga penawaran $11,5 per lembar saham. Di harga tersebut, berarti Warren Buffett sudah mengantongi profit sebesar 66% dari harga awal ketika beliau membeli saham tersebut. Dam tentu saja, Warren Buffett setuju!

Namun ketika surat tender offer resmi sampai di meja Warren Buffett, harga penawaran berubah menjadi $11,375 per lembar saham. Merasa dicurangi dan tidak terima, Warren Buffett marah besar!

Akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk terus membeli dan meningkatkan porsi kepemilikannya di Berkshire Hathaway hingga 49%. Dan pada RUPS tanggal 10 Mei 1965, Warren Buffett menggeser posisi Seabury Stanton sebagai pemimpin perusahaan tersebut.

Pada saat itulah, Warren Buffett resmi menjadi pemegang saham mayoritas di Berkshire Hathaway. Sebuah perusahaan tekstil yang hampir gulung tikar.

Gaya Investasi Warren Buffett yang Tidak Biasa

Pada tahun 1966, Warren Buffett menyadari satu hal. Bahwa saat ini beliau punya masalah baru. Buffett Partnership Ltd (BPL) mengelola total dana $44 juta. Namun beliau kesulitan untuk menemukan sarana investasi yang dapat menampung semua dana kelolaan tersebut.

Pada akhirnya, Warren Buffett memutuskan. Bahwa daripada berinvestasi di saham yang berisiko, lebih baik dana kelolaan yang tidak terpakai, dibiarkan begitu saja dalam bentuk cash (tunai).

Keputusan ini adalah keputusan yang tidak biasa ketika itu. Karena bunga bank pada saat itu begitu rendahnya, sehingga dana kelolaan dalam bentuk cash (uang tunai) ibarat “dana menganggur” yang tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sebabnya kebanyakan Fund Manager akan berusaha agar dana kelolaan mereka diinvestasikan dalam bentuk saham, obligasi maupun surat utang pemerintah (100% fully invested).

Warren Buffett Membeli Perusahaan Privat

Sepanjang dekade 1960-an, Amerika Serikat terlibat dalam Perang berkepanjangan di Vietnam (Vietnam War). Dan pada tahun 1966, rakyat Amerika Serikat sedang gencar-gencarnya mengadakan demonstrasi untuk menolak perang tersebut. Gelombang demonstrasi memuncak di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat.

Sebagai imbasnya, bursa saham juga turun 10% lebih pada tahun tersebut. Meskipun sekilas terlihat bahwa harga saham sedang murah-murahnya, namun Warren Buffett tidak berhasil menemukan perusahaan yang benar-benar layak untuk diinvestasikan.

Karena sulitnya menemukan perusahaan yang bagus pada masa itu, Warren Buffett mulai khawatir dengan performa investasinya sendiri. Karena beberapa tahun sebelumnya, menemukan saham-saham yang bagus relatif mudah. Tapi sekarang, keadaannya jauh berbeda.

Itulah sebabnya Warren Buffett mulai berpikir untuk membeli perusahaan privat (perusahaan yang belum go-public), yang sahamnya tidak bebas ditransaksikan di Bursa Saham.

Akhirnya, pada tahun 1966, Warren Buffett bermitra dengan Charlie Munger dan beberapa investor lainnya, untuk membeli Hothschild-Kohn. Sebuah Department Store di kota Baltimore. Kemitraan tersebut diberi nama Diversified Retailing Company, Inc.

Di sisi lain, perusahaan tekstil yang baru saja dibeli oleh Warren Buffett, Berkshire-Hathaway, ternyata kinerjanya tidak kunjung membaik. Sehingga beliau memutuskan untuk menjual aset perusahaan tersebut satu demi satu.

Pada tahun 1967, Warren Buffett juga menjual sebagian sahamnya di American Express, yang hasilnya digunakan untuk membeli sebuah perusahaan asuransi di Omaha, National Indemnity.

Dan sampai saat ini, National Indemnity masih dimiliki oleh Warren Buffett. Dan sampai sekarang pun National Indemnity bukan perusahaan publik.

Ternyata manuver beliau untuk membeli perusahaan-perusahaan privat (non-go-public), membuahkan hasil yang memuaskan. Akhirnya pada tahun 1967, Warren Buffett mencatatkan profit 36%, dibandingkan dengan Dow Jones yang “hanya” naik 19% di tahun yang sama.

