The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett (Bag. 3) - Awal Karir dan Masa Muda

The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett adalah artikel berseri yang disadur dan dirangkum dari buku yang berjudul sama, The Snowball: Warren Buffett And The Business of Life. Sebuah biografi Warren Buffett yang ditulis oleh Alice Schroeder.

Kalau Anda tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 800 halaman (versi Bahasa Inggris), semoga artikel berseri ini dapat membantu Anda mendapatkan poin-poin utama dan intisari dari buku tersebut.

Untuk membaca bagian sebelumnya...

Warren Buffett Mengawali Karir sebagai Pialang Saham

Ketika Warren Buffett kembali ke Omaha, pada akhir tahun 1951, beliau telah mengembangkan investasinya hingga lebih dari dua kali lipat!

Dari yang semula $9.804, ketika beliau baru mulai kuliah di Columbia University. Menjadi $19.738 ketika Warren Buffett lulus dari universitas tersebut, dan mendapatkan gelar Master dalam bidang Ekonomi.

Karena sangat yakin dengan kemampuan analisis dan investasinya, Warren Buffett bekerja di perusahaan sekuritas milik ayahnya sebagai seorang pialang saham (stockbroker).

Lebih jauh lagi, Warren Buffet juga sangat optimis, bahwa bursa saham akan segera naik, dan perekonomian akan segera pulih. Untuk itu, Warren Buffett mengajukan pinjaman sebesar $5.000 dari Omaha National Bank, dan menggunakan hutang tersebut untuk membeli lebih banyak saham GEICO.

Yang tidak banyak diketahui orang-orang adalah, ternyata Warren Buffett tidak menyukai pekerjaannya sebagai pialang saham (stockbroker).

Warren Buffett merasa sangat frustrasi. Karena kebanyakan orang malas melakukan analisis yang mendalam terhadap saham-saham yang akan mereka beli. Apa lagi kalau mereka memaksa membeli saham-saham yang sebenarnya menurut beliau perusahaan jelek, tapi para klien dan investornya sangat ngotot karena telah mendapatkan "info".

Tapi meskipun Warren Buffett mulai membenci pekerjaannya, ternyata kehidupan pribadi beliau boleh dibilang sukses. Karena beliau menikahi gadis pujaan hatinya, Susan Thompson, pada tanggal 19 April 1952.

Puluhan tahun kemudian, ketika diwawancara oleh majalah Forbes, Warren Buffett menceritakan bahwa memilih pasangan hidup, dan menikahi Susan (istrinya), adalah keputusan paling penting dalam hidup beliau.

Akhirnya Warren Buffett Bekerja Bersama Benjamin Graham

Keadaan mulai berubah, ketika Warren Buffett menerima panggilan dari mentornya, Benjamin Graham. Yang mengajak beliau untuk bergabung di perusahaannya, Graham-Newman Corporation.

Sebuah tawaran yang tidak mungkin ditolak oleh seorang Warren Buffett. Untuk bekerja bersama mentor idolanya. Ajakan tersebut langsung beliau terima saat itu juga.

Bahkan sangking antusianya, Warren Buffett sudah masuk kerja pada tanggal 2 Agustus 1954. Atau kira-kira sebulan sebelum masa kerja resmi yang tertera di surat kontrak kerjanya.

Warren Buffett adalah karyawan Graham-Newman Corporation yang ke delapan.

Gaya Investasi Benjamin Graham

Benjamin Graham ternyata punya gaya investasi yang sedikit unik dan agak berbeda (pada masa itu).

Beliau fokus untuk mencari saham-saham yang disebutnya "saham puntung rokok". Yaitu saham-saham yang murah, dan yang sudah "habis dihisap dan dibuang" oleh para investor lain. Padahal saham-saham tersebut sebenarnya masih bagus dari segi value investing.

Prinsip dasar dibalik strategi investasinya adalah: Kalau harga sahamnya (dan total kapitalisasi pasarnya), lebih murah daripada total aset perusahaan tersebut, maka beliau dapat memperoleh keuntungan.

Terus terang saja, mencari saham yang kapitalisasi pasarnya lebih murah daripada nilai total asset-nya adalah hal yang nyaris mustahil di Bursa Efek Indonesia.

Kalau pun ada saham seperti itu, biasanya adalah saham-saham yang manajemennya bermasalah, perusahaannya terlilit hutang, dan terancam pailit. Jauh dari kata bagus dari segi value investing!

Jadi, strategi "saham puntung rokok" tidak dapat kita jalankan di zaman sekarang ini. Namun di tahun 1950-an, ketika belum banyak orang yang paham tentang analisis keuangan, strategi Benjamin Graham tersebut bisa berhasil.

