Start Here!

Oke. Sebelum kita membahas tentang trading, tentang investasi, atau bahkan tentang FAKTOR-X dan Bandar Saham. Ada baiknya kita samakan persepsi terlebih dahulu.

Karena kemungkinan besar, IDXchart.com bukanlah website yang pertama kali Anda baca, untuk mengetahui tentang rahasia profit konsisten di bursa saham.

Di luar sana, ada banyak sekali website, buku, bahkan para “pakar saham”. Yang semuanya menjanjikan kunci sukses dalam trading dan investasi saham.

Tapi sayangnya, meskipun informasi yang beredar cukup banyak, namun informasi-informasi tersebut ternyata banyak keliru, sepotong-sepotong, dan penjelasannya tidak lengkap.

Akibatnya adalah jadi banyak informasi yang kelihatannya bertentangan dan tidak sinkron. Dan ini membuat banyak sekali trader dan investor kebingungan. Terutama para pemula.

Contoh misalnya: Mana yang lebih baik? Analisis teknikal atau analisis fundamental?

Analisis Teknikal vs. Analisis Fundamental

Salah satu perdebatan yang tidak kunjung selesai adalah tentang metode analisis terbaik untuk trading dan investasi di Bursa Saham.

Ada yang bilang, kalau kita mau investasi, gunakanlah analisis fundamental. Sedangkan kalau kita mau trading, gunakan analisis teknikal.

Anggapan ini cuma separuhnya benar! Kenapa?

Karena sebentar lagi Anda akan tahu, bahwa analisis fundamental dan analisis teknikal sebenarnya sejalan dan selaras.

Bahkan kita boleh menggabungkan keduanya sekaligus, tidak peduli apakah kita trading atau investasi!

Lalu ada lagi yang bilang, untuk jangka panjang, gunakan analisis fundamental. Untuk jangka pendek, gunakan analisis teknikal.

Ini pun cuma separuhnya yang benar! Kenapa juga?

Karena faktanya, dalam analisis teknikal kita mengenal tiga jenis trend. Yaitu: trend jangka pendek, trend jangka menengah, dan trend jangka panjang.

Sehingga kita sebenarnya juga boleh menggunakan analisis teknikal untuk investasi jangka panjang!

Kemudian ada lagi anggapan, gunakan analisis fundamental untuk memilih sahamnya. Lalu gunakan analisis teknikal untuk menentukan kapan waktu yang tepat untu membeli dan menjual.

Sekilas memang kedengarannya bagus. Tapi kalau kita sudah mengerti tentang FAKTOR-X, maka kita akan tahu tentang satu hal yang sangat krusial.

Bahwa percuma memilih saham berfundamental bagus, kalau tidak ada FAKTOR-X yang mendukung. Saham tanpa FAKTOR-X tidak akan bergerak kemana-mana.

Persis seperti ratusan saham di Bursa Efek Indonesia. Yang fundamental perusahaannya sangat bagus, tapi harganya tidak naik (dan tidak turun) selama bertahun-tahun.

Lalu buat apa kita membeli saham (yang meskipun bagus), tapi harganya tidak kunjung naik? Iya kan?!

Inilah pentingnya mendapatkan informasi yang lengkap dan benar. Sehingga kita dapat mengambil keputusan trading dan investasi dengan bijak, dan memperoleh profit konsisten dari bursa saham.

Untuk itulah makanya sekarang, kita akan mulai dari hal-hal yang mendasar dulu. Hal-hal yang tidak dibahas oleh kebanyakan “pakar saham” di luaran sana.

Kita akan mulai dari…

Sebenarnya Saham Itu Apa?

Gampangnya, saham adalah bukti kepemilikan kita terhadap sebuah perusahaan. Selembar saham adalah secuil kepemilikan kita di perusahaan itu.

Katakanlah misalnya kita punya 1 lot (100 lembar) saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Itu artinya secuil Bank Rakyat Indonesia (BBRI) adalah milik kita.

Ini adalah hal paling mendasar, tapi yang justru paling sering dilupakan oleh banyak orang.

Saham bukan sekedar kode 4 huruf, yang diperjualbelikan dengan nilai dan harga tertentu.

Karena di balik setiap saham, ada perusahaan yang nyata. Di balik setiap kode saham, ada perusahaan yang memiliki aset, karyawan, juga supplier, dan customer.

Kalau kita membeli saham, itu artinya kita membeli perusahaan. Beli saham bukan seperti beli togel atau nomor undian!

Apa (Atau Siapa) yang Menentukan Harga Saham?

Karena membeli saham adalah membeli perusahaan, maka artinya harga saham tersebut tergantung dari kualitas perusahaan yang ada di baliknya.

Ini tidak jauh berbeda dengan kalau kita hendak membeli barang lainnya. Misalnya katakanlah seperti kalau kita hendak membeli sebuah Handphone.

(Oke! Menyamakan beli Handphone dengan beli saham memang bukan analogi yang sempurna. Tapi coba diikuti saja dulu alurnya!)

Di pasaran ada banyak merk Handphone, dengan beragam kualitas dan spesifikasi. Semakin bagus kualitasnya, semakin tinggi spesifikasinya, maka harga Handphone tersebut juga semakin mahal.

Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Handphone dengan kualitas rendah, dan spesifikasi level bawah, maka harga Handphone tersebut juga akan murah.

Saham juga sebenarnya seperti itu.

Di Bursa Efek Indonesia, ada beragam saham dan perusahaan, dengan beragam kualitas dan spesifikasi. Dan spesifikasi sebuah saham, tertuang dalam apa yang disebut: Laporan Keuangan.

Jadi, kalau Anda membaca laporan keuangan sebuah perusahaan, maka Anda sedang membaca spesifikasi perusahaan tersebut. Sesederhana itu.

Apa Itu Bursa Saham?

Kalau misalnya Handphone dijual di toko Handphone, maka saham juga diperjualbelikan di sebuah tempat yang disebut Bursa Saham, atau yang juga dikenal sebagai: Pasar Modal.

Seperti namanya, Pasar Modal adalah tempat khusus dimana perusahaan-perusahaan mencari modal (dana), untuk membiayai kegiatan usahanya.

Tentu saja, tidak semua perusahaan bisa dengan bebas mencari modal di Pasar Modal. Hanya perusahaan-perusahaan tertentu saja yang diperbolehkan. Perusahaan-perusahaan inilah yang disebut: Perusahaan Terbuka (Tbk).

Siapa Saja yang “Bermain” Disini?

Jika umumnya perusahaan skala kecil dan menengah, mencari modal (dana) dengan cara meminjam uang ke Bank. Namun di Pasar Modal, skemanya agak sedikit berbeda.

Di Pasar Modal, Perusahaan-perusahaan Terbuka (Tbk) tersebut, mencari dana dengan cara menjual sahamnya, atau menjual surat hutang (obligasi).

Jadi pada umumnya, Perusahaan-perusahaan Terbuka tersebut, mereka tidak berhutang ke bank. Atau kalau berhutang ke bank, biasanya nilainya kecil sekali.

Bahkan Bank-bank besar (yang sudah menjadi Perusahaan Terbuka), juga mencari dana dengan cara menjual saham dan obligasinya ke Pasar Modal.

Dana yang didapatkan oleh Bank-bank tersebut dari Pasar Modal, kemudian dipinjamkan lagi ke perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Atau dipinjamkan dalam bentuk kredit rumah, kredit mobil, kredit tanpa agunan, dst.

Lalu siapa yang membeli saham dan obligasi tersebut?

Yang membeli adalah investor Pasar Modal. Entah itu investor retail seperti kita-kita ini. Atau investor institusi seperti Reksadana, Dana Pensiun, Perusahaan asuransi, Hedge Fund, dsb.

Kenapa Harga Saham Bisa Naik/Turun?

Bedanya antara membeli saham dengan membeli Handphone adalah, spesifikasi Handphone tidak akan berubah. Sedangkan spesifikasi perusahaan justru SELALU berubah.

Harga Handphone cenderung stabil, karena spesifikasinya tidak berubah. Handphone yang lebih canggih, akan selalu lebih mahal daripada Handphone yang kurang canggih.

Sedangkan perusahaan tidak begitu. Spesifikasi perusahaan SELALU berubah. Itulah sebabnya, harga saham juga SELALU berubah-ubah.

Dengan membaca laporan keuangan perusahaan, dari tahun ke tahun, kita dapat mengetahui bagaimana perubahan spesifikasi perusahaan tersebut.

Apakah spesifikasi perusahaan tersebut meningkat? Apakah perusahaan spesifikasi perusahaan tersebut semakin menurun? Atau malah tidak banyak berubah?

Dan perubahan harga saham akan menyesuaikan dengan perubahan spesifikasi perusahaan tersebut. Yang sekali lagi, dapat kita ketahui dari membaca laporan keuangan.

Ketika Harga Tidak Sesuai Spesifikasi

Sampai disini, mari kita rangkum sedikit, apa-apa saja yang sudah kita ketahui.

Pertama, kita tahu bahwa membeli saham adalah membeli perusahaan. Membeli saham bukan seperti membeli togel atau nomor undian.

Kedua, kita tahu bahwa harga saham tergantung dari spesikasi perusahaannya. Dan spesifikasi tersebut dapat kita ketahui dari laporan keuangan.

Ketiga, kita juga tahu bahwa spesifikasi perusahaan SELALU berubah dari waktu ke waktu. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun.

Itulah sebabnya harga saham juga ikut berubah, mengikuti perubahan spesifikasi perusahaannya.

Perusahaan yang spesifikasiya semakin bagus, maka harga sahamnya akan naik. Sedangkan perusahaan yang spesifikasinya semakin jelek, maka harga sahamnya akan semakin turun.

Sekarang pertanyaannya adalah: Kenapa ada perusahaan yang spesifikasinya bagus, tapi harga sahamnya malah turun?

Lalu kenapa perusahaan yang spesifikasinya jelek, tapi harga sahamnya malah naik?

Nah, disinilah dimana FAKTOR-X berperan. Mari kita bahas…

SILAKAN KLIK DISINI!