The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett (Bag. 4) - Sejarah Berkshire Hathaway

The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett adalah artikel berseri yang disadur dan dirangkum dari buku yang berjudul sama, The Snowball: Warren Buffett And The Business of Life. Sebuah biografi Warren Buffett yang ditulis oleh Alice Schroeder.

Kalau Anda tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 800 halaman (versi Bahasa Inggris), semoga artikel berseri ini dapat membantu Anda mendapatkan poin-poin utama dan intisari dari buku tersebut.

Untuk membaca bagian sebelumnya...

Warren Buffett Bertemu Charlie Munger

Pada tahun 1957, dana kelolaan Warren Buffett menghasilkan keuntungan 10%. Padahal pada saat itu, market secara keseluruhan sedang turun 8%.

Dari kinerja tersebut, Warren Buffett mendapatkan fee sebesar $83.085, yang diinvestasikannya kembali ke dalam dana kelolaan, untuk memperbesar porsi kepemilikannya menjadi 9,5%.

Warren Buffett memiliki beberapa kemitraan dan kontrak pengelolaan dana, yang kesemuanya cukup sukses dan berhasil. Dari hari ke hari, semakin banyak orang yang tertarik untuk berinvestasi dan menitipkan dananya kepada beliau.

Salah satu mitra investasinya, menyarankan agar Warren Buffett bertemu dengan seorang pengacara di Los Angeles, bernama Charlie Munger. Orang yang kelak menjadi tangan kanan beliau.

Warren Buffett dan Charlie Munger pertama kali bertemu untuk makan siang di Omaha Club, pada tahun 1959. Dan keduanya langsung merasa cocok dan mengobrol seperti dua orang sahabat lama. Sesuatu yang sebenarnya cukup aneh, mengingat keduanya berasal dari latar belakang pekerjaan yang berbeda.

Warren Buffett dan "Corporate Raiding"

Pada tahun 1959, Warren Buffett mengelola kurang lebih satu juta dollar, yang tersebar dalam 7 kemitraan investasi dan dana kelolaan.

Dana sebesar itu (pada waktu itu), cukup bagi Warren Buffett untuk mengejar proyek-proyek investasi yang lebih canggih, rumit, dan sophisticated.

Sekarang, Warren Buffett tidak hanya membeli saham dan duduk diam menunggu harganya naik. Karena dengan dana kelolaan sebesar itu, Warren Buffett dapat membeli saham dalam jumlah yang cukup signifikan, sehingga beliau dapat masuk ke jajaran direksi.

Setelah masuk ke jajaran direksi, Warren Buffett akan melobi manajemen, agar perusahaan tersebut untuk menjual aset-asetnya. Kemudian dana hasil penjualan aset tersebut, dibagi-bagikan kepada para pemegang saham.

Dengan begitu, Warren Buffett dapat langsung mendapatkan keuntungan, tanpa harus menjual saham-saham yang dimilikinya di perusahaan tersebut. Cara seperti ini disebut "Corporate Raid".

Inilah cara Profit Taking yang dilakukan oleh para Hedge Fund manager, sekelas Warren Buffett dan Benjamin Graham. Hal yang tidak dapat dilakukan oleh para investor kecil dan kelas menengah.

Strategi Corporate Raiding jelas sangat jauh dari nilai-nilai value investing. Tapi kenyataannya, tepat itulah yang dilakukan oleh Warren Buffett.

Dengan strategi seperti itu, pada tahun 1960, hanya dalam waktu satu tahun, dana kelolaan Warren Buffett melonjak nyaris dua kali lipat!

Warren Buffett Mendirikan Buffett Partnership Ltd. (BPL)

Pada tanggal 1 januari 1962, Warren Buffett melebur semua dana kelolaan dan kemitraan yang dijalaninya, menjadi satu perusahaan investasi yang diberi nama Buffett Partnership Ltd (BPL).

Total dana kelolaan yang dimiliki oleh BPL ketika itu adalah $7,2 juta. Dan Warren Buffett secara resmi telah menjadi seorang miliarder.

Yang lebih hebatnya lagi, dengan dana kelolaan sebesar itu, Warren Buffett masih bekerja sendirian, one-man-show dan tidak mempunyai karyawan seorang pun!

Di kemudian hari, Warren Buffett memutuskan untuk memiliki sebuah kantor. Belaiu kemudian menggaji seorang sekertaris untuk menangani pekerjaan tulis menulis, dan merekrut seorang analis untuk membantunya mencari peluang investasi baru.

Kiprah Charlie Munger di Dunia Investasi

Selama mengelola perusahaan investasinya, Warren Buffett tetap menjaga hubungan baik dengan Charlie Munger.

Charlie Munger sendiri pada akhirnya melepaskan praktek hukumnya, dan mulai fokus menjadi trader di Pacific Coast Stock Exchange.

Pacific Coast Stock Exchange adalah bursa saham semacam New York Stock Exchange. Namun saham-saham yang diperdagangkan adalah saham-saham third-liner, yang kapitalisasi pasarnya relatif sangat kecil.

Charlie Munger pernah berhutang sebesar $3 juta kepada Union Bank of California, dan uangnya itu digunakan sebagai modal trading!

