The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett (Bag. 7) - Kritik dan Serangan

The Snowball: Kisah Sukses Warren Buffett adalah artikel berseri yang disadur dan dirangkum dari buku yang berjudul sama, The Snowball: Warren Buffett And The Business of Life. Sebuah biografi Warren Buffett yang ditulis oleh Alice Schroeder.

Kalau Anda tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 800 halaman (versi Bahasa Inggris), semoga artikel berseri ini dapat membantu Anda mendapatkan poin-poin utama dan intisari dari buku tersebut.

Untuk membaca bagian sebelumnya...

Warren Buffett Bertemu Bill Gates

Di tahun 1991, saham Berkshire Hathaway kembali melesat dan diperdagangkan di harga $10.000 per lembar saham. Itu artinya, Warren Buffett (di atas kertas) semakin kaya dan kini nilai total kekayaan bersihnya mencapai $4,4 miliar.

Pada tahun yang sama, Warren Buffett bertemu dengan Bill Gates, si pendiri Microsoft. Keduanya bertemu dalam sebuah jamuan makan malam, yang diadakan oleh orang tua Bill Gates (ayah Bill Gates adalah seorang pengacara ternama dan berpengaruh di Amerika Serikat).

Setelah pertemuan itu, keduanya pun menjadi sahabat karib. Meskipun sifat mereka berdua tampak saling bertolak belakang.

Di satu sisi, Bill Gates adalah seorang usahawan. Yang membangun bisnis dan perusahaan dari nol. Sedangkan di sisi yang satunya lagi, Warren Buffett adalah investor yang membeli dan menjual perusahaan. Beliau bukanlah tipe pengusaha yang memulai dari nol.

Itulah yang membuat Bill Gates pada awalnya enggan untuk bertemu dengan Warren Buffett. Bill Gates bahkan sempat menolak untuk bertemu dengan Warren Buffett, dengan alasan bahwa ia sedang sangat sibuk.

Namun orang tua Bill Gates bersikeras agar anaknya itu meluangkan waktu barang sebentar saja. Sekedar untuk menghormati tamu mereka dan menjaga nama baik orang tua.

Jamuan makan malam itu akhirnya menjadi awal dari sebuah sejarah panjang persahabatan antara dua orang terkaya di dunia (ketika itu).

Keduanya amat sangat dekat, hingga di tahun 2010, Warren Buffett bahkan sudah menuliskan "surat wasiat". Bahwa ketika beliau meninggal nanti, 99% kekayaan beliau akan disumbangkan ke yayasan yang didirikan oleh Bill Gates: Bill and Mellinda Gates Foundation.

Warren Buffett Semakin Bertambah Kaya, Tetapi…

Di tahun 1993, harga saham Berkshire Hathaway kembali melesat lebih tinggi. Hanya dalam 2 tahun berselang, harga sahamnya sudah mencapai $18.000 per lembar saham. Dan membuat Warren Buffett didaulat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Status sebagai investor paling kaya di dunia, sebenarnya malah menjadi tantangan tersendiri bagi Warren Buffett. Karena menemukan perusahaan yang bagus untuk diinvestasikan semakin sulit.

Sampai dengan tahun 1994, Warren Buffett masih terus menambah kepemilikan sahamnya di Cocal Cola. Bahkan di tahun yang sama, beliau setuju untuk membeli 100% saham GEICO dengan nilai transaksi mencapai $2,3 milyar.

Di tahun 1995, ketika Netscape melakukan IPO, Warren Buffett menolak untuk berinvestasi. Inilah awal dari salah satu "kenyentrikan" Warren Buffett. Bahwa beliau menolak untuk membeli saham perusahaan teknologi.

Alasannya? Karena Warren Buffett tidak mengerti komputer. Beliau tidak mengerti sisi bisnisnya, dan beliau tidak mengerti bagaimana sebuah perusahaan teknologi dijalankan.

Barangkali satu-satunya perusahaan teknologi yang pernah dibeli oleh Warren Buffett adalah Apple Computer. Itu pun karena Warren Buffett sudah merasakan sendiri bagaimana produk-produk Apple Computer begitu mudah digunakan, dan sangat memanjakan penggunanya.

Warren Buffett Menerbitkan Saham Kelas B (BRK-B)

Di tahun 1996, saham Berkshire Hathaway kembali naik 2 kali lipat hanya dalam waktu 3 tahun. Sekarang harganya sudah mencapai $34.000 per lembar saham.

Harga saham yang begitu tinggi, dan nama besar Warren Buffett, dimanfaatkan oleh banyak perusahaan investasi dan reksadana.