Warren Buffett Berniat Menjual Berkshire Hathaway

Pada pertengahan tahun 1968, Warren Buffett sudah lelah mengurusi Berkshire-Hathaway. Perusahaan ini terus menerus merugi dan sama sekali tidak tampak tanda-tanda perbaikan.

Akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk melepas dan menjual perusahaan tersebut. Beliau sudah menawarkan sahamnya ke beberapa investor, termasuk Charlie Munger. Namun mereka semua menolak.

Sebab mereka semua tahu, Warren Buffett tidak mungkin menjual perusahaan yang masih bagus. Inilah salah satu “saham nyangkut” yang dialami oleh Warren Buffett.

Warren Buffet Mengumumkan Pensiun

Sampai tahap ini, Warren Buffett mengelola dana investasi yang begitu besarnya, sehingga sekarang beliau sudah tidak lagi membeli saham-saham biasa.

Warren Buffett lebih suka membeli dan mencaplok seluruh perusahaan itu sekaligus, daripada membeli sebagian sahamnya.

Namun membeli seluruh perusahaan sekaligus, bukanlah hal yang mudah. Karena setelah dibeli, perusahaan itu perlu diurus, manajemennya perlu diawasi, dan operasionalnya perlu dibenahi.

Semakin banyak perusahaan yang dibeli, maka semakin banyak pula perusahaan yang perlu diurus. Bagi seorang Warren Buffett, yang terbiasa menjadi investor pasif, hal ini sangat melelahkan.

Itulah sebabnya pada tahun 1969, Warren Buffett mengumumkan untuk menutup perusahaan investasinya, dan berniat mengembalikan seluruh dana kelolaan kepada investor.

Namun Warren Buffett tidak mau melepaskan tanggung jawab begitu saja. Itulah sebabnya beliau sangat merekomendasikan agar para investor beliau mengalihkan dananya ke Charlie Munger, seseorang sahabat yang (sekarang) telah dikenalnya selama 10 tahun. Dan adalah seorang Fund Manager yang mumpuni.

Warren Buffett benar-benar berniat untuk pensiun dini. Beliau juga menjual Hothschild-Kohn, serta mulai melikuidasi semua aset dan investasi yang dikelola oleh BPL.

Nama Warren Buffett Semakin Terkenal

Pada tahun 1969, majalah Forbes menulis artikel tentang Warren Buffett yang berjudul: “How Omaha Beats Wall Street”. Dan tidak berselang lama kemudian, majalah Fortune juga menuliskan artikel yang serupa. Keduanya membeberkan rekam jejak Warren Buffett yang sangat mengesankan.

Setelah menutup perusahaan investasinya, Buffett Partnership Ltd, Warren Buffett memiliki sekitar $16 juta dalam bentuk uang tunai, 18% saham Berkshire Hathaway (perusahaan tekstil), 20% saham Diversified Retailing (perusahaan department store), dan 2% saham Blue Chip Stamps (perusahaan kupon diskon).

Pada tahun 1970, Warren Buffett menggunakan uang tunai yang dimilikinya untuk menambah porsi kepemilikian di tiga perusahaan tersebut. Beliau sekarang memiliki 36% saham Berkhsire Hathaway, 39% saham Diversified Retailing, dan 13% saham Blue Chip Stamps.

Setelah itu, selama beberapa tahun, Warren Buffett bekerja tak kenal lelah untuk membenahi bisnis dan memperbaiki kondisi di Berkshire Hathaway dan Diversified Retailing. Dibantu oleh Charlie Munger, yang fokus membenahi Blue Chip Stamps.

Di tangan keduanya, tiga perusahaan itu dirubah menjadi induk perusahaan (holding company). Dan ketiganya masing-masing menaungi beberapa perusahaan lainnya.

Warren Buffett yang baru saja “pensiun” dari dunia investasi, ternyata malah kembali lagi berinvestasi. Meskipun kali ini bukan dalam bentuk Hedge Fund. Melainkan dalam bentuk induk perusahaan (holding company) yang membeli perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil.

Warren Buffett dan Bisnis Asuransi

Berkshire Hathaway yang tadinya adalah perusahaan tekstil, digunakan sebagai induk perusahaan National Indemnity. Sebuah perusahaan asuransi di Omaha.

Sedangkan Diversified Retailing yang tadinya adalah perusahaan Department Store, digunakan sebagi induk perusahaan Reinsurance Corporation of Nebraska.

