The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett (Bag. 2) - Masa-masa di Bangku Kuliah

The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett adalah artikel berseri yang disadur dan dirangkum dari buku yang berjudul sama, The Snowball: Warren Buffett And The Business of Life. Sebuah biografi Warren Buffett yang ditulis oleh Alice Schroeder.

Kalau Anda tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 800 halaman (versi Bahasa Inggris), semoga artikel berseri ini dapat membantu Anda mendapatkan poin-poin utama dan intisari dari buku tersebut.

Untuk membaca bagian sebelumnya...

Kehidupan Universitas Warren Buffett

Meskipun Warren Buffett merasa bahwa pendidikan di universitas hanya akan memperlambat langkahnya menuju sukses, namun pada akhirnya beliau memutuskan untuk berkuliah di Wharton Business School.

Sebuah universitas yang sangat terkenal dan presitius. Beliau satu almamater dengan Donald Trump, Elon Musk, Peter Lynch dan sejumlah nama-nama tenar lainnya di dunia bisnis dan keuangan.

Selama berkuliah di Wharton, Warren Buffett tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti. Selain karena beliau memiliki passion di bidang bisnis dan keuangan, Warren Buffett juga sangat menyukai angka-angka dan hitung-hitungan.

Bahkan selama berkuliah, Warren Buffett masih menyempatkan diri untuk mengurusi sejumlah bisnisnya yang terus berkembang.

Warren Buffett Ditolak oleh Harvard Business School

Warren Buffett lulus dari Wharton pada musim semi 1950. Meskipun ia ingin secepatnya bisa bekerja dan mencari uang, namun pada akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan meraih gelar Master.

Untuk itu, Warren Buffett mendaftarkan diri ke Harvard Business School. Namun sayangnya, pendaftaran tersebut ditolak oleh pihak kampus tanpa alasan yang jelas.

Mungkin karena saat itu Warren Buffett baru berusia 19 tahun, dan dianggap terlalu muda untuk menjadi mahasiswa S2. Sesuatu yang kedengaran aneh di zaman sekarang. Namun di tahun 1950, situasi dan kondisinya mungkin agak berbeda.

Setelah mempertimbangkan penolakan dari Harvard Business School tersebut, Warren Buffett memutuskan untuk move on, melanjutkan hidup dan mencari alternatif kampus yang lain.

Warren Buffett Menemukan Apa yang Beliau Cari

Ketika sedang melihat-lihat katalog dari Columbia University, Warren Buffett menemukan 2 nama yang sangat familiar bari beliau. Yaitu: Benjamin Graham dan David Dodd.

Benjamin Graham dan David Dodd adalah 2 orang penulis buku Security Analysis. Sebuah buku yang kala itu dianggap sebagai "kitab suci"-nya para analis keuangan (Financial Analyst).

Buku yang lebih terkenal di Indonesia, The Intelligent Investor, sebenarnya adalah versi "orang awam" dari buku Security Analysis.

"These were big names to me. I'd just read Graham's book but I had no idea he was teaching at Columbia."

- Warren Buffett

"Dua nama tersebut (Benjamin Graham dan David Dodd) adalah nama yang sangat penting bagi saya. Saya baru saja selesai membaca bukunya Benjamin Graham. Tapi saya tidak tahu bahwa ternyata dia mengajar di Columbia."

Tanpa pikir panjang lagi, Warren Buffett langsung mendaftarkan diri dan diterima di Columbia University.

Kehidupan Kampus Warren Buffett

Di hari pertamanya kuliah di kelasnya David Dodd, Warren Buffett berhasil membuat dosennya itu terkesan. Karena Warren Buffett sudah selesai mempelajari textbook wajib di mata kuliah tersebut: Security Analysis.

"The truth was that I knew the book even better than Dodd. I could quote from any part of it. At that time, literally, almost in those whole seven or eight hundred pages, I knew every example. I had just sopped it up. An you can imagine the effect that would have on the guy, that somebody was that keen on his book."

- Warren Buffett

"Sebenarnya saya tahu buku itu lebih daripada David Dodd. Saya dapat mengutip dari bagian manapun. Pada saat itu, secara harafiah, hampir seluruhnya dari 700-800 halaman buku tersebut, saya tahu setiap contoh kasusnya. Anda dapat bayangkan dampaknya pada beliau, bahwa ada orang yang benar-benar tahu buku yang dia tulis."