Hal lain yang membedakan filosofi investasi antara Benjamin Graham dan Warren Buffett adalah tentang strategi diversifikasi.

Benjamin Graham adalah seseorang yang sangat percaya dengan strategi diversifikasi. Beliau selalu membeli saham dalam jumlah yang sedikit-sedikit, tetapi di banyak perusahaan sekaligus.

Ini adalah pemikiran yang sangat aneh, dan tidak dapat dipahami oleh seorang Warren Buffett. Karena mencari saham-saham yang bagus dan murah sangat sulit. Saham-saham seperti itu sangat langka.

Dan kalau kita sudah yakin, bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan bagus (dan sahamnya murah), lalu kenapa belinya cuma sedikit? seharusnya kita membeli sebanyak-banyaknya!

Namun ketika itu Warren Buffett adalah seorang "anak kemarin sore". Sehingga beliau tidak berani membantah mentor idolanya tersebut.

Pelajaran Penting Langsung dari Benjamin Graham

Selama bekerja di Graham-Newman, Warren Buffett banyak memetik pelajaran tentang strategi dan pengelolaan investasi.

Salah satunya adalah tentang konsep Opportunity Cost of Money. Yang beliau pelajari dari pengalaman menjual saham GEICO, karena Warren Buffett telah menemukan sebuah perusahaan yang luar biasa murah.

Perusahaan ini mencatatkan laba per saham (Earning per Share) hingga $29. Sementara harga sahamnya hanya $3 pada saat itu.

Dari satu pengalaman tersebut, Warren Buffett juga belajar tentang prinsip alokasi modal (Capital Allocation). Dimana kita harus selalu siap untuk menaruh modal kita di tempat dimana terdapat potensi keuntungan yang paling tinggi.

Tentu saja yang dipelajari oleh Warren Buffett selama bekerja di Graham-Newman tidak melulu soal uang dan investasi. Mentornya, Benjamin Graham, juga memberikan berbagai pelajaran hidup dan diskusi-diskusi yang agak filosofis.

"“One time we were waiting for an elevator. We were going to eat in the cafeteria down at the bottom of the Chanin Building at Fifty-Second and Lex. And Ben said to me, ‘Remember one thing, Warren: Money isn’t making that much difference in how you and I live. We’re both going down to the carfeteria for lunch and working every day and having a good time. So don’t worry too much about money, because it won’t make much difference in how you live’.”

– Warren Buffett

"Suatu ketika, kami sedang menunggu lift. Kami sedang bersiap untuk istirahat makan siang di sebuah kafetaria di lantai dasar Chanin Building (kantor Graham-Newman Corporation). Dan Ben berkata kepada saya: 'Warren, uang sebenarnya tidak membuat kehidupanmu dan kehidupanku berbeda. Kita masih saja makan di kafetaria yang sama, bekerja di kantor yang sama dan bersenang-senang bersama. Maka jangan terlalu khawatir tentang uang, karena pada akhirnya kehidupan kita juga tidak jauh berbeda'."

Pondasi Utama Strategi Investasi Warren Buffett

Ada beberapa pelajar penting yang didapat oleh Warren Buffett selama bekerja di Graham-Newman. Prinsip-prinsip kunci yang menjadi pondasi utama strategi bisnis dan investasi beliau.

Pertama, tentang bagaimana cara melakukan transaksi arbitrase. Yaitu ketika kita menjual dan membeli saham yang sama, di waktu yang sama sekaligus.

Di Bursa Efek Indonesia, transaksi arbitrase biasanya dilakukan oleh para market maker. Dimana mereka meng-input Bid dan Offer sekaligus, dan mendapatkan keuntungan dari selisih fraksi.

Strategi ini sebenarnya profit-nya sangat, sangat kecil. Hanya sebesar selisih antara harga Bid dan harga Offer. Tapi karena dilakukan berkali-kali, dan dengan modal yang besar, maka total keuntungannya juga lumayan.

Kedua, Warren Buffett belajar untuk selalu melihat sebuah transaksi saham dari sudut pandang si penjual (seller's point-of-view). Kenapa dia menjual sahamnya, dan apa alasan sebenarnya di balik itu?

Kemudian lakukan analisis secara mendalam. Apakah lebih untung jika kita menjadi pembeli dan menampung saham tersebut. Atau malah lebih untung kalau kita ikut menjual dan ikut buang barang juga?