Bisnis asuransi adalah model bisnis yang sangat disukai oleh Warren Buffett. Karena premi asuransi yang dibayarkan oleh para nasabah, ibarat aliran dana segar yang terus menerus masuk ke kas perusahaan. Kas inilah yang digunakan oleh Warren Buffett untuk membeli perusahaan-perusahaan berikutnya.

Warren Buffett Terlibat Kasus Manipulasi Harga

Di awal tahun 1975, Securities and Exchange Commision (Otoritas Jasa Keuangan di Amerika Serikat) memulai investigasi mengenai sebuah transaksi bisnis yang dilakukan oleh Blue Chip Stamps. Charlie Munger dan Warren Buffett pun menjadi target operasi penyelidikan tersebut.

Blue Chip Stamps terindikasi melakukan manipulasi harga atas transaksi pembelian saham Wesco Financial, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang simpan pinjam (semacam BPR). Wesco Financial adalah sebuah perusahaan publik, yang sahamnya diperdagangkan di New York Stock Exchange (NYSE).

Warren Buffett dan Charlie Munger terindikasi melakukan serangkaian intrik dan konflik manajemen, supaya harga saham Wesco Financial jatuh dan turun signifikan. Dan ketika harganya jatuh, mereka berdua menggunakan kesempatan itu untuk membeli dan “menampung” saham Wesco Financial di harga bawah.

Untungnya penyelidikan ini berjalan dengan lancar, dan tidak ditemukan bukti adanya manipulasi pasar maupun perdagangan orang dalam (insider trading). Namun sebagai akibatnya, Blue Chip Stamps harus membayar denda sebesar $115 ribu.

Setelah penyelidikan tersebut dinyatakan selesai, Warren Buffett dan Charlie Munger memutuskan untuk menyederhanakan struktur perusahaan mereka. Berkshire Hathaway dan Diversified Retailing di-merger menjadi satu perusahaan. Sementara Blue Chip Stamps hanya akan membawahi perusahaan-perusahaan yang bukan pesaing langsung Berkshire Hathaway.

Pada saat yang bersamaan, GEICO, perusahaan asuransi yang dibeli oleh Warren Buffett ketika beliau masih bekerja di Graham-Newman, mengalami masalah internal yang serius. Namun ketika GEICO mengangkat CEO yang baru, Warren Buffett sangat terkesan dan mulai memborong saham GEICO setiap kali ada kesempatan.

Warren Buffett dan Charlie Munger Resmi Bergabung

Saat Berkshire Hathaway dan Diversifed Retailing selesai melakukan merger, Warren Buffett dan Charlie Munger bersama-sama mengendalikan aset senilai setengah miliar dollar.

Pada saat itu, ekonomi Amerika Serikat tengah dilanda resesi, dan kelihatannya hanya mereka berdua saja yang masih optimis tentang masa depan ekonomi dunia (pada saat itu).

Pada tahun 1983, Berkshire Hathaway secara resmi mengakuisisi Blue Chip Stamps. Dan Charlie Munger diangkat sebagai wakil komisaris utama di Berkshire Hathaway.

Inilah tepatnya dimana saat dua orang sahabat lama, yang saling memiliki tiga perusahaan yang berbeda, akhirnya bersatu di bawah satu atap: Berkshire Hathaway (yang masih berlangsung hingga sekarang).

Filosofi Bisnis Warren Buffett

Secara umum, filosofi bisnis Warren Buffett dalam menjalankan Berkshire Hathaway tertuang dalam paragraf berikut ini…

“Although our form is corporate, our attitude is partnership. We do not view the company as the ultimate owner of our business assets, but, instead view the company as a conduit through which our shareholders own the assets. Regardless of price, we have no interest at all in selling any good businesses that Berkshire owns, and are very reluctant to sell sub-par businesses as long as we expect them to generate at least some cash and as long as we feel good about their managers and their labor relations.”

– Warren Buffett

“Meskipun kita membentuk sebuah badan usaha, namun sikap kami adalah kemitraan. Kami tidak memandang perusahaan ini sebagai pemilik dari sejumlah aset bisnis, melainkan sebuah saluran dimana pemegang saham lah yang menjadi pemiliknya. Berapa pun harganya, kami tidak akan menjual perusahaan bagus yang dimiliki oleh Berkshire. Dan meskipun perusahaan tersebut biasa-biasa saja, kami juga tidak akan menjualnya selama perusahaan tersebut masih menghasilkan laba, dan manajemennya masih bagus.”

