The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett (Bag. 5) - Perusahaan Non Go Public

The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett adalah artikel berseri yang disadur dan dirangkum dari buku yang berjudul sama, The Snowball: Warren Buffett And The Business of Life. Sebuah biografi Warren Buffett yang ditulis oleh Alice Schroeder.

Kalau Anda tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 800 halaman (versi Bahasa Inggris), semoga artikel berseri ini dapat membantu Anda mendapatkan poin-poin utama dan intisari dari buku tersebut.

Untuk membaca bagian sebelumnya...

Gaya Investasi Warren Buffett yang Tidak Biasa

Pada tahun 1966, Warren Buffett menyadari satu hal. Bahwa saat ini beliau punya masalah baru. Buffett Partnership Ltd (BPL) mengelola total dana $44 juta. Namun beliau kesulitan untuk menemukan sarana investasi yang dapat menampung semua dana kelolaan tersebut.

Pada akhirnya, Warren Buffett memutuskan. Bahwa daripada berinvestasi di saham yang berisiko, lebih baik dana kelolaan yang tidak terpakai, dibiarkan begitu saja dalam bentuk cash (tunai).

Keputusan ini adalah keputusan yang tidak biasa ketika itu. Karena bunga bank pada saat itu begitu rendahnya, sehingga dana kelolaan dalam bentuk cash (uang tunai) ibarat "dana menganggur" yang tidak menghasilkan apa-apa.

Itulah sebabnya kebanyakan Fund Manager akan berusaha agar dana kelolaan mereka diinvestasikan dalam bentuk saham, obligasi maupun surat utang pemerintah (100% fully invested).

Warren Buffett Membeli Perusahaan Privat

Sepanjang dekade 1960-an, Amerika Serikat terlibat dalam Perang berkepanjangan di Vietnam (Vietnam War). Dan pada tahun 1966, rakyat Amerika Serikat sedang gencar-gencarnya mengadakan demonstrasi untuk menolak perang tersebut. Gelombang demonstrasi memuncak di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat.

Sebagai imbasnya, bursa saham juga turun 10% lebih pada tahun tersebut. Meskipun sekilas terlihat bahwa harga saham sedang murah-murahnya, namun Warren Buffett tidak berhasil menemukan perusahaan yang benar-benar layak untuk diinvestasikan.

Karena sulitnya menemukan perusahaan yang bagus pada masa itu, Warren Buffett mulai khawatir dengan performa investasinya sendiri. Karena beberapa tahun sebelumnya, menemukan saham-saham yang bagus relatif mudah. Tapi sekarang, keadaannya jauh berbeda.

Itulah sebabnya Warren Buffett mulai berpikir untuk membeli perusahaan privat (perusahaan yang belum go-public), yang sahamnya tidak bebas ditransaksikan di Bursa Saham.

Akhirnya, pada tahun 1966, Warren Buffett bermitra dengan Charlie Munger dan beberapa investor lainnya, untuk membeli Hothschild-Kohn. Sebuah Department Store di kota Baltimore. Kemitraan tersebut diberi nama Diversified Retailing Company, Inc.

Di sisi lain, perusahaan tekstil yang baru saja dibeli oleh Warren Buffett, Berkshire-Hathaway, ternyata kinerjanya tidak kunjung membaik. Sehingga beliau memutuskan untuk menjual aset perusahaan tersebut satu demi satu.

Pada tahun 1967, Warren Buffett juga menjual sebagian sahamnya di American Express, yang hasilnya digunakan untuk membeli sebuah perusahaan asuransi di Omaha, National Indemnity.

Dan sampai saat ini, National Indemnity masih dimiliki oleh Warren Buffett. Dan sampai sekarang pun National Indemnity bukan perusahaan publik.

Ternyata manuver beliau untuk membeli perusahaan-perusahaan privat (non-go-public), membuahkan hasil yang memuaskan. Akhirnya pada tahun 1967, Warren Buffett mencatatkan profit 36%, dibandingkan dengan Dow Jones yang "hanya" naik 19% di tahun yang sama.

Warren Buffett Berniat Menjual Berkshire Hathaway

Pada pertengahan tahun 1968, Warren Buffett sudah lelah mengurusi Berkshire-Hathaway. Perusahaan ini terus menerus merugi dan sama sekali tidak tampak tanda-tanda perbaikan.

Akhirnya Warren Buffett memutuskan untuk melepas dan menjual perusahaan tersebut. Beliau sudah menawarkan sahamnya ke beberapa investor, termasuk Charlie Munger. Namun mereka semua menolak.

Sebab mereka semua tahu, Warren Buffett tidak mungkin menjual perusahaan yang masih bagus. Inilah salah satu "saham nyangkut" yang dialami oleh Warren Buffett.