Ketiga, Warren Buffett diajarkan untuk selalu melihat selembar saham sebagai bagian dari sebuah perusahaan secara keseluruhan. Selembar saham bukan sekedar selembar kertas abstrak tanpa nilai.

Keempat, kita sebenarnya bisa mendapatkan perusahaan bernilai tinggi, yang sahamnya luar biasa murah. Selama kita rajin "mengerjakan PR" kita, melakukan analisis, dan menemukan aset tersembunyi yang luput dari perhitungan banyak orang.

Kelima, adalah penting untuk mengenali orang-orang yang duduk di jajaran manajemen sebuah perusahaan (yang sahamnya kita miliki). Sehingga kita dapat mengetahui apa kira-kira yang akan mereka lakukan di masa depan.

Ditunjuk Sebagai Pengganti Benjamin Graham

Karir Warren Buffett begitu cemerlang, sehingga beliau dengan cepat menjadi bintang di Graham-Newman. Dan kedua atasannya, Benjamin Graham dan Jerry Newman, mulai memperlakukan Warren Buffett lebih sebagai seorang partner dan rekanan, ketimbang sekedar karyawan biasa.

Itulah sebabnya ketika Benjamin Graham dan Jerry Newman, mengumumkan rencana mereka untuk pensiun dari dunia keuangan, Warren Buffett mendapatkan tawaran untuk menggantikan posisi mereka di perusahaan tersebut.

Meskipun tentu saja Warren Buffett sangat tersanjung, dan merasa mendapatkan kehormatan. Namun Warren Buffett bergabung di perusahaan tersebut untuk belajar dari Benjamin Graham.

Kalau Benjamin Graham memutuskan untuk berhenti dan pensiun, maka Warren Buffett sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap bekerja disana.

Apa lagi Warren Buffett sebenarnya tidak begitu menyukai kehidupan di kota New York. Beliau lebih menyukai kehidupan di kampung halamannya di Omaha. Yang jaraknya sekitar 2000 km, dan makan waktu 12 jam perjalanan dengan kereta.

Selain itu, Warren Buffett juga merasa tidak cocok untuk bekerja bersama orang lain (kecuali Benjamin Graham, yang dianggapnya sebagai mentor, bukan sekedar atasan dan rekan kerja).

Pada akhirnya Warren Buffett menolak tawaran untuk memimpin Graham-Newman Corporation, dan memutuskan untuk kembali ke Omaha.

“I had about $174,000, and I was going to retire. I rented a house at 5202 Underwood in Omaha for $175 a month. We’d live on $12,000 a year. My capital would grow.”

– Warren Buffett

"Saya memiliki sekitar $174.000 dan berniat untuk pensiun dini. Saya menyewa sebuah rumah di Omaha, yang biaya sewanya $175 per bulan. Biaya hidup kami hanya $12.000 per tahun. Modal saya akan berkembang."

Warren Buffett Mendirikan Buffett Associates

Sekembalinya dari New York, di Omaha, Warren Buffett langsung mendirikan sebuah Hedge Fund. Dimana beliau akan mengelola dana milik para klien, dengan imbalan sejumlah fee.

Warren Buffett hanya mengundang saudara, teman dan orang-orang terdekat untuk bergabung dalam Hedge Fund tersebut. Tujuannya supaya mereka tidak terlalu kritis ketika market sedang turun.

Hedge Fund tersebut diberi nama Buffett Associates.

Berkat reputasinya di dunia keuangan, dan rekomendasi dari Benjamin Graham. Pada tanggal 1 Oktober 1956, Warren Buffett mengelola lebih dari setengah juta dollar dengan Hedge Fund yang baru didirikannya.

Cara Warren Buffett mengelola Hedge Fund ini pun terbilang unik (pada saat itu). Beliau mengetik surat-suratnya sendiri, membuat akuntansi laporan keuangan, melakukan riset dan analisisnya sendirian, bahkan beliau sendiri yang menyetor dividen yang diterimanya, ke Omaha National Bank. Benar-benar one-man-show!

Rahasia Kesuksesan Warren Buffett yang Sebenarnya

Boleh dikatakan, The Snowball adalah salah satu buku yang merubah hidup saya. Karena dari buku ini, saya belajar tentang rahasia kesuksesan Warren Buffett yang sebenarnya.

Rahasia yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Rahasia yang tidak banyak dibicarakan oleh "para pakar" di luaran sana. Dari artikel ini saja, mungkin Anda sudah bisa mengira-ngira apa rahasia tersebut.

Namun jika Anda ingin tahu lebih lanjut, saya sudah buatkan video khusus. Dimana kita akan bahas semuanya (termasuk logika dibalik strategi investasinya)…