Pada akhir tahun 1983, kekayaan bersih Warren Buffett telah berkembang menjadi $680 juta. Sebuah peningkatan yang sangat signifikan, mengingat 5 tahun sebelumnya kekayaan beliau “hanya” sekitar $89 juta.

Sampai disini, Warren Buffett berencana memasuki pensiun untuk yang kedua kalinya, dan sebenarnya ingin fokus pada kegiatan sosial (philantropic).

Namun karena kesibukan yang masih belum dapat ditinggalkan, sementara permintaan sumbangan semakin banyak (karena beliau sudah semakin terkenal). Warren Buffett akhirnya mendirikan sebuah yayasan amal, The Buffett Foundation. Yang pada saat itu mengelola aset sekitar $720 ribu, dan menyalurkan sekitar $40 ribu per tahun untuk kegiatan pendidikan.

Sepak Terjang Warren Buffet Berikutnya

Meskipun berencana untuk pensiun, namun ternyata Warren Buffett malah semakin ambisius dalam melakukan akuisisi perusahaan dan berinvestasi. Sepanjang dekade 1980an, Warren Buffett menolak untuk berhutang dan langsung membeli setiap perusahaan secara tunai (cold hard cash).

Warren Buffett pernah menjadi peyandang dana saat Capital Cities Communications hendak mengakuisisi American Broadcasting Company (ABC). Transaksi ini sempat menghebohkan dunia investasi dan keuangan di Amerika Serikat. Karena Capital Cities berhasil “mencaplok” ABC yang besarnya 4 kali lipat!

Transaksi demi transaksi yang dilakukan oleh Warren Buffett mengalami kesuksesan. Dalam 5 tahun, saham Berkshire Hathaway yang tadinya hanya berada di kisaran harga $7,5 per lembar, melesat naik dan “terbang tinggi” hingga ke harga $2000 per lembar saham.

Sekali lagi, itu di tahun 1985. Kini jika kita membuka chart harga saham terkini, harga saham Berkshire Hathaway sudah mencapai $325.000,- per lembar.

Meski harga saham BRK.A sudah semahal itu, namun Warren Buffett menolak untuk melakukan stock-split.

Bisnis Warren Buffett yang Sukses (dan yang Gagal!)

Keberhasilan demi keberhasilan yang dialami oleh Warren Buffett telah menjadikan beliau seperti layaknya selebritis. Sebagai akibatnya, banyak pihak yang berusaha menggandeng Warren Buffett sebagai mitra dan partner dalam berbagai transaksi bisnis dan pembelian perusahaan. Berbagai macam tawaran bisnis dan investasi pun berdatangan dari segala penjuru.

Sebagai contohnya. Di tahun 1986, ketika John Gutfreund, CEO dari Salomon Brothers, tengah menghadapi ancaman Corporate Raiding, beliau menghubungi Warren Buffett dan memintanya menyelamatkan perusahaan investasi tersebut.

Warren Buffett setuju, dan menyuntikkan dana sebesar $700 juta untuk membeli saham preferen Salomon Brother dengan “garansi dividen” sebesar 9% setahun. Dari transaksi ini saja, Warren Buffett mendapatkan pemasukan lebih dari $63 juta per tahun.

Contoh lainnya adalah ketika Warren Buffett mulai membeli saham Coca Cola di tahun 1987, tepat setelah kejatuhan bursa saham di tahun yang sama. Total investasi beliau di Coca Cola pada saat itu mencapai $600 juta. Dan dalam waktu satu tahun, investasi tersebut sudah berkembang dua kali lipat menjadi $1,2 milyar!

Meskipun sebenarnya tidak semua investasi Warren Buffett akhirnya sukses luar biasa. Contohnya adalah investasinya di US Air, sebuah perusahaan maskapai penerbangan yang nyaris bangkrut.

Ketika ditanya, seandainya Warren Buffett dapat mengulangi semua kejadian di masa hidupnya, maka apa yang akan dilakukannya secara berbeda?

“I would really do almost exactly what I have done except I wouldn’t have bought US Air”.

– Warren Buffett

“Saya akan melakukan semuanya persis sama seperti yang telah saya lakukan sebelumnya, kecuali satu hal: Saya tidak akan membeli US Air.”