Warren Buffet Mengumumkan Pensiun

Sampai tahap ini, Warren Buffett mengelola dana investasi yang begitu besarnya, sehingga sekarang beliau sudah tidak lagi membeli saham-saham biasa.

Warren Buffett lebih suka membeli dan mencaplok seluruh perusahaan itu sekaligus, daripada membeli sebagian sahamnya.

Namun membeli seluruh perusahaan sekaligus, bukanlah hal yang mudah. Karena setelah dibeli, perusahaan itu perlu diurus, manajemennya perlu diawasi, dan operasionalnya perlu dibenahi.

Semakin banyak perusahaan yang dibeli, maka semakin banyak pula perusahaan yang perlu diurus. Bagi seorang Warren Buffett, yang terbiasa menjadi investor pasif, hal ini sangat melelahkan.

Itulah sebabnya pada tahun 1969, Warren Buffett mengumumkan untuk menutup perusahaan investasinya, dan berniat mengembalikan seluruh dana kelolaan kepada investor.

Namun Warren Buffett tidak mau melepaskan tanggung jawab begitu saja. Itulah sebabnya beliau sangat merekomendasikan agar para investor beliau mengalihkan dananya ke Charlie Munger, seseorang sahabat yang (sekarang) telah dikenalnya selama 10 tahun. Dan adalah seorang Fund Manager yang mumpuni.

Warren Buffett benar-benar berniat untuk pensiun dini. Beliau juga menjual Hothschild-Kohn, serta mulai melikuidasi semua aset dan investasi yang dikelola oleh BPL.

Nama Warren Buffett Semakin Terkenal

Pada tahun 1969, majalah Forbes menulis artikel tentang Warren Buffett yang berjudul: "How Omaha Beats Wall Street". Dan tidak berselang lama kemudian, majalah Fortune juga menuliskan artikel yang serupa. Keduanya membeberkan rekam jejak Warren Buffett yang sangat mengesankan.

Setelah menutup perusahaan investasinya, Buffett Partnership Ltd, Warren Buffett memiliki sekitar $16 juta dalam bentuk uang tunai, 18% saham Berkshire Hathaway (perusahaan tekstil), 20% saham Diversified Retailing (perusahaan department store), dan 2% saham Blue Chip Stamps (perusahaan kupon diskon).

Pada tahun 1970, Warren Buffett menggunakan uang tunai yang dimilikinya untuk menambah porsi kepemilikian di tiga perusahaan tersebut. Beliau sekarang memiliki 36% saham Berkhsire Hathaway, 39% saham Diversified Retailing, dan 13% saham Blue Chip Stamps.

Setelah itu, selama beberapa tahun, Warren Buffett bekerja tak kenal lelah untuk membenahi bisnis dan memperbaiki kondisi di Berkshire Hathaway dan Diversified Retailing. Dibantu oleh Charlie Munger, yang fokus membenahi Blue Chip Stamps.

Di tangan keduanya, tiga perusahaan itu dirubah menjadi induk perusahaan (holding company). Dan ketiganya masing-masing menaungi beberapa perusahaan lainnya.

Warren Buffett yang baru saja "pensiun" dari dunia investasi, ternyata malah kembali lagi berinvestasi. Meskipun kali ini bukan dalam bentuk Hedge Fund. Melainkan dalam bentuk induk perusahaan (holding company) yang membeli perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil.

Warren Buffett dan Bisnis Asuransi

Berkshire Hathaway yang tadinya adalah perusahaan tekstil, digunakan sebagai induk perusahaan National Indemnity. Sebuah perusahaan asuransi di Omaha.

Sedangkan Diversified Retailing yang tadinya adalah perusahaan Department Store, digunakan sebagi induk perusahaan Reinsurance Corporation of Nebraska.

Bisnis asuransi adalah model bisnis yang sangat disukai oleh Warren Buffett. Karena premi asuransi yang dibayarkan oleh para nasabah, ibarat aliran dana segar yang terus menerus masuk ke kas perusahaan. Kas inilah yang digunakan oleh Warren Buffett untuk membeli perusahaan-perusahaan berikutnya.

Rahasia Kesuksesan Warren Buffett yang Sebenarnya

Boleh dikatakan, The Snowball adalah salah satu buku yang merubah hidup saya. Karena dari buku ini, saya belajar tentang rahasia kesuksesan Warren Buffett yang sebenarnya.

Rahasia yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Rahasia yang tidak banyak dibicarakan oleh "para pakar" di luaran sana. Dari artikel ini saja, mungkin Anda sudah bisa mengira-ngira apa rahasia tersebut.

Namun jika Anda ingin tahu lebih lanjut, saya sudah buatkan video khusus. Dimana kita akan bahas semuanya (termasuk logika dibalik strategi investasinya)…