Saham Value Investing Pertama Warren Buffett

Terinspirasi dari apa yang telah beliau pelajari, dan didorong oleh passion yang luar biasa. Warren Buffett mulai menghadiri RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) perusahaan-perusahaan yang beliau beli sahamnya.

Beliau juga semakin rajin membaca dan mempelajari tulisan-tulisan dari Benjamin Graham. Dari situlah beliau tahu, bahwa Benjamin Graham adalah Komisaris Utama dari perusahaan yang disebut GEICO (Government Employees Insurance Company).

Perusahaan ini menjual asuransi kendaraan bermotor dengan sistem mail order, tanpa agen asuransi. Sebuah model bisnis yang sangat revolusioner pada waktu itu.

Lebih jauh lagi, GEICO hanya menjual asuransi ke para Pegawai Negeri Sipil di Amerika Serikat. Sebuah segment pasar yang isinya adalah orang-orang yang bertanggung jawab dan taat hukum.

Artinya, kendaraan bermotor yang diasuransikan oleh GEICO relatif lebih aman dari kecelakaan akibat kecerobohan dan perilaku ugal-ugalan. Sehingga klaim asuransi akan sangat minimal.

Semakin dalam Warren Buffett mempelajari GEICO, semakin tertarik pula beliau dengan perusahaan ini. Warren Buffett sangat yakin bahwa ini adalah perusahaan yang tidak mungkin rugi.

Sangking yakinnya, Warren Buffett menjual 75% saham-saham yang ada di portfolionya, dan langsung membeli saham GEICO di harga $42 per lembar.

Warren Buffett Mendapatkan Pelajaran dari Sang Mentor

Selain menghadiri kelasnya David Dodd, Warren Buffett juga mengikuti kelasnya Benjamin Graham dengan mata kuliah Valuasi Saham Biasa (Common Stock Valuation). Lagi-lagi Warren Buffett sangat menonjol di mata kuliah ini, karena beliau sudah habis membaca buku dari dosennya, jauh sebelum beliau diterima sebagai mahasiswa di Columbia!

Mata Kuliah dari Benjamin Graham berfokus pada tiga prinsip utama.

Pertama, sebuah saham adalah bagian dari kepemilikan kita terhadap perusahaan tersebut. Dan harga saham mencerminkan harga perusahaan itu. Saham bukan sekedar kertas sertifikat. Dan harga saham bukan sekedar angka yang tidak ada artinya.

Kedua, dalam investasi selalu ada unsur risiko dan ketidakpastian. Itulah sebabnya kita harus selalu mempunyai Margin of Safety. Margin of Safety adalah "ruang gerak" kalau-kalau nanti misalnya kita salah dalam menilai harga wajar perusahaan tersebut.

Ketiga, keadaan market sangat tergantung pada mood dan persepsi. Dan pergerakan market jangan sampai mempengaruhi penilaian kita terhadap suatu perusahaan. Akan ada saat-saat dimana kita dapat membeli saham yang bagus dengan harga yang murah (yang kebetulan harganya turun karena kondisi ekonomi yang kurang kondusif). Manfaatkanlah saat-saat seperti ini!

Warren Buffett Ditolak di Pekerjaan Impiannya

Pada akhirnya, meskipun Warren Buffett berhasil meraih nilai tertinggi dalam kelasnya. Namun Benjamin Graham menolak untuk menerima Warren Buffett bekerja di perusahaannya, Graham-Newman Corporation.

Penolakan yang sangat menohok bagi Warren Buffett. Yang sudah sedari awal bercita-cita untuk bekerja dengan mentor idolanya tersebut. Namun pada akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk move on, melanjutkan hidup dan pulang ke kampung halamannya di Omaha.

Warren Buffett berpikir, seandainya memang pekerjaan impiannya di New York tidak tercapai, maka lebih baik beliau kembali ke Omaha dan bekerja sebagai pialang saham (stockbroker) di kantor ayahnya.

Rahasia Kesuksesan Warren Buffett yang Sebenarnya

Boleh dikatakan, The Snowball adalah salah satu buku yang merubah hidup saya. Karena dari buku ini, saya belajar tentang rahasia kesuksesan Warren Buffett yang sebenarnya.

Rahasia yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Rahasia yang tidak banyak dibicarakan oleh "para pakar" di luaran sana. Dari artikel ini saja, mungkin Anda sudah bisa mengira-ngira apa rahasia tersebut.

Namun jika Anda ingin tahu lebih lanjut, saya sudah buatkan video khusus. Dimana kita akan bahas semuanya (termasuk logika dibalik strategi investasinya)…