Warren Buffett Bertemu Bill Gates

Di tahun 1991, saham Berkshire Hathaway kembali melesat dan diperdagangkan di harga $10.000 per lembar saham. Itu artinya, Warren Buffett (di atas kertas) semakin kaya dan kini nilai total kekayaan bersihnya mencapai $4,4 miliar.

Pada tahun yang sama, Warren Buffett bertemu dengan Bill Gates, si pendiri Microsoft. Keduanya bertemu dalam sebuah jamuan makan malam, yang diadakan oleh orang tua Bill Gates (ayah Bill Gates adalah seorang pengacara ternama dan berpengaruh di Amerika Serikat).

Setelah pertemuan itu, keduanya pun menjadi sahabat karib. Meskipun sifat mereka berdua tampak saling bertolak belakang.

Di satu sisi, Bill Gates adalah seorang usahawan. Yang membangun bisnis dan perusahaan dari nol. Sedangkan di sisi yang satunya lagi, Warren Buffett adalah investor yang membeli dan menjual perusahaan. Beliau bukanlah tipe pengusaha yang memulai dari nol.

Itulah yang membuat Bill Gates pada awalnya enggan untuk bertemu dengan Warren Buffett. Bill Gates bahkan sempat menolak untuk bertemu dengan Warren Buffett, dengan alasan bahwa ia sedang sangat sibuk.

Namun orang tua Bill Gates bersikeras agar anaknya itu meluangkan waktu barang sebentar saja. Sekedar untuk menghormati tamu mereka dan menjaga nama baik orang tua.

Jamuan makan malam itu akhirnya menjadi awal dari sebuah sejarah panjang persahabatan antara dua orang terkaya di dunia (ketika itu).

Keduanya amat sangat dekat, hingga di tahun 2010, Warren Buffett bahkan sudah menuliskan “surat wasiat”. Bahwa ketika beliau meninggal nanti, 99% kekayaan beliau akan disumbangkan ke yayasan yang didirikan oleh Bill Gates: Bill and Mellinda Gates Foundation.

Warren Buffett Semakin Bertambah Kaya, Tetapi…

Di tahun 1993, harga saham Berkshire Hathaway kembali melesat lebih tinggi. Hanya dalam 2 tahun berselang, harga sahamnya sudah mencapai $18.000 per lembar saham. Dan membuat Warren Buffett didaulat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Status sebagai investor paling kaya di dunia, sebenarnya malah menjadi tantangan tersendiri bagi Warren Buffett. Karena menemukan perusahaan yang bagus untuk diinvestasikan semakin sulit.

Sampai dengan tahun 1994, Warren Buffett masih terus menambah kepemilikan sahamnya di Cocal Cola. Bahkan di tahun yang sama, beliau setuju untuk membeli 100% saham GEICO dengan nilai transaksi mencapai $2,3 milyar.

Di tahun 1995, ketika Netscape melakukan IPO, Warren Buffett menolak untuk berinvestasi. Inilah awal dari salah satu “kenyentrikan” Warren Buffett. Bahwa beliau menolak untuk membeli saham perusahaan teknologi.

Alasannya? Karena Warren Buffett tidak mengerti komputer. Beliau tidak mengerti sisi bisnisnya, dan beliau tidak mengerti bagaimana sebuah perusahaan teknologi dijalankan.

Barangkali satu-satunya perusahaan teknologi yang pernah dibeli oleh Warren Buffett adalah Apple Computer. Itu pun karena Warren Buffett sudah merasakan sendiri bagaimana produk-produk Apple Computer begitu mudah digunakan, dan sangat memanjakan penggunanya.

Warren Buffett Menerbitkan Saham Kelas B (BRK-B)

Di tahun 1996, saham Berkshire Hathaway kembali naik 2 kali lipat hanya dalam waktu 3 tahun. Sekarang harganya sudah mencapai $34.000 per lembar saham.

Harga saham yang begitu tinggi, dan nama besar Warren Buffett, dimanfaatkan oleh banyak perusahaan investasi dan reksadana.

Mereka menciptakan sebuah reksadana saham, dimana saham-saham yang ada di reksadana tersebut adalah saham-saham yang dibeli oleh Warren Buffett. Tentu saja hal ini membuat Warren Buffett sangat kesal.