Mereka menciptakan sebuah reksadana saham, dimana saham-saham yang ada di reksadana tersebut adalah saham-saham yang dibeli oleh Warren Buffett. Tentu saja hal ini membuat Warren Buffett sangat kesal.

“I don’t want anybody buying Berkshire thinking they can make a lot of money fast. They’re not going to do it, in the first place. And some of them will blame themselves, and some of them will blame me. They’ll all be disappointed. I don’t want disappointed people. The idea of giving people crazy expectations has terrified me from the moment I started selling stocks”.

– Warren Buffett

"Saya tidak mau ada orang yang membeli saham Berkshire Hathaway, dan berpikir mereka dapat menghasilkan banyak uang dengan cepat. Mereka tidak akan menjadi kaya dengan cara seperti itu. Dan nantinya mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri, atau bahkan menyalahkan saya. Karena mereka akan kecewa. Saya tidak mau mengecewakan orang lain. Bahkan sejak awal, saya sudah takut untuk memberikan orang lain harapan yang tidak masuk akal."

Warren Buffett berpikir, bahwa daripada orang-orang membeli reksadana yang "menumpang" ketenaran dan memanfaatkan nama besar beliau. Sedangkan beliau tidak mengenal siapa-siapa saja orang yang mengelola reksadana tersebut.

Akhirnya pada tahun 1996 Warren Buffett memutuskan untuk menerbitkan saham kelas B (BRK-B). Yang ketika itu harganya 1/30 harga saham kelas A (BRK-A). Dengan begitu, orang-orang yang berminat untuk berinvestasi di Berkshire Hathaway dapat langsung membeli saham BRK-B, tanpa harus beli lewat reksadana.

Keputusan untuk menerbitkan saham kelas B (BRK-B), terbukti ampuh untuk melawan para reksadana "copycat" dan orang-orang yang hendak meniru Warren Buffett.

Tapi anehnya, ketika penerbitan saham BRK-B tersebut diumumkan, Warren Buffett berkata bahwa saham ini (dan saham Berkshire Hathaway) sebenarnya bukan investasi yang bagus.

“Neither Mr. Buffett nor Mr. Munger would currently buy Berkshire shares at that price, nor would they recommend that their friends or families do so.”

– Warren Buffett

"Mr. Buffett dan Mr. Munger tidak akan membeli saham Berkshire di harga itu. Dan mereka juga tidak akan merekomendasikan saham tersebut kepada teman dan keluarganya."

Meski sudah berkata seperti itu, minat para investor bukannya semakin surut. Tapi malah justru semakin antusias.

Dan di tahun 1998, saham Berkshire Hathaway (BRK-A) sudah menembus harga $70.000 per lembar saham. Naik 2 kali lipat dalam waktu 2 tahun sejak penerbitan saham BRK-B.

Perusahaan Warren Bufett Tertimpa Masalah Serius

Di tahun 1999, perusahaan-perusahaan yang dibeli oleh Warren Buffett mengalami banyak masalah yang serius. Ada yang dituduh melakukan penipuan. Ada yang kehilangan pangsa pasar. Ada yang kehilangan orang-orang penting di posisi-posisi kunci.

Tapi yang paling parah adalah, Warren Buffett menerima banyak kritik, tentang ketidaksukaan beliau pada saham-saham perusahaan teknologi. Padahal ketika itu, saham-saham internet sedang naik daun. Beliau pun disebut sebagai orang yang sudah ketinggalan zaman.

Namun Warren Buffett tidak pernah ambil pusing.

"You can’t do well in investing unless you think independently. And the truth is, you are neither right nor wrong because people agree with you. You’re right because your facts and reasoning are right. In the end, that’s what counts."

– Warren Buffett

"Anda tidak dapat berinvestasi dengan baik, kalau Anda tidak mampu berpikir secara independen. Dan sebenarnya, benar atau salah bukan persoalan ada yang setuju atau tidak. Anda benar karena fakta dan logika Anda benar. Bukan karena banyak yang setuju. Itu hal yang paling penting."

Rahasia Kesuksesan Warren Buffett yang Sebenarnya

Boleh dikatakan, The Snowball adalah salah satu buku yang merubah hidup saya. Karena dari buku ini, saya belajar tentang rahasia kesuksesan Warren Buffett yang sebenarnya.

Rahasia yang luput dari perhatian kebanyakan orang. Rahasia yang tidak banyak dibicarakan oleh "para pakar" di luaran sana. Dari artikel ini saja, mungkin Anda sudah bisa mengira-ngira apa rahasia tersebut.

Namun jika Anda ingin tahu lebih lanjut, saya sudah buatkan video khusus. Dimana kita akan bahas semuanya (termasuk logika dibalik strategi investasinya)…