Untungnya Charlie Munger adalah seorang trader yang sangat piawai dan handal. Sehingga profit yang didapatkan dari hutang sebesar itu, juga menjadi berlipat-lipat.

Warren Buffett dan Saham American Express

Pada bulan November 1963, American Express ikut tersangkut dalam kasus "Salad Oil Scandal". Yang membuat bank tersebut mengalami kredit macet dan kerugian puluhan juta dollar. Hal ini membuat harga saham American Express turun dalam, merosot jauh hingga lebih dari 50%.

Tentu saja, Warren Buffett sebagai seorang investor sejati, tidak melewatkan kesempatan ini begitu saja. Beliau secara agresif membeli dan menampung saham-saham American Express, yang harganya terus merosot dari hari ke hari.

Pada tahun 1963, Warren Buffett telah membeli saham Amex sebesar $ 1,8juta. Dan lebih dari setahun kemudian, meskipun harganya tidak kunjung membaik, Warren Buffett tetap membeli saham Amex.

Pada akhir tahun 1694, kepemilikan saham Amex dalam portfolio Warren Buffett telah meningkat 3 kali lipat, senilai $4,3 juta.

“We diversify substantially less than most investment operations. We might invest up to forty percent of our net worth in a single security under conditions coupling an extremely high profitability that our facts and our reasoning are correct with a very low probability that anything could drastically change the underlying value of the investment”.

– Warren Buffett

"Kami memang melakukan diversifikasi jauh lebih sedikit daripada perusahaan investasi yang lain. Kami bahkan dapat berinvestasi hingga 40% dari nilai total dana kelolaan, hanya di satu saham. Tentu saja dengan catatan jika kami benar-benar yakin bahwa analisis kami benar, dan kemungkinan berubahnya nilai investasi tersebut sangat kecil."

Investasi Warren Buffett di American Express terbukti membuahkan hasil yang sangat memuaskan!

Ketika Warren Buffett mulai membeli saham-saham Amex, harganya masih di bawah $45. Namun selang 2 tahun kemudian, harga saham Amex berangsur-angsur membaik, naik dan mencapai $70 per lembar.

Alhasil, portfolio saham Amex yang dimiliki oleh Warren Buffett melonjak menjadi $13 juta, pada tahun 1965.

Keuntungan dari investasi saham Amex ini membuat dana kelolaan Warren Buffett meningkat menjadi $37 juta. Dan Warren Buffett mengantongi performance fee sebesar $2,5 juta.

Warren Buffett dan Berkshire Hathaway

Keberhasilannya di saham American Express ternyata tidak membuat Warren Buffett berpuas diri. Beliau malah semakin gencar dan agresif memburu perusahaan-perusahaan bagus yang sahamnya dijual murah.

Salah seorang temannya menyarankan Warren Buffett untuk membeli sebuah perusahaan tekstil di Bedford. Perusahaan tersebut dijual dengan harga yang sangat murah, jika dibandingkan dengan total aset yang dimilikinya. Nama perusahaan tersebut: Berkshire Hathaway.

Warren Buffet mulai melakukan analisis dengan seksama. Menurut perhitungan beliau, harga wajar perusahaan ini seharusnya $19,46 per lembar saham. Namun harga sahamnya waktu itu hanya $7,5 saja.

Serasa menemukan harta karun, tentu saja Warren Buffett langsung mengakumulasi saham Berkshire Hathaway secara agresif!

Aksi pembelian saham besar-besaran ini tentu mendapat pertentangan dari pemegang saham mayoritas Berkshire Hathaway, Seabury Stanton. Yang ingin tetap menguasai perusahaan tersebut.

Seabury Stanton bahkan menawarkan untuk membeli porsi kepemilikan Warren Buffett, dengan harga penawaran $11,5 per lembar saham. Di harga tersebut, berarti Warren Buffett sudah mengantongi profit sebesar 66% dari harga awal ketika beliau membeli saham tersebut. Dam tentu saja, Warren Buffett setuju!

Namun ketika surat tender offer resmi sampai di meja Warren Buffett, harga penawaran berubah menjadi $11,375 per lembar saham. Merasa dicurangi dan tidak terima, Warren Buffett marah besar!

Akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk terus membeli dan meningkatkan porsi kepemilikannya di Berkshire Hathaway hingga 49%. Dan pada RUPS tanggal 10 Mei 1965, Warren Buffett menggeser posisi Seabury Stanton sebagai pemimpin perusahaan tersebut.

Pada saat itulah, Warren Buffett resmi menjadi pemegang saham mayoritas di Berkshire Hathaway. Sebuah perusahaan tekstil yang hampir gulung tikar.

Rahasia Kesuksesan Warren Buffett yang Sebenarnya

Boleh dikatakan, The Snowball adalah salah satu buku yang merubah hidup saya. Karena dari buku ini, saya belajar tentang rahasia kesuksesan Warren Buffett yang sebenarnya.

Rahasia yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Rahasia yang tidak banyak dibicarakan oleh "para pakar" di luaran sana. Dari artikel ini saja, mungkin Anda sudah bisa mengira-ngira apa rahasia tersebut.

Namun jika Anda ingin tahu lebih lanjut, saya sudah buatkan video khusus. Dimana kita akan bahas semuanya (termasuk logika dibalik strategi investasinya)…