“I don’t want anybody buying Berkshire thinking they can make a lot of money fast. They’re not going to do it, in the first place. And some of them will blame themselves, and some of them will blame me. They’ll all be disappointed. I don’t want disappointed people. The idea of giving people crazy expectations has terrified me from the moment I started selling stocks”.

– Warren Buffett

“Saya tidak mau ada orang yang membeli saham Berkshire Hathaway, dan berpikir mereka dapat menghasilkan banyak uang dengan cepat. Mereka tidak akan menjadi kaya dengan cara seperti itu. Dan nantinya mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri, atau bahkan menyalahkan saya. Karena mereka akan kecewa. Saya tidak mau mengecewakan orang lain. Bahkan sejak awal, saya sudah takut untuk memberikan orang lain harapan yang tidak masuk akal.”

Warren Buffett berpikir, bahwa daripada orang-orang membeli reksadana yang “menumpang” ketenaran dan memanfaatkan nama besar beliau. Sedangkan beliau tidak mengenal siapa-siapa saja orang yang mengelola reksadana tersebut.

Akhirnya pada tahun 1996 Warren Buffett memutuskan untuk menerbitkan saham kelas B (BRK-B). Yang ketika itu harganya 1/30 harga saham kelas A (BRK-A). Dengan begitu, orang-orang yang berminat untuk berinvestasi di Berkshire Hathaway dapat langsung membeli saham BRK-B, tanpa harus beli lewat reksadana.

Keputusan untuk menerbitkan saham kelas B (BRK-B), terbukti ampuh untuk melawan para reksadana “copycat” dan orang-orang yang hendak meniru Warren Buffett.

Tapi anehnya, ketika penerbitan saham BRK-B tersebut diumumkan, Warren Buffett berkata bahwa saham ini (dan saham Berkshire Hathaway) sebenarnya bukan investasi yang bagus.

“Neither Mr. Buffett nor Mr. Munger would currently buy Berkshire shares at that price, nor would they recommend that their friends or families do so.”

– Warren Buffett

“Mr. Buffett dan Mr. Munger tidak akan membeli saham Berkshire di harga itu. Dan mereka juga tidak akan merekomendasikan saham tersebut kepada teman dan keluarganya.”

Meski sudah berkata seperti itu, minat para investor bukannya semakin surut. Tapi malah justru semakin antusias.

Dan di tahun 1998, saham Berkshire Hathaway (BRK-A) sudah menembus harga $70.000 per lembar saham. Naik 2 kali lipat dalam waktu 2 tahun sejak penerbitan saham BRK-B.

Perusahaan Warren Bufett Tertimpa Masalah Serius

Di tahun 1999, perusahaan-perusahaan yang dibeli oleh Warren Buffett mengalami banyak masalah yang serius. Ada yang dituduh melakukan penipuan. Ada yang kehilangan pangsa pasar. Ada yang kehilangan orang-orang penting di posisi-posisi kunci.

Tapi yang paling parah adalah, Warren Buffett menerima banyak kritik, tentang ketidaksukaan beliau pada saham-saham perusahaan teknologi. Padahal ketika itu, saham-saham internet sedang naik daun. Beliau pun disebut sebagai orang yang sudah ketinggalan zaman.

Namun Warren Buffett tidak pernah ambil pusing.

“You can’t do well in investing unless you think independently. And the truth is, you are neither right nor wrong because people agree with you. You’re right because your facts and reasoning are right. In the end, that’s what counts.”

– Warren Buffett

“Anda tidak dapat berinvestasi dengan baik, kalau Anda tidak mampu berpikir secara independen. Dan sebenarnya, benar atau salah bukan persoalan ada yang setuju atau tidak. Anda benar karena fakta dan logika Anda benar. Bukan karena banyak yang setuju. Itu hal yang paling penting.”

Bagaimana Warren Buffett “Mengendalikan” Harga Saham

Di tahun 2000, terjadi apa yang saat ini disebut sebagai “dot-com bubble burst”. Dimana harga saham-saham perusahaan teknologi dan perusahaan internet berjatuhan.

Dan penurunan yang tadinya hanya terjadi di saham-saham sektor teknologi, ternyata merembet juga ke saham-saham sektor lainnya. Tidak terkecuali saham Berkshire Hathaway. Yang turun hampir 50% di bulan Maret 2000.

Padahal seperti yang kita tahu, Warren Buffett sangat menghindari perusahaan-perusahaan teknologi. Dan saat itu Berkshire Hathaway sama sekali tidak memiliki saham di perusahaan teknologi apa pun. Tapi karena market secara keseluruhan memang turun, maka mau tidak mau harga saham BRK-A juga ikut terseret.

Hal ini tidak dilewatkan begitu saja oleh Warren Buffett. Yang melihat kejadian ini seperti sebuah peluang. Karena ada begitu banyak perusahaan yang bagus, yang tidak ada hubungannya dengan teknologi, tapi harganya terus turun karena market-nya sedang bearish.

Dan tentu saja, menurut Warren Buffett, perusahaan terbaik di dunia adalah perusahaannya sendiri, Berkshire Hathaway. Itulah sebabnya, tidak lama berselang, Warren Buffett mengumumkan, bahwa Berkshire Hathaway akan melakukan Buyback (pembelian kembali) saham-saham yang ada di bursa.

Pengumuman ini langsung meningkatkan kepercayaan investor pada Berkshire Hathaway. Karena kalau Warren Buffett sudah mengumumkan akan membeli suatu saham, itu artinya saham itu sudah murah!

Saham Berkshire Hathaway langsung mengalami rebound, naik 24% dalam waktu semalam. Dan dalam beberapa bulan, harga sahamnya sudah kembali “normal”.

Di tahun yang sama, selain saham Berkshire Hathaway, Warren Buffett juga membeli 7 perusahaan lainnya. Semuanya dengan harga yang luar biasa murah. Sangking murahnya, meskipun sudah membeli 7 perusahaan secara tunai (cold hard cash), Berkshire Hathaway masih memiliki milyaran dollar uang tunai yang “menganggur begitu saja”.

Warren Buffett dan Kegiatan Sosial

Seperti halnya semua bisnis. Perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh Warren Buffett juga mengalami pasang surut.

Namun di tahun 2006, saham Berkshire Hathaway (BRK-A) menjadi saham pertama di Amerika Serikat, yang harganya menembus $100.000 per lembar saham. Dan dalam waktu setahun, di tahun 2007, harga saham BRK-A masih saja terus naik, menjadi $140.000 per lembar saham!

Pada saat itu, Warren Buffett sudah berusia 76 tahun. Dan mulai berpikir untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kegiatan sosial.

Dan di tahun 2010, Warren Buffett menyatakan bahwa 99% kekayaannya akan disumbangkan ke Bill and Mellinda Gates Foundation.

“It was clear that Bill Gates had an outstanding mind with the right goals, focusing intensely with passion and heart on improving the lot of mankind around the world without any regard to gender, religion, color or geography. He was just doing the most good for the most people. So when the time came to make a decision on where the money would go, it was a simple decision.”

– Warren Buffett

“Sebenarnya sudah jelas bahwa Bill Gates memiliki pemikiran yang luar biasa, dengan tujuan yang tepat. Berfokus sangat intens dengan kegairahan hati untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak di seluruh dunia. Dengan tanpa membeda-bedakan gender, agama, ras maupun letak geografis. Dia telah melakukan banyak hal yang baik kepada banyak orang. Maka ketika tiba saatnya untuk memutuskanr tentang kemana uang saya akan disumbangkan, keputusan itu tidak sulit.”

Warren Buffett: Investor Terkaya di Dunia!

Di tahun 2008, pada usia 78 tahun, Warren Buffett didaulat sebagai orang terkaya di dunia oleh majalah Forbes. Mengalahkan kekayaan sahabatnya, Bill Gates. Yang sudah 13 tahun berturut-turut menjadi orang terkaya di dunia versi majalah Forbes.

Sebuah gelar yang bagi mereka berdua tidak ada artinya. Karena hingga saat ini pun, keduanya masih sering bertemu, mengobrol dan bercengkrama sambil bermain kartu bridge bersama-sama.

Buku The Snowball diterbitkan pertama kali di tahun 2008, itulah sebabnya di buku tersebut, cerita tentang Warren Buffett berhenti sampai disini.

Ketika artikel ini ditulis (Mei 2020), harga saham Berkshire Hathaway (BRK-A) sudah mencapai $265.000 per lembar saham. Bayangkan selembar (bukan satu lot, tapi satu LEMBAR!) saham yang nilainya setara dengan rumah mewah seharga Rp.3,9 milyar!

Dan Warren Buffett masih bertahan di 3 besar (Top 3) deretan orang-orang terkaya